Showing posts with label me as lover. Show all posts
Showing posts with label me as lover. Show all posts

Wednesday, July 11, 2018

Shortalks Number 1

Coba kita lihat, bagaimana film Dilan 1990 semenakjubkan itu untuk banyak wanita. Bahkan juga pria. Gerombolan orang keluar dari dalam bioskop, dengan senyum malu-malu. Bukan, aku bukan ingin memberikan review tentang film Dilan, mungkin nanti, bukan sekarang, aku masih malas dan memilih untuk menghabiskan waktu menontonnya ulang dibandingkan menulis review. 

Cuma aku jadi terpikir untuk menuliskan beberapa shortalks yang aku lamunkan. Entah inspirasinya darimana, dari kejadian nyata, dari film, dari anime, atau bahkan dari hasil menguping omongan orang di jalan. Menurutku, setelah melihat fenomena Dilan, aku sadar ternyata manusia butuh diberi momen manis. Kalau bahasa zaman sekarang, momen baper. Cuma supaya bisa senyum-senyum sendiri, atau jadi modal menyenangkan lawan jenis. 

Sepertinya, pengantarnya cukup sampai disini, sekarang aku mau nulis salah satu shortalks yang ada di dalam otakku, sebagai inspirasi dan juga memori.


X : Kamu tahu ga?
Y : Tahu apa?
X : Aku ga suka cowo yang merokok. Aku ga suka bau asapnya.
Y : Eh? Ya ampun maaf. Aku jauhin kursiku ya. Maaf aku ga tahu.
X : Kecuali kamu. Baumu enak ya.
Y : Hah? Enak gimana? Memang aku kue?
X : Baumu enak. Bau rokokmu enak. Dan lagian, kamu selalu jauhin asap rokokmu dari aku kok. Terima kasih ya.
Y : Ga usah nyindir deh.
X : Beneran kok. Kamu lagi berusaha sok keren ya? Tapi berhasil kok, aku biasanya ga pernah bilang cowo merokok itu keren. Tapi sekarang kamu lagi keren.
Y : .....
X : Kamu salting ya? Hahahaha. Payah. Biasanya juga selalu bilang kamu memang keren. Memang ganteng. 
Y : Emang ganteng.
X : Iya, rambutmu udah panjang, kalau kamu sibakin rambut kayak tadi, kamu ganteng kelihatannya. 
Y : .....
X : Kok diem? Masih salting? Hahahaha. Aku terusin ya. Mukamu lucu kalau begini, salting. Sukurin.
Y : .....
X : Apa sih?
Y : .....
X : Apa sih senyum-senyum gitu.
Y : Sekarang kamu yang salting kan?
X : Ga kok. Apaan sih?
Y : Yakin ga salting?
X : Yakin.
Y : Yasudah. Coba majuin kursinya, jauh banget kamu duduknya.
X : Ga mau ah.
Y : Tukan salting.
X : Ga kok. Nih aku mau majuin.
Y : Kamu kalau bertopang dagu begitu, ngikat rambut ke belakang begitu, cantik. 
X : Terus?
Y : Ya cantik. Aku lagi menikmati wajahmu kan, makanya aku senyum-senyum. Aku suka.
X : Hebat ya aku, terusin aja coba. 
Y : .....
X : Kalau aku senyum begini makin cantik tidak?
Y : Sini lebih dekat coba. 
X : Ga bisa, kepentok.
Y : Wajahmu. Sini deketin. Berani ga?
X : Berani. Aku ga akan salting.
Y : Yaudah sini.
X : Iya.
Y : Senyum kayak tadi lagi dong sambil bertopang dagu.
X : Nih sudah.
Y : *cekrek*
X : Eeeeeeeeeeh ngapaaaaiiiin??? Sini in handphonenya. Apa sih? Kok difoto? Dekat banget lagi.
Y : Hahahahahahahaha. Wajahmu besar banget.
X : Hapus! Mana sini.
Y : Ga. Ga akan. 
X : Sini! Hapus. Lagian buat apa sih juga, iseng banget.
Y : Buat penyemangat. 
X : Hah?
Y : Aku ga bohong.
X : Yang mana? Yang buat penyemangat?
Y : Yang mana saja, yang mana saja dari semua kalimatku tadi yang mau kamu percaya.


