Wednesday, February 14, 2018

Rain

Aku suka hujan, suka banget sama hujan. 

Pernah ga sih kalian merasa seburuk apapun hari kalian, kalian cukup dengan lihat hujan di luar jendela, dan ternyata semua masalah rasanya terselesaikan. Bahkan sekarang cuma menulis tentang hujan sudah membuat perasaanku membaik.


Aku yakin banyak sekali orang diluar sana yang suka hujan, sesuka aku dengan hujan. Buktinya aku menemukan banyak foto-foto hujan di Google, dengan berbagai quote yang intinya membicarakan tentang orang-orang yang menemukan kenyamanan di dalam hujan.

Hari ini hujan, dari tadi pagi sih, bahkan juga hujan salju. Tapi ternyata, aku tetap lebih suka hujan biasa. Hujan air. Suara air yang jatuh ke tanah, ke atap rumah, ke balkon, itu ternyata lebih menyembuhkan ya. Aku selalu tanpa sadar tersenyum setiap mengingat hujan. Suka sekali.

Hujan seringkali membawa suatu hal baik untukku, seperti obrolan tentang hujan dengan seseorang yang berakhir dengan obrolan manis lainnya. Sayang di tempat dia lagi ga hujan. Coba kalau hujan, aku lebih senang. Ya tapi mau gimana lagi. Jauh.

Oh iya. Ada satu lagu juga yang aku suka, dari Sekai no Owari. Judulnya Rain. Artinya....aku lupa hehehe. Bahasa jepang sih, cuma bagus kok. Ngomong-ngomong hujan lagi, jadi aku pernah jalan-jalan, rame-rame, aku liat kubangan air, aku lari, lompat ke kubangan air, terus ternyata nyiprat ke orang-orang. Sahabat aku cekikikan di belakang liat aku panik, bukan cerita yang istimewa sih, tapi entah kenapa aku suka, karena sesudah itu, dia tanya, "Kamu sesuka itu sama hujan ya?". Terus aku jawab "Iya. Suka banget." , terus dia bilang, "Sepatu kamu putih, ga takut basah, atau kotor." Aku cuma ketawa. Dia juga. Terus kita lari nembus hujan, untung cuma rintik-rintik. Aku jadi pengen lari-lari di bawah hujan lagi. Aduh, aku kangen. Kangen hujan. Hahaha. Padahal sekarang lagi hujan.


Aku pernah kepikiran untuk punya anak namanya hujan. Tapi kok setelah dipikir biasanya hujan diasosiasikan orang dengan hal sedih ya, duh kasihan anakku nanti. Terus aku jadi kepikiran anak ku kalau dikasih nama Langit bagus ga ya. Aku mau punya anak dua, yang pertama namanya Langit Pagi, yang kedua Langit Sore. Kenapa langit? Ya karena aku suka banget sama langit. Kenapa ya langit itu bagus banget. Mau langit pagi, langit sore, langit malam. Aku suka. 

Sekarang, hujannya tiba-tiba berhenti. Aku jadi makin kangen hujan. Hujannya kok cepat pergi sih, nanti tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Jadi sedih, jadi pengen hujan cepat datang lagi. Tapi, hujan di musim dingin ini ajaib sih, bukannya  bikin suasana makin dingin, tapi bikin suasana makin hangat, aku jadi makin suka hujan. Kalau hujan datang, bikin suasana jadi tenang, menyenangkan, meski kadang datangnya tiba-tiba, dan awalnya aku suka sebal, soalnya aku jadi ga bisa kemana-mana, jadi malas. Tapi, setelah diingat, oiya aku kan suka hujan, aku jadi senang lagi sama hujan. Ya sebal sih, bukan berarti benci,  jadi gimana pun aku tetap suka hujan ternyata. Gapapa deh. Toh aku jadi senang.

Sekarang. Aku masih nunggu hujan. Semoga dia cepat datang. Aamiin.









Thursday, February 8, 2018

[KAYAKNYA SPOILER] Cek Toko Sebelah



SUKA! Aku suka banget film ini. 

Jadi sebenarnya aku banyak  sedikit suudzon dengan film Indonesia. Dulunya. Tapi entah kenapa, beberapa tahun terakhir, entah dimulai dari siapa, film Indonesia mulai bagus-bagus lagi menurutku. Sepertinya mulai dari 5 cm (?), eh apa bukan ya. Tapi yang jelas, aku sebenarnya tipe penonton yang nonton karena "gampang ketipu trailer" dan bukan penonton yang segitunya cuma mau nonton western, cuma mau nonton artis anu, ini, itu, de el el.

Sebelum aku mulai, mungkin aku mau memperingatkan, resensi ini mungkin bermanfaat, tapi lebih besar kemungkinan tidak bermanfaatnya. Kenapa? 
1. Aku bukan ahli film dan ga ngerti sama sekali teknik pengambilan gambar atau apa, selama menurutku aku tersentuh, aku bilang bagus.
2.  Aku sungguh bukan orang yang attention to detail, jadi aku sampai sekarang sering ketuker nyebut Milea (Dilanku 1990) dengan Milly (AADC).

