Semenjak merasakan yang namanya bangku perkuliahan, aku mulai belajar bahwa orang dewasa itu rumit. Semakin dewasa maka semakin susah untuk mendapatkan kebahagiaan dengan mudah. Apakah kalian semua ingat, sewaktu kecil kita sudah cukup bahagia dengan melihat kartun favorit di sepanjang hari Minggu pagi. Tapi saat kita semakin beranjak dewasa, kebahagiaan dapat dipenuhi dengan serentetan syarat.
Entah aku yang terlalu pesimistis atau memang dunia orang dewasa terlihat begitu suram. Setiap hal menjadi sangat mudah dinilai dengan uang. Kepercayaan menjadi mahal harganya. Begitu pula untuk kejujuran. Pemikiran ini semakin jelas kudapatkan setelah aku melakukan kerja praktik. Kerja praktik adalah salah satu mata kuliah wajib di institut tempat aku belajar. Selama kerja praktik, aku dapat menyimpulkan bahwa dunia orang dewasa dipenuhi kecurangan.
Aku sering mendengar kalimat seperti ini, "Saat kerja, orang yang terlalu jujur dan mudah percaya itu tidak akan bisa bertahan." Aku tidak ingin terlihat sok idealisme, tapi aku masih tidak bisa menerima kalimat itu. Bukankah Tuhan dan Rasul-Nya mengajarkan setiap umatnya untuk jujur? Untuk saling percaya? Kenapa manusia dinilai tidak bisa bertahan jika terlalu jujur. Apakah Tuhan akan menutup pintu rezeki untuk umat-Nya yang taat. Menurutku sih tidak.
Setiap kali aku mengutarakan pemikiran ini, hampir semua teman-temanku berkata aku terlalu naif dan childish. Menurut mereka, aku terlalu percaya bahwa dunia ini seindah novel dan dongeng yang aku baca. Tapi sayangnya aku tidak membaca novel maupun dongeng, aku membaca manga. Jadi menurutku mereka salah jika mengatakan aku terlalu naif.
Apakah semua anak kecil nantinya akan melewati fase sepertiku, dimana berpikir bahwa dunia orang dewasa sangat suram dan miskin kebahagiaan. Apakah nantinya mereka semua akan melewati fase tersebut tanpa merasa terganggu sepertiku. Aku masih merasa yakin bahwa kebahagiaan itu tidak serumit yang diajarkan oleh orang dewasa. Dimana mereka mengajarkan kebahagiaan adalah kesuksesan dan kesuksesan identik dengan uang.
Aku tidak ingin jadi orang kaya, aku hanya ingin jadi orang yang berkecukupan dimana aku tidak pernah merasa kekurangan dengan apapun yang aku inginkan. Aku dapat membeli apapun yang aku inginkan dan aku tidak pernah merasa kekurangan dengan hal itu. Semoga Tuhan dapat mengabulkan keinginanku.
Selain itu menurutku semakin kita dewasa, semakin sulit kita menerima perbedaan. Dunia yang kejam mengajarkan kita untuk memperuncing perbedaan. Lihat saja betapa mudahnya dulu saat kita kecil untuk percaya bahwa mengganggu ibadah orang lain itu adalah suatu perbuatan tercela. Namun semakin kita besar, kita semakin tidak peduli dengan hal itu.
Mungkin aku terlalu pesimis. Mungkin aku terlalu penakut untuk menghadapi dunia orang dewasa. Tapi ini adalah semua hal yang kurasakan dan mungkin banyak orang juga merasakan hal yang sama.
Tuhan, semoga aku bisa menyayangi-Mu sampai akhir hayatku. Semoga aku bisa menyayangi, jujur, dan percaya pada orang lain seperti kau yang selalu menyayangi, jujur, dan percaya pada setiap umatmu. Tuhan, semoga aku bisa mengabdi pada negeri ini. Negeri Indonesia yang sangat indah ini. Tuhan, semoga kau dapat menjaga generasi muda saat ini termasuk diriku agar tidak merusak kepercayaanmu dan tidak merusak negeri ini. Aamiin.
Semua hal memang tidak akan berjalan dengan mudah. Semoga aku tetap dapat menjadi diriku sendiri dan menjadi orang dewasa yang KEREN.