x

Tuesday, March 13, 2018

Aku Cuma Mau Bikin Dia Bahagia, Kak

- Aku cuma mau bikin dia bahagia, Kak -

Itu kalimat yang aku dengar hampir satu bulan yang lalu, dari salah satu adik kelasku disini. Hhhmm...lebih dari satu bulan sih sepertinya. Aku satu bulan ini ternyata cukup sibuk untuk selalu menunda menuliskan cerita ini di blog.

Jadi, pada suatu hari, yang dingin, masih di musim dingin yang katanya sudah menuju musim semi tapi entah kenapa masih aja dingin, aku duduk di lounge di dorm aku. Aku janjian untuk ketemu dia, dan beberapa teman lainnya. Ngomongin hal penting sih niatnya, tapi pasti berujung ke banyak becandanya. Maklum.

Sampai, ternyata dia duluan yang datang, dan lamaaa banget kita cuma berdua nunggu yang lain. Cuma ditemani bento box isi karaage yang aku minta dia untuk beli sebelumnya, karena kita lapar. Diam-diaman. Kita ga terbiasa ngobrol satu sama lain sih. Sampai tiba-tiba obrolan basa-basi aku berujung ke dia yang cerita kalau dia menyukai salah satu anak Jepang di kampus kita.

Lucu ceritanya. Kayak komik. Dia ga kenal baik sama cewek itu. "Waktu itu cuma dia cewe yang pertama kali datang ke aku, ngulurin tangan, dan senyum ke aku. Manis banget. Aku jadi suka dia, Kak dari waktu pertama itu. Dia baik, mau nyapa aku."

Aku ketawa dengerin cerita dia, aku baru tau, kalau cowo beneran bisa suka cuma karena diberi senyuman dan sapaan. Dia cerita gimana dia selalu berusaha untuk melihat anak cewe ini dari jauh saat latihan di klub mereka. Dia cerita gimana cewe ini mulai berhenti latihan. Dia cerita gimana dia sudah menyiapkan hadiah Natal untuk semua anak klub, cuma karena biar cewe ini ga risih dan sadar kalau sebenarnya yang ingin dia berikan hadiah cuma cewe ini. Tapi ironis, cewe ini sudah ga pernah datang ke klub lagi. Dia juga cerita gimana dia membuat coklat Valentine sendiri untuk cewe ini, tapi dia tidak pernah berani mengirimkan chat ke cewe ini. Cuma berharap cewe ini akan datang ke klub lagi.

"Valentinenya sudah lewat, Kak. Coklatnya aku kasih siapa ya?" 
"Jangan sedih gitu mukanya hahaha. Kasih yang lain aja, daripada rusak."
"Tapi aku mau dia yang makan coklat dari aku."
"Yasudah. Kirim chat aja ke dia."
"Sudah kok. Tapi ga dibalas."
"Ya basa-basi dong ah, biar dibalas, biar bisa PDKT, terus tembak deh."
"Bukan, kak. Dia ga perlu tahu kalau aku suka dia. Sebenarnya concern aku cuma di..... dia kenapa ya ga pernah latihan lagi."
"Lho maksudnya?"
"Aku khawatir, aku mau keberadaanku bisa bikin dia semangat, mungkin cuma dengan dikasih coklat dia bisa senang, atau dikasi kalimat penyemangat. Pernah kan kak, misal kita lagi down banget, bahkan ada orang random yang kasih senyuman, kita bisa langsung merasa terselamatkan hidupnya. Aku cuma mau dia bahagia aja, aku takut dia sekarang lagi sedih atau down."
"Terus, kalau dia udah bahagia?"
"Aku cukup seneng cuma liat dia bahagia kok. Dia cantik, aku apalah kak, jelek, biasa aja, ga pinter, bukan orang Jepang. Aku cuma bisa mengusahakan biar dia bahagia, aku cukup kok mencintai dengan cara begini."