Eh btw, ternyata pemerannya emang sodaraan lho! Ih aku kaget banget. Terus aku kaget mereka ternyata sodaranya Jevin yang anunya Rini itu lho. 

3. Aku akan lebih banyak ngomongin tentang apa yang kurasain waktu nonton film ini, instead membahas isi filmnya dan kualitas alur cerita ataupun apa itu, maaf, huhu, anaknya suka ngomongin perasaan.
4. Karena ini Ade Putri Aulia Wijharnasir, yang ga cuma namanya yang panjang, tapi ngomongnya juga. Niatnya cerita A, yang diomongin A sampai ZZ. A nya kebahas seupil doang. 

--------------------------- ini batas obrolan ngalor ngidul ------------------------

Jadi aku pertama kali nonton film ini, di hari penayangan pertama, sama mantan. Ya pokoknya gitu.

Ekspektasi pertamaku, kok judulnya aneh ya, tapi karena aku sudah lihat trailernya, dan yang aku suka, disini ada Dodit. Aduh, sungguh, Dodit itu lucu banget, dan kumel banget. Kenapa sih itu rambutnya dipotong gitu lho, apa mukanya discrub apa gimana gitu, di film lho ini Dit :( tapi lucu sih, ini daya tariknya.

Aku mulai nonton, bagian awal, lucu banget, langsung kebayang kalau aku jalan-jalan di Pasar Atum, terus dipanggil-panggil "Ce, ini ce, bajunya ce, cantik lho di Cece, kuenya Ce, dicoba juga, oiya donatnya dari kentang Ce, wuenak pol ce, cobaen dulu Ce, ndak papa Ce". Kan aku jadi ingin bertanya, "Bu, jadi Bu -nya jualan opo ae seh bu? Cek akehe ta lah bu, nanti donatnya numplek ke baju lho bu."

Jadi di film ini diceritakan Erwin (yang jadi si Ernest) dan Ko Yohan (ini lupa namanya siapa ya, difoto itu yang kiri sendiri lah pokoknya), mereka berdua anak dari Ko Afuk. Ko Afuk ini keturunan Tionghoa yang masih memegang teguh ajaran ajaran bisnis yang mantap dari leluhur, jadi beliau punya toko kelontong yang sukses, dan punya banyak karyawan. Erwin, anak bungsu dari Ko Afuk, kuliah di Sydney, sudah lulus, sukses jadi eksekutif muda di perusahaan ternama. Sumpah ini perusahaannya lucu banget. Bos dari Erwin, sungguh absurdity nya level Chiko sudah tidak paham lagi. Pemeran dari bos-nya Erwin, Asri Welas, tapi aku lupa siapa nama dia di film ya (?). 

Diceritakan ibu dari Erwin dan Ko Yohan sudah meninggal karena sakit, Ko Yohan hidupnya jadi berantakan, pakai narkoba, masuk penjara, meanwhile si Erwin, melampiaskan kesedihannya dengan belajar sampai bisa sekolah di Sydney, dan kerja di perusahaan bagus. Ko Afuk, kelihatan banget di film ini sangat kecewa sama Ko Yohan, Ko Yohan cuma fotografer, hidupnya susah, tapi istrinya cantik, cuma bukan Cina (pemerannya si Ardina Rasti? Eh apa Adinia Rasti? Lupa hehe). Kebalikannya, Ko Afuk, kelihatan sebangga, sesayang itu dengan Erwin, tapi ironisnya Erwin yang selalu dibanggakan selalu super sibuk dan susah meluangkan waktu untuk ayahnya, bahkan di malam natal (oiya, FYI, ini film ditayangkan di minggu-minggu natal, jadi memang temanya untuk film keluarga yang ditonton bersama waktu natal)

Sampai suatu ketika, Ko Afuk sakit, pingsan waktu makan malam bareng Ko Yohan di malam natal (ini makan malam yang dibatalkan Erwin, karena Erwin harus ke Singapore). Setelah banyak tawa dari awal film ini, dan perasaan tidak suka pada Erwin, serta kasihan pada Ko Yohan semakin menumpuk, akhirnya konflik dimulai. JEBRET. Ko Afuk minta Erwin jadi penerus tokonya, toko kelontong, jualan beras, kopi, gula, de el el. Erwin panik. Berantem sama pacarnya (si Gisel nih yang jadi pacarnya). Aku semakin sebal dengan Erwin, dan juga pacarnya, egois banget. Tapi kemudian aku mikir, memangnya kamu sudah jauh-jauh kuliah kesini, kamu mau disuruh pulang, melepaskan semua pekerjaan di "Singapore" dan jadi encik encik toko. Oke. Chiko ga jadi sebal dengan Erwin. Tapi aku masih sebal sama Natalie, si pacarnya Erwin. Tipe cewe sukses, karir sukses, dominan, dan baik sih, cuma....duh gitu deh. Pokoknya Chiko sebal.


