LDR? Lagi. Aku membahas LDR lagi, sebelumnya aku sudah pernah nulis tentang LDR di blog ini. Entah kenapa aku kepikiran untuk nulis tentang ini lagi. Semua dimulai dari tahun ajaran baru.
Tahun ajaran baru? Mungkin banyak yang sudah mengerti apa hubungan antara tahun ajaran baru dengan LDR.
Tahun ajaran baru ==> Sekolah/Kampus baru ==> Tempat tinggal baru ==> LDR :)
Teman-temanku banyak yang baru masuk dunia perkuliahan tahun ini. welcome to the f**king world my friend. Hampir semua dari teman-temanku mengeluh mengenai LDR. Aku mungkin pernah ngerasain apa itu LDR, tapi entah kenapa dulu kayaknya aku ga sebimbang mereka. Mungkin karena bisa dibilang aku ga serius dulu dan masih...yah main-main lah. Kemudian disaat aku mulai serius dengan yang namanya cinta, aku dapat pacar yang satu kota, satu kampus, dan bahkan satu jurusan.
Tapi cukup banyak teman-temanku yang curhat mengenai LDR ke aku, mungkin mereka menganggap aku lebih berpengalaman. Hey guys, aku baru pacaran 2 kali dan ga sebanyak kalian, dari sisi mana kalian menganggap aku berpengalaman?
Jujur, aku juga khawatir dengan LDR. Pacarku yang sekarang punya impian untuk kuliah ke Jerman dan aku tahu itu akan terlaksana dalam waktu dekat. Aku takut aku ga bisa menerima keadaan, aku terbiasa dengan kehadirannya. Mungkin seperti itu juga perasaan teman-temanku yang akan LDR. Kekhawatiran utama mereka, apakah semua akan berjalan seperti dulu. Apakah mereka akan tetap baik-baik saja, apakah ga akan ada yang berkhianat dan dikhianati.
Aku sebenarnya juga ga bisa menjamin semua akan baik-baik saja. Aku bingung bagaimana caranya menyampaikan maksudku ke mereka. Mereka takut jika nanti hubungan mereka berakhir saat mereka sendirian di kota perantauan mereka, mereka akan sangat down dan depresi, mereka juga takut mereka tidak sanggup untuk dikhianati.
Akhirnya sebelum aku bisa menyampaikan maksudku mereka menyimpulkan jangan pernah mencintai seseorang terlalu dalam. Jadi mereka akan sanggup berpisah kapanpun dengan pacar mereka.
Aku terima pendapat itu. Tapi bukankah hidup itu seperti game. Di saat kamu menekan tombol start berarti kamu sudah siap untuk bertarung melawan semua tantangan yang ada. Bukankah sebuah game tidak akan seru kalau sang tokoh hanya perlu berjalan lurus tanpa ada tantangan? Begitu juga hidup. Aku berusaha menganggap pacaran juga adalah game. Aku menekan tombol start dan berusaha mempertahankan tokoh gameku untuk tetap bisa hidup dan meningkat levelnya. Apakah kita pernah berpikir bagaimana jika Game Over saat kita menekan tombol start? Bukankah kita memainkan game itu dengan ikhlas dan bersedia menerima semua hasilnya? Hanya satu yang berbeda, tidak ada tombol restart di kehidupan seperti layaknya game.
LDR memang jelas akan terasa berbeda dengan kondisi pacaran orang lain. Tapi hidup ini tidak hanya berputar di pasangan hidup kan? Kita bisa melakukan banyak kegiatan selain itu.
Menurutku tidak ada salahnya untuk mencintai seseorang dengan begitu dalam, kalau kita berusaha untuk tidak mencintainya agar tidak merasakan sakit. Bukankah itu bukan cinta? Apakah itu sebuah bentuk keikhlasan? Bukankah lebih baik jangan pernah memulai sesuatu tanpa keyakinan dan keikhlasan.
Aku yang sudah terbiasa pergi kemana-kemana dengan pacarku pun mencoba untuk LDR dengan skala kecil, hanya 2 bulan. Kami pulang ke kota masing-masing. AND IT SO INTERESTING. Perasaan saat kamu mendapat telpon setelah lama ga mendengar suaranya, perasaan saat kamu menerima sms darinya. Try it guys :) I believe you will love it. Very love it.
Mungkin quote yang aku kutip dari sebuah sinetron ini juga bagus untuk mereka, teman-temanku yang LDR.
"Jika jarak diciptakan agar kita menghargai rasa rindu maka rasa rindu diciptakan agar kita dapat menghargai waktu"
Belajarlah untuk menerima keadaan. Semua keadaan itu adalah takdir dan takdir akan memberikan akhir yang indah. Jika itu bukan hal indah berarti itu bukanlah sebuah akhir.
Semoga mereka-mereka yang akan LDR atau sedang LDR membaca tulisanku ini. God Bless You All :)

No comments:
Post a Comment