Aku diam dengar dia ngomong gitu. Gemas sih. Ternyata mencintai orang bisa sesederhana itu ya. Ternyata mencintai orang bisa juga kok melepaskan berbagai pertanyaan seperti,

Kok dia ga perhatian balik sih?
Kapan dia nembak aku? 
Kapan dia nerima aku?
Kok dia ga ada kabar sih?
Kok chat aku ga dibalas sih?

Dan berbagai pertanyaan lain yang kadang menambah ribet proses mencintai orang. Cheesy sih, memang semakin dewasa, tidak cuma cinta aja sih yang harus dipikir. Ada karir, masa depan, persiapan menikah, de el el de el el. 

Tapi makasih ya dear adik kelas yang aku ga sebutkan namanya disini. Ceritamu bikin aku jadi ingat. Mencintai juga bisa sesederhana kamu cuma ingin dia bahagia, sebahagia kamu melihat dia lagi bahagia. 

"Semoga post ini bisa jadi sweet reminder untuk aku. Dan juga mungkin kamu. Siapapun kamu. Semoga."


Wednesday, February 14, 2018

Rain

Aku suka hujan, suka banget sama hujan. 

Pernah ga sih kalian merasa seburuk apapun hari kalian, kalian cukup dengan lihat hujan di luar jendela, dan ternyata semua masalah rasanya terselesaikan. Bahkan sekarang cuma menulis tentang hujan sudah membuat perasaanku membaik.


Aku yakin banyak sekali orang diluar sana yang suka hujan, sesuka aku dengan hujan. Buktinya aku menemukan banyak foto-foto hujan di Google, dengan berbagai quote yang intinya membicarakan tentang orang-orang yang menemukan kenyamanan di dalam hujan.

Hari ini hujan, dari tadi pagi sih, bahkan juga hujan salju. Tapi ternyata, aku tetap lebih suka hujan biasa. Hujan air. Suara air yang jatuh ke tanah, ke atap rumah, ke balkon, itu ternyata lebih menyembuhkan ya. Aku selalu tanpa sadar tersenyum setiap mengingat hujan. Suka sekali.

Hujan seringkali membawa suatu hal baik untukku, seperti obrolan tentang hujan dengan seseorang yang berakhir dengan obrolan manis lainnya. Sayang di tempat dia lagi ga hujan. Coba kalau hujan, aku lebih senang. Ya tapi mau gimana lagi. Jauh.

Oh iya. Ada satu lagu juga yang aku suka, dari Sekai no Owari. Judulnya Rain. Artinya....aku lupa hehehe. Bahasa jepang sih, cuma bagus kok. Ngomong-ngomong hujan lagi, jadi aku pernah jalan-jalan, rame-rame, aku liat kubangan air, aku lari, lompat ke kubangan air, terus ternyata nyiprat ke orang-orang. Sahabat aku cekikikan di belakang liat aku panik, bukan cerita yang istimewa sih, tapi entah kenapa aku suka, karena sesudah itu, dia tanya, "Kamu sesuka itu sama hujan ya?". Terus aku jawab "Iya. Suka banget." , terus dia bilang, "Sepatu kamu putih, ga takut basah, atau kotor." Aku cuma ketawa. Dia juga. Terus kita lari nembus hujan, untung cuma rintik-rintik. Aku jadi pengen lari-lari di bawah hujan lagi. Aduh, aku kangen. Kangen hujan. Hahaha. Padahal sekarang lagi hujan.