Tapi tetap adegan ter-epic waktu Erwin ngotot bilang kalau bu Sonya (ini bosnya Erwin, si Asri Welas, YA ALLAH MAKASIH SUDAH INGAT NAMANYA SONYA IH TERNYATA), pasti ga izinin. Tiba-tiba scene berganti, dengan muka Bu Sonya segede itu aja, bilang Boleh dengan logat jawa super medok dan muka super mellow karena keingat orang tuanya, dan dia memberikan berbagai wejangan untuk Erwin agar berbakti ke ayahnya, jangan sampai menyesal, dan diakhiri dengan beliau memaksa Erwin menyanyikan OST Keluarga Cemara, yang ternyata Erwin ga hapal. (ini bohong banget, siapa sih yang ga tau OST Keluarga Cemara, siapaaaa?)

Ya singkat cerita, Erwin akhirnya boleh cuti 1 bulan penuh, untuk "masa percobaan" di toko Koh Afuk. Banyak kejadian selama 1 bulan ini, termasuk Ko Yohan yang marah, dan frustasi karena kenapa harus Erwin, kenapa dia ga pernah dianggap sama ayahnya sendiri, padahal dia dengan senang hati akan mengambil alih tokonya. Adegan bagian ini seru sih, Ko Yohan marah-marah, ngamuk, istrinya, Ayu, menenangkan. Ini baper banget scene ini. Dan dari scene ini aku belajar, ternyata pria memang butuh wanita, untuk menenangkan ya. Ciye.

Satu-satu konfliknya bermunculan di film ini, tapi sepertinya aku lebih tertarik untuk membahas apa yang kudapat dari film ini dibandingkan menceritakan alur ceritanya, jadi silakan ditonton sendiri ya. Oh iya ini link trailernya. Monggo diklik dan ditonton.



Kayaknya lebih mudah dipahamin kalau apa yang kurasain dan kudapat dari film ini kubuat dalam bentuk list. Lebih mudah dibaca, sepertinya.

1. Orang tua itu tetap manusia ya, gimana juga bisa kecewa, gimana juga meski bilangnya sayang sama kedua anaknya, tapi tetap keliatan lebih condong ke yang mana. Aku juga dua bersaudara, dan aku juga kadang ngerasa ayahku lebih condong ke siapa, ibuku ke siapa. Mungkin memang gitu. Tapi yang jelas, orang tua tetap sayang semuanya kok, cara menyampaikan dan menunjukkannya beda mungkin, ya mau gimana lagi, anaknya sendiri juga dua entitas yang berbeda.

2. Erwin, dia hebat, dia bisa menghadapi kesedihannya ditinggal ibunya dengan baik, berkuliah dengan baik, sukses, bekerja dengan baik, bertanggung jawab ke dirinya sendiri, tipe anak baik, kebanggaan orang tua. Mungkin selama ini aku selalu berusaha jadi "Erwin" untuk orang tuaku. Aku berusaha untuk sukses dengan caraku, cara yang kubisa, dan kusuka. Tapi ternyata, orang tua ga cuma butuh anaknya punya gelar tinggi, berpenghasilan tinggi, tapi orang tua juga butuh anaknya pulang. Pulang ke rumah dimana dia dibesarkan.

"Seberguna apapun kamu untuk masyarakat luas, seberhasil apapun kamu diluar sana, tapi jangan pernah lupa, kemana kamu harus pulang" - Sahabat


3. Ko Yohan, dia juga hebat, sama hebatnya dengan Erwin. Tapi dia ga lulus kuliah, dia juga dulunya Napi, dia kena narkoba. Kalau dulu, aku mungkin akan bilang Ko Yohan ini payah, ga hebat, tapi dia baik. Dia sayang ibunya, dia menghormati ayahnya, dia gentleman. Ada satu scene yang aku suka, jadi suatu hari, mantan Ayu, yang kaya raya, datang untuk menawarkan bantuan untuk mewujudkan mimpi Ayu punya bakery sendiri. Ekspektasiku sebagai penonton, dengan kondisi Ko Yohan yang lagi stres, tertekan, harga dirinya sebagai kakak sudah "terinjak" karena "tidak dipercaya" ayahnya sendiri, tidak punya pekerjaan tetap, dan mantan Ayu datang untuk mencoba mendekati Ayu lagi, dan segala macam kondisi yang tidak enaklah. Aku pikir Ko Yohan akan marah, ngamuk, blablabla. Ternyata di luar ekspektasiku, dia cuma tersenyum dan bilang, "Ayu, punya bakery sendiri itu mimpi kamu. Aku, suami kamu, yang bekewajiban untuk mewujudkan mimpi kamu, bukan orang lain. Biar aku ya yang mewujudkan mimpi kamu."
Semacam inilah dialognya, aku sedikit lupa, tapi......IH LELEH DEDEK. Ya aku jadi mikir, ternyata masalah-masalah begini bisa diselesaikan dengan baik, "tarik" lah wanita itu dengan cara yang tepat. 

4. Ayu, di sepanjang film dia memang tipe istri teladan. Jujur, selesai nonton film ini aku ingin jadi wanita seperti Ayu. Sabar, selalu tersenyum meskipun mertuanya "kurang suka" dengan dia, loyal, bisa memberikan kasih sayang yang baik ke suaminya, bijak, duh bagus lah. Entah kenapa, dengan lihat si Ayu ini, aku jadi berpikir, ternyata hubungan memang soal kompromi ya. Bukan berarti dia tidak boleh punya mimpi kok, tapi gimana dia kompromikan mimpinya dengan pasangannya. Btw, aku selalu insecure dengan pernikahan hahaha. Kalau aku sudah menikah, nanti jangan-jangan aku sudah tidak bisa mengejar mimpiku. Tapi ternyata, tidak semenakutkan itu kok. Ya mungkin sih, aku ga tahu. Tapi intinya, aku suka banget karakter Ayu disini, bikin aku tahu, jadi wanita yang lebih baik untuk pasangannya itu bagaimana. Cie Chiko. 

5. Natalie, awalnya aku sebal dengan Natalie. Dia terlihat seperti cewe egois, kaya, sukses, dominan. Tapi ternyata sampai suatu scene, Erwin marah dengannya, Natalie pergi bertemu Ayu. Aku mulai bisa mengerti sudut pandang dia, dan ya aku suka bagaimana Natalie akhirnya membulatkan tekad dia akan mengalah dan mencoba meminta maaf ke Erwin. Dude, mari kita akui, seringnya wanita malu mau minta maaf duluan kan. Tapi ya, terkadang butuh kok, sebutuh itu kita sadar kita salah. Pasal Wanita selalu benar itu tidak selalu berlaku. Kecuali lagi PMS.

6. Aku suka bagaimana film ini menyisipkan komedi dengan baik, dan plotnya keren aja, pelan-pelan emosi kita dibawa untuk menjadi sedih, makin sedih, lebih sedih, air mata menggenang, JEBRET tiba-tiba jokes lucu keluar dan scene berubah. Sial. Tapi untuk aku pribadi, ini yang bikin aku ga ngerasa ingin cepat keluar dari bioskop. Emosiku naik turun, aku senang, aku sedih, aku senang lagi, aku sedih lagi, gitu  terus aja sampai aku pulang. 

7. Aku suka ending dari film ini, semua masalah terselesaikan dengan baik, sampai masalah-masalah percintaan tidak penting antara pegawai toko Koh Afuk dan toko sebelahnya (aku lupa apa ya namanya?). Bahkan termasuk behind the scene nya super seru, lucu, aku suka.

8. Soundtrack nya bagus, GAC dan Overtunes. Bayangkan, suara mereka bagus, liriknya bagus, dan sesuai dengan alur ceritanya. Setiap adegan didukung dengan baik oleh setiap lagunya. Kayaknya baru ini film yang semua OST nya langsung aku download begitu aku sampai rumah. Semuanya aku download

9. Aku menemukan banyaaak sekali pesan moral di film ini, bahkan sampai adegan sekecil apapun. Bahkan cuma dari adegan toko sebelah Ko Afuk yang pemiliknya orang muslim, dengan toko Ko Afuk. Bagaimana beliau berusaha membantu Ko Afuk untuk mempertahankan tokonya, dan meskipun adegannya dibungkus dalam komedi, aku bisa menangkap pesan moralnya, kalau, terus kenapa kalau dia Cina? Ya mengingat baru-baru saja isu Cina-pribumi kembali mencuat.

10. Aku juga belajar bagaimana Ko Afuk sangat menghargai toko yang didirikan bersama istrinya, bagaimana dia mengakui kalau tanpa istrinya hidupnya berantakan. Disini aku jadi belajar, ternyata benar ya kata orang-orang, bagaimanapun, sekuat apapun pria, dia butuh wanita yang baik di sisinya. Dan ya aku jadi bisa melihat juga bagaimana menjadi wanita yang baik disini.

11. Dan akhirnya aku tahu, kenapa aku suka sekali film ini. Karena dari sini, aku belajar melihat banyak sekali sisi yang baru. Aku belajar melihat sudut pandang dari berbagai jenis orang. Orang-orang yang kutemui di keseharianku. Aku jadi menemukan hal baru. Aku jadi lebih belajar mengerti orang lain.