Aku pernah kepikiran untuk punya anak namanya hujan. Tapi kok setelah dipikir biasanya hujan diasosiasikan orang dengan hal sedih ya, duh kasihan anakku nanti. Terus aku jadi kepikiran anak ku kalau dikasih nama Langit bagus ga ya. Aku mau punya anak dua, yang pertama namanya Langit Pagi, yang kedua Langit Sore. Kenapa langit? Ya karena aku suka banget sama langit. Kenapa ya langit itu bagus banget. Mau langit pagi, langit sore, langit malam. Aku suka. 

Sekarang, hujannya tiba-tiba berhenti. Aku jadi makin kangen hujan. Hujannya kok cepat pergi sih, nanti tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Jadi sedih, jadi pengen hujan cepat datang lagi. Tapi, hujan di musim dingin ini ajaib sih, bukannya  bikin suasana makin dingin, tapi bikin suasana makin hangat, aku jadi makin suka hujan. Kalau hujan datang, bikin suasana jadi tenang, menyenangkan, meski kadang datangnya tiba-tiba, dan awalnya aku suka sebal, soalnya aku jadi ga bisa kemana-mana, jadi malas. Tapi, setelah diingat, oiya aku kan suka hujan, aku jadi senang lagi sama hujan. Ya sebal sih, bukan berarti benci,  jadi gimana pun aku tetap suka hujan ternyata. Gapapa deh. Toh aku jadi senang.

Sekarang. Aku masih nunggu hujan. Semoga dia cepat datang. Aamiin.









Thursday, February 8, 2018

Ngomong Cinta

Dulu. Duluuu banget. Aku pernah punya tulisan soal Cinta. Cinta yang seperti kopi. Seperti coklat. Tulisanku waktu itu diakhiri dengan kalimat, aku hanyalah anak kecil, yang belum mengerti akan cinta. 

Sekarang, aku ga tahu, aku masih anak kecil bukan ya. Tahun ini sih aku 24, aku masih anak kecil kan ya? Jawab iya dong, please.  Ya apapun itu, mungkin sekarang aku lagi mau iseng nulis lagi tentang pandanganku soal cinta. Sepertinya aku sudah cukup dewasa kok dan berpengalaman untuk ngomongin cinta. (Terus ngomong gini dengan songongnya saat berstatus jomblo)

Tulisan ini didedikasikan untuk orang-orang yang butuh cinta (?). Atau butuh cina (eh gimana chik maksudnya?)

Buat aku. Cinta itu seperti segelas kopi panas, yang harus diminum pelan-pelan. Kalau ga, nanti bibirmu melepuh. Tapi juga jangan didiamkan terlalu lama, nanti ga enak. Kalau sudah ga enak, takutnya nanti kamu buang. Kasihan.

Buat aku. Cinta itu seperti salju. Putih. Bersih. Cantik. Selalu ditunggu. Tapi kadang terlalu cepat hilang. Kan aku jadi sedih.

Buat aku. Cinta itu seperti hujan. Yang selalu aku suka, kapanpun datangnya. Selalu menenangkan. Selalu aku tunggu. Meski kadang jarang datang. Dan kadang menjadi sedikit menyebalkan. Tapi tetap selalu bikin aku senang.



Buat aku. Cinta itu seperti sekolah. Tempat yang menarik untuk belajar. Tempat yang menyenangkan untuk mencari kesibukan. Tapi juga tempat yang melelahkan, dan selalu dikeluhkan. Meskipun pada akhirnya selalu dirindukan. Aku jadi rindu sekolah.

Buat aku. Cinta itu seperti cuaca di Malang. Dingin. Tapi menyenangkan. Aku suka.  

Buat aku. Cinta itu seperti kucing di asramaku. Aku datang, dia memanggil. Aku mendekat, dia lari menjauh. Aku bertanya kenapa, dia berdiam diri. Jadi aku harus apa?

Buat aku. Cinta itu seperti buku. Meski tahu kalau akan berakhir, masih akan tetap kubuka dan kubaca. Kalau aku suka, akan kubaca pelan-pelan. Biar ga cepat habis, kataku. Kalau sudah habis, nanti aku bingung. Bingung cari buku yang lebih bagus. Yang lebih kusuka.