Sebenarnya aku masih punya banyak hal yang mau kukomentarin dari film ini, lebih  tepatnya aku menceritakan apa yang kurasakan dan kupikirkan dari film ini. Aku ga tahu, kamu juga begitu atau cuma aku. Jadi, aku mudah sekali, tepatnya sering sekali, menyadari suatu hal tentang kehidupan ini, dari interaksiku dengan orang lain, dari film, dari lagu, dan isi otak ku penuh dengan hal-hal begini. Dan aku merasa butuh berdiskusi dengan orang lain, setidaknya bercerita. Karena itu, aku juga merasa butuh bercerita apa yang kupikirkan dan kudapatkan dari film ini. Jadi yang kudapatkan dari film ini mungkin bisa kurangkum jadi seperti ini.


"Cinta itu bukan cuma tentang pasangan, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitarmu, orang-orang di sekitarmu, rekan kerjamu, dan juga bahkan orang yang bukan siapa-siapa kamu. Cinta yang tulus itu bukan cinta yang diomongkan ataupun ditunjukkan. Cinta yang  tulus itu cinta yang berusaha mengerti meskipun dia tahu itu susah dimengerti. Cinta yang tulus itu cinta yang tahu kapan waktunya meminta maaf dan kapan waktunya memaafkan dan juga kapan waktunya membiarkan. Cinta yang tulus itu susah untuk disampaikan, dan memang diciptakan untuk dirasakan, tidak dalam waktu yang cepat, tapi dalam waktu yang tepat."


Ngomong Cinta

Dulu. Duluuu banget. Aku pernah punya tulisan soal Cinta. Cinta yang seperti kopi. Seperti coklat. Tulisanku waktu itu diakhiri dengan kalimat, aku hanyalah anak kecil, yang belum mengerti akan cinta. 

Sekarang, aku ga tahu, aku masih anak kecil bukan ya. Tahun ini sih aku 24, aku masih anak kecil kan ya? Jawab iya dong, please.  Ya apapun itu, mungkin sekarang aku lagi mau iseng nulis lagi tentang pandanganku soal cinta. Sepertinya aku sudah cukup dewasa kok dan berpengalaman untuk ngomongin cinta. (Terus ngomong gini dengan songongnya saat berstatus jomblo)

Tulisan ini didedikasikan untuk orang-orang yang butuh cinta (?). Atau butuh cina (eh gimana chik maksudnya?)

Buat aku. Cinta itu seperti segelas kopi panas, yang harus diminum pelan-pelan. Kalau ga, nanti bibirmu melepuh. Tapi juga jangan didiamkan terlalu lama, nanti ga enak. Kalau sudah ga enak, takutnya nanti kamu buang. Kasihan.

Buat aku. Cinta itu seperti salju. Putih. Bersih. Cantik. Selalu ditunggu. Tapi kadang terlalu cepat hilang. Kan aku jadi sedih.

Buat aku. Cinta itu seperti hujan. Yang selalu aku suka, kapanpun datangnya. Selalu menenangkan. Selalu aku tunggu. Meski kadang jarang datang. Dan kadang menjadi sedikit menyebalkan. Tapi tetap selalu bikin aku senang.



Buat aku. Cinta itu seperti sekolah. Tempat yang menarik untuk belajar. Tempat yang menyenangkan untuk mencari kesibukan. Tapi juga tempat yang melelahkan, dan selalu dikeluhkan. Meskipun pada akhirnya selalu dirindukan. Aku jadi rindu sekolah.

Buat aku. Cinta itu seperti cuaca di Malang. Dingin. Tapi menyenangkan. Aku suka.  

Buat aku. Cinta itu seperti kucing di asramaku. Aku datang, dia memanggil. Aku mendekat, dia lari menjauh. Aku bertanya kenapa, dia berdiam diri. Jadi aku harus apa?

Buat aku. Cinta itu seperti buku. Meski tahu kalau akan berakhir, masih akan tetap kubuka dan kubaca. Kalau aku suka, akan kubaca pelan-pelan. Biar ga cepat habis, kataku. Kalau sudah habis, nanti aku bingung. Bingung cari buku yang lebih bagus. Yang lebih kusuka.

Buat aku. Cinta itu seperti sepatu. Harus pas. Kalau ga pas, nanti sakit. Kasian. Mending dilepas, cari yang baru. Tapi kalau sudah pas, jangan lupa dirawat, nanti cepat rusak, kan sayang. Beli yang baru mahal, belum tentu juga pas.

Buat aku. Cinta itu seperti anak kecil. Manja. Banyak tanya. Menuntut diperhatikan. Menuntut diiyakan. Tapi, pada akhirnya tetap saja menggemaskan.

Buat aku. Cinta itu seperti belajar main gitar. Sakit. Tapi masih diterusin. Kenapa? Karena suka. 

Buat aku. Cinta itu seperti coklat. Manis. Tapi ga boleh kebanyakan. Nanti eneg.

Buat aku. Cinta itu seperti langit biru. Semu. Ga pernah ada langit biru. Yang ada hanya langit yang merefleksikan cahaya sampai terlihat biru. Tapi tetap indah kan.

Buat aku. Cinta itu seperti Youtube. Banyak channelnya. Banyak yang seru. Banyak juga yang sesat sih. Tinggal pilih.

Buat aku. Cinta itu seperti es krim di kulkasku. Aku sering lupa kalau sudah punya.

Buat aku. Cinta itu seperti warna biru. Yang selalu aku suka. Kenapa? Ga tau. Sekarang lagi mau suka aja. 




Sunday, February 4, 2018

Being An Adult

Ade Putri Aulia Wijharnasir. Ade. Putri. Atau seringnya dipanggil Chiko. Lahir 28 April 1994. Yang entah kenapa dari kelas 3 SD sampai sekarang 90% fotonya bergaya Peace. Sebenarnya yang membingungkan buatku, kenapa orang-orang marah ya setiap aku bergaya Peace lagi. Sama marahnya seperti saat mereka membuka pintu kamarku, dan melihat hampir semua barangku berwarna biru. 





Sekarang tahun 2018. Berarti tahun ini aku akan berumur 24 tahun. 24 tahun. Usia yang waktu aku SMP, kupikir siapapun di usia ini adalah om dan tante-tante. Usia yang kupikir, pasti aku sudah menikah di umur segini. Tapi kenyataannya? Mari kita beranjak dari kasur, dan melihat cermin. Chiko. Masih 153.5 cm. Single. Dan (bahagia?). Dan setiap bulan juga masih menerima undangan pernikahan dari teman SMP, SMA, Kuliah, dan juga masih saja tidak bisa datang di hampir semua undangan pernikahan itu. Maaf ya.

Aku tidak tahu, kalian pernah tidak ya, berpikir seperti aku. Mulai merasa insecure dengan kenyataan bahwa semakin banyak temanmu yang menikah berarti kenyataan kamu adalah orang dewasa, no more teenager, tidak bisa dielakkan lagi. Aku selalu takut untuk menjadi orang dewasa, aku selalu ingin menjadi Peterpan, yang terjebak di Neverland (benar kan ya namanya Neverland?).

Terkadang aku suka sekali mengingat apa saja yang sudah kulakukan sejauh ini sampai umurku hampir 24 tahun ini. Apakah aku sudah cukup dewasa ya? Apakah aku sudah cukup menjadi Chiko yang baik untuk orang lain ya? Apakah dengan makin tua aku harus mengurangi waktuku untuk nonton anime ? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku langsung berlari ke ayunan setiap ke taman? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku terjatuh tanpa kusengaja? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku tertawa keras-keras di tempat umum? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku untuk baca komik? Apakah dengan lebih dewasa aku berarti harus mulai minum kopi dan mengenal jenis-jenis kopi seperti teman-temanku? Apakah aku berarti aku harus mulai mencari pasangan? Apakah aku harus......, duh kok banyak "harus" ya? Yasudahlah.

Setiap tahun, setiap ulang tahun, aku banyak berpikir, kok sepertinya aku tidak ada perubahan ya? Kok sepertinya aku begini saja ya. Aku kok tetap childish ya? Aku kok tetap berisik ya? Aku tetap heboh. Aku tetap tidak bisa seanggun cewe lainnya. Aku kok masih belum terpikir untuk menikah ya.

Tapi, setelah satu tahun ini, banyak sekali kejadian yang terjadi di hidupku, banyak orang baru yang datang dan pergi. Banyak waktu yang kugunakan untuk merenung (cie chiko). Aku pelan-pelan belajar, ternyata selama ini bukannya aku tidak dewasa. Aku hanya takut keluar dari zona nyamanku. Selama ini aku terlalu nyaman dengan kenyataan bahwa orang terdekatku selalu berusaha mengerti aku. Aku nyaman dengan kenyataan bahwa semua impianku tidak tercapai karena kondisi yang ada (padahal sih karena aku emang kurang berjuang aja sepertinya). Aku juga belajar untuk mencoba banyak hal, yang lama kelamaan, aku pun tahu, kok jadinya aku seperti ikut-ikutan mereka ya? Hahaha.

Aku mulai memikirkan banyak hal. Ternyata menjadi dewasa bukan berarti aku harus menghilangkan kebiasaanku nonton anime, bukan berarti aku tidak boleh fangirling-an lagi ke Hey!Say!JUMP, bukan berarti aku tidak boleh membaca komik lagi, bukan berarti aku tidak boleh mendadak keluar saat hari hujan cuma karena aku suka bau hujan, bukan berarti aku tidak boleh lagi main ayunan, bukan berarti aku tidak boleh loncat lagi ke genangan air, bukan berarti aku tidak boleh lagi pakai tas Singa kesayangan aku, bukan berarti aku harus memanjangkan rambut, bukan berarti aku tidak boleh berponi rata lagi, bukan berarti aku harus pakai dress, bukan berarti aku harus mulai ber-make up, dan harus harus lainnya.