Buat aku. Cinta itu seperti sepatu. Harus pas. Kalau ga pas, nanti sakit. Kasian. Mending dilepas, cari yang baru. Tapi kalau sudah pas, jangan lupa dirawat, nanti cepat rusak, kan sayang. Beli yang baru mahal, belum tentu juga pas.

Buat aku. Cinta itu seperti anak kecil. Manja. Banyak tanya. Menuntut diperhatikan. Menuntut diiyakan. Tapi, pada akhirnya tetap saja menggemaskan.

Buat aku. Cinta itu seperti belajar main gitar. Sakit. Tapi masih diterusin. Kenapa? Karena suka. 

Buat aku. Cinta itu seperti coklat. Manis. Tapi ga boleh kebanyakan. Nanti eneg.

Buat aku. Cinta itu seperti langit biru. Semu. Ga pernah ada langit biru. Yang ada hanya langit yang merefleksikan cahaya sampai terlihat biru. Tapi tetap indah kan.

Buat aku. Cinta itu seperti Youtube. Banyak channelnya. Banyak yang seru. Banyak juga yang sesat sih. Tinggal pilih.

Buat aku. Cinta itu seperti es krim di kulkasku. Aku sering lupa kalau sudah punya.

Buat aku. Cinta itu seperti warna biru. Yang selalu aku suka. Kenapa? Ga tau. Sekarang lagi mau suka aja. 




Sunday, February 4, 2018

Kamu. Terima kasihku.

Kamu.
Senandungku dalam pilu.

Kamu.
Langkahku yang ternyata penuh ragu.

Kamu.
Tatapanku yang terbuat dari rindu.

Kamu.
Tawa di sudut sendu.

Kamu.
Yang selalu kupikir adalah aku.

Kamu.
Masa depanku yang ternyata semu.

Kamu.
Cerita manisku di sudut kalbu.

Kamu.
Terima kasihku di ujung temu.


(Wijharnasir, 2017 - lagi sedih) 

(2018 - si Wijharnasir sudah tidak sedih, hehe, cuma rindu, dengan kenangan)


"Terkadang ada hal yang lebih patut untuk jadi kenangan daripada diulang. Terima kasih sudah menjadi kenangan. Terima kasih untuk tidak mengulang. Kalau mengulang, berarti nilainya dibawah 70. Dapat C."




Tuesday, May 13, 2014

My First Holiday :) Feels Like Tiramissu Cake

Yuhuu...
As i've been told you in my post before. I will share about my holiday with him. :D

"Ketika jenuh datang, kemasi ranselmu dan pergilah sejenak dari rutinitasmu.Dan nikmati kenangan yang akan datang."
Yaaaayyy :)) , holiday pertama dimulai dari rencana mendadak kami berdua untuk pergi ke Jogja. Sebenarnya kami bepergian dengan modal nekat, karena kedua orangtuaku hampir tidak pernah mengizinkanku bepergian. Ternyata, surpriseeee :p orangtuaku mengizinkanku berlibur. Liburan kali ini adalah kali kedua aku naik kereta api dan kali pertama untuknya naik kereta api. Singkat cerita kami berhasil memesan tiket kereta api dengan modal nekat dan ketidaktahuan bagaimana cara memesan tiket kereta api bahkan jalan menuju stasiun Gubeng Surabaya. Namun pada akhirnya kami berhasil sampai stasiun dan naik kereta tepat waktu.