Menjadi dewasa menurutku saat ini (iya, saat ini, siapa tahu besok aku berubah pikiran) adalah bagaimana cara aku dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, bagaimana cara aku memutuskan untuk bertanggung jawab dalam setiap keputusan di dalam hidupku, bagaimana cara aku menjalin hubungan dan komunikasi baik dengan orang lain ataupun isi otak ku sendiri, dan juga bagaimana cara aku conquering diriku sendiri. Iya conquering. Menurutku, hal paling susah dari menjadi dewasa adalah memahami diri kita sendiri. Diri kita sendiri adalah bagian dari misteri di dunia ini, pernah tidak kalian bercakap-cakap dengan "seseorang" di dalam otak kalian sendiri?
Oh tidak pernah? Oke, berarti hanya aku, mungkin, sih. Jadi, intinya, dengan percakapanku dengan "seseorang" di dalam otak ku, aku jadi lebih bisa memahami diriku sendiri. 

Pelan-pelan aku mulai bisa berdamai dengan kenyataan bahwa umur aku semakin bertambah, aku harus bisa menjadi Chiko yang lebih baik, menjadi Chiko yang lebih bermanfaat untuk orang lain, menjadi Chiko yang nantinya bisa menjadi pasangan yang baik, anak yang baik, sahabat yang baik, ibu yang baik, apapun lah, intinya menjadi entitas masyarakat yang baik.

Aku sudah pernah cerita tentang tujuan hidupku tidak ya? Sepertinya sudah. Aku selalu bilang aku ingin bahagia. Aku selalu berpikir menjadi bahagia adalah dengan menolong dan membahagiakan orang lain. Menurutku dengan menjadi baik ke orang lain itu akan membuat kita lebih bahagia.

Oh tapi aku lupa satu hal. Aku salah dengan mengatakan orang lain. Seharusnya, aku harus berbuat baik dan berusaha membuat semua orang bahagia. Iya, semua orang, termasuk diriku sendiri. 



"Jadi, jangan lupa bahagia di tengah prosesmu untuk menjadi dewasa, ya. Karena, kalau kamu sendiri bisa membahagiakan dirimu sendiri, setidaknya orang lain akan bahagia, hanya dengan keberadaanmu. Karena keberadaanmu sendiri sudah suatu kebaikan darimu untuk mereka. :)"

Fighting for Whatever, Whoever, Everything, You Want

Ternyata tidak sesuai dengan janji yang sudah kujanjikan  di post sebelumnya, untuk sering pos di blog ini, aku malah sibuk dengan kehidupanku. Tapi, sekarang sepertinya aku butuh tempat untuk untuk menuangkan isi kepalaku yang sudah terlalu penuh dengan berbagai hal. Mari kita mulai untuk curhat dan bercerita lagi disini.

Sebelumnya aku mau cerita dulu mungkin, alasanku kenapa mengingkari janjiku. Jadi....., tidak begitu lama dari aku menulis pos terakhir, aku mendapat pengumuman bahwa aku diterima beasiswa S2 yang sudah lama aku incar. Hore.....

Aku mulai disibukkan dengan banyak kegiatan, bertemu dengan sangat banyak orang baru, mengenal orang baru, mendengarkan cerita mereka, mendapat pola pikir baru, merubah kehidupanku sedikit demi sedikit. 

Satu tahun ini, entah kenapa sangat banyak hal baru terjadi. Sangat banyak. Sebentar mari diulang. SANGAT BANYAK. Mungkin lain kali aku ceritakan satu-satu. Cuma aku ingin cerita, jadi salah satu hal baru yang aku dapat, akhirnya di bulan Oktober 2017, aku sampai di Jepang. IYA! Jepang. Ade Putri Aulia Wijharnasir. Alias Chiko. Membaca email berisi pengumuman bahwa aku diterima untuk program exchange  selama 6 bulan di Jepang. TERIAK. Ya pastilah. Kalau dunia bisa diajak berteriak, aku mau ajak dunia. Satu hal yang paling aku senang dengan kenyataan aku bisa ke Jepang, aku bisa foto seperti ini.




Jepang. Negara yang entah bagaimana ceritanya dari aku kecil selalu jadi negara impianku. Singkat cerita, aku sudah sampai di Jepang, dan sesuai ekspektasi. Orang Jepang susah berbicara bahasa Inggris. 
Hari pertama. Lucu.
Hari kedua. Orang Jepang lucu banget sih ngomongnya.
Hari ketiga. ......
Hari ketujuh. Tuhan. Terus ini ngomongnya gimana.
Akhir bulan pertama. Jepang keren banget. Baik banget semua orangnya.
Akhir bulan kedua. Aku pengen pempek, batagor, nasi penyet ayam, rawon, bakso, soto, tekwan. Aku ingin dia. Chiko mulai menyanyi lagu Doraemon. Aku ingin begini. Aku ingin begitu.


Satu hal yang akhirnya aku mengerti, selama berbulan-bulan tinggal di Jepang. Aku harus berjuang untuk apapun yang aku inginkan. Aku harus berjuang untuk bisa S2. Aku harus berjuang untuk bisa mewujudkan mimpiku ke Jepang. Aku harus berjuang untuk bisa mengerti orang Jepang ngomong apa. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan sahabat-sahabat yang jauh disana. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan keluargaku. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri saat aku ingin makan nasi penyet ayam. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri, saat tengah malam ingin makan bubur ayam Bandung, di tengah mata super ngantuk, jam 2 malam, aku penggemar nomor satu Bubur Ayam Mang Dudung yang legendaris di Surabaya, harus mengaduk bubur lebih dari setengah jam, menggoreng pangsit, ayam, hati goreng, DEMI memenuhi keinginan absurd ku yang sering kumat tengah malam. Dan selama ini selalu selesai dengan bapak/mas Go Food tercinta. Terima kasih Bapak dan Mas Go Food. 

Ternyata untuk makan bubur tengah malam, perjuangannya besar.
Ternyata Tuhan bisa mengajarkan aku untuk lebih sabar dan berjuang hanya dari perkara semangkuk bubur, dan bahkan juga makaroni pedas (yang sumpah di kampus harganya cuma 500 rupiah dan sering aku buang kalau bosan huhuhu, tapi disini jatuh satu ke lantai pun aku makan lagi, karena untuk ngemil aja butuh usaha). Kuliah yang berat, language barrier, organisasi yang demanding, komunikasi yang susah, teman, sahabat, yang mulai bertingkah aneh dan menyebalkan, permasalahan keluarga yang menuntut diselesaikan, permasalahan teman yang menuntut untuk didengarkan, permasalahan diri sendiri yang menuntut untuk diselesaikan. Belum lagi perubahan musim yang membuat aku akhirnya sadar TERNYATA BENERAN ADA WINTER DEPRESSION ITU, homesick, orang-orang yang menuntut untuk diperjuangkan, orang-orang yang tidak menuntut untuk diperjuangkan tapi harus diperjuangkan, orang-orang yang enaknya diperjuangkan ga ya(?), orang-orang yang sedang dan akan dirindukan, orang-orang yang inginnya dirindukan, tapi ternyata tidak rindu (lho gimana?).

Hal-hal yang harus dipermasalahkan ternyata banyak juga. Manusia memang paling hebat kalau soal mencari masalah. Tapi bahkan masalah pun harus diperjuangkan. Perjuangkan untuk diselesaikan. Satu demi satu. 

Jadi untuk kalian disana, yang merasa sedang berjuang, untuk semua hal yang berada di depan, belakang, samping, ataupun jauh dari kalian sebenarnya. Simple things ain't worth to fight for. Semua terasa rumit, karena memang itu layak untuk kalian perjuangkan. Semua terasa menyakitkan, melelahkan, karena.......itu alasan kalian hidup kan? Karena orang hidup pasti akan merasa sakit. Orang hidup pasti akan merasa lelah. Tapi ingat, orang hidup juga merasakan bahagia kok. :) Setidaknya kalau kalian merasa hidup terlalu menuntut banyak usaha, yasudah, makan bubur aja yuk, setidaknya makannya tinggal diemut, tidak perlu usaha.

Maaf. Aku lupa. Masak bubur lebih butuh usaha daripada masak nasi. Oke. Berarti hidup memang untuk diusahakan. Perkara bubur pun butuh diusahakan. Aku jadi lapar. Jadi Tuhan, eh salah, Jadi Nadiem. Kapan Go Food mau diekspansi ke Jepang? Saya ternyata lebih butuh Bapak Go Food daripada pacar untuk saat ini.

"It is not simple. Because you know, simple things ain't worth to fight for. Life is simple, at the end. But, at least, I hope, tomorrow is not the end of my life. God, I will fight for it. I will sing Yubikiri Genma now."


Kamu. Terima kasihku.

Kamu.
Senandungku dalam pilu.

Kamu.
Langkahku yang ternyata penuh ragu.

Kamu.
Tatapanku yang terbuat dari rindu.

Kamu.
Tawa di sudut sendu.

Kamu.
Yang selalu kupikir adalah aku.

Kamu.
Masa depanku yang ternyata semu.

Kamu.
Cerita manisku di sudut kalbu.

Kamu.
Terima kasihku di ujung temu.


(Wijharnasir, 2017 - lagi sedih) 

(2018 - si Wijharnasir sudah tidak sedih, hehe, cuma rindu, dengan kenangan)


"Terkadang ada hal yang lebih patut untuk jadi kenangan daripada diulang. Terima kasih sudah menjadi kenangan. Terima kasih untuk tidak mengulang. Kalau mengulang, berarti nilainya dibawah 70. Dapat C."