Enam jam. Enam jam perjalanan yang menyenangkan, kiri-kanan pemandangan yang dinikmati sawah, sawah, dan sawah. Menyenangkan memang untuk awal-awal perjalanan, namun untuk aku yang tidak bisa berdiam diri dalam waktu lama-kelamaan sawah-sawah itu semakin membuatku mengantuk.
Sampai akhirnya sampaaaai di Jogjakarta. Pertama kalinya untuk kami berdua menginjakkan kaki di Jogjakarta, tanpa tahu jalan, dan hanya mengandalkan bahasa Jawa yang seadanya. Hari pertama kami sampai di Jogjakarta, beberapa jam kami habiskan hanya untuk tersasar ke jalan yang kami sama sekali tidak tahu itu dimana hanya untuk mencari hotel yang kami akan tempati. Hari pertama, kedua, dan ketiga dihabiskan dengan bersantai di hotel,jalan-jalan ke Malioboro, benteng Vradenburg, dan berkeliling ke berbagai jalan di Jogjakarta . :)

Meskipun setiap perjalanan kami selalu diwarnai dengan adegan nyasar ke daerah entah dimanakah itu. Sebagai contoh, kami ingin ke Malioboro dari benteng Vradenburg tapi kami nyasar sampai ke Ringroad arah Klaten. Tidak masuk akal. Memang. Karena benteng Vradenburg berjarak sangat dekat dengan Malioboro dan kami nyasar ke daerah  yang sangat jauh. :) Yap, tetapi itulah kami. Kami menikmati setiap momen nyasar kami.

Hal paling konyol dan menyenangkan adalah pengalaman gempa pertama untuk kami berdua. Gempa yang cukup besar tiba-tiba menyapa Jogja. Dan yang menyenangkan adalah gempa ini memilih untuk datang pada saat kami berdua di Jogja. Dua orang yang tidak pernah merasakan gempa dan bukannya ketakutan tapi menjadi sangat senang. Konyol. Memang. Tapi ya begitulah kami. Momen ini adalah salah satu momen menyenangkan menurut kami. Di saat kami sedang bersantai di dalam hotel, tiba-tiba gempa besar datang dan kami hanya berdiam diri karena kami pikir itu adalah halusinasi. Saat TV dan dinding mulai bergetar dengan cepat barulah kami menyadari bahwa itu gempa. Hal pertama yang kami lakukan ketika gempa datang bukan menyelamatkan diri melainkan tertawa senang. :) Bahaya memang. Tapi yasudahlah. Pegawai hotel pun tidak membantu dengan baik, bukannya membantu kami menyelamatkan diri. Dia menenangkan kami dan tamu lain di lantai itu, tapi yang menyebalkan setelah menenangkan kami, gempa susulan datang dan dia berlari terlebih dahulu tanpa mengajak kami. Sementara di lantai tersebut seluruh tamu adalah tamu bule kecuali kami dimana sudah jelas kami semua amatiran dalam menghadapi gempa. Tapi ini layak untuk dikenang. Dengan judul kenangan , -Mas penjaga hotel yang panik-

Aku tidak terlalu banyak mendokumentasikan perjalanan liburanku kali ini. Aku terlalu menikmati setiap hal-hal kecil yang terjadi di liburanku. Jogja. Kota pertama yang kami kunjungi bersama untuk pertama kalinya - dengan judul berlibur - . Kota Jogja yang memberikan pengalaman menarik dan sangat menyenangkan. Kota yang pertama yang memberikan keberanian kami untuk berkelana tanpa arah dan hanya bermodal uang dan handphone. 

Liburan yang terasa seperti Tiramissu Cake. Cake favoritku yang terasa pahit dan manis di setiap suapannya. Cake yang selalu meninggalkan aroma khas dari suapan pertama sampai dengan suapan terakhirnya. Cake yang selalu membuatku menikmati setiap momen suapan yang kumakan. Begitu juga dengan liburan kali ini. Setiap momen "zonk", "nyasar", dan bahkan gempa pun kami nikmati dengan antusias.

"Jangan pernah melewatkan dan menyalahkan setiap momen di kehidupanmu dengan kesedihan ataupun penyesalan. Enjoy every single moment :)"
My last message for you:

Jangan pernah terpukau dengan gempa meskipun kalian belum pernah terkena gempa. Bahaya.



Monday, May 12, 2014

I Found The New One

I have not been write in this blog for a long time. A long time that i have spend with many experiences and many happy things :)

As my post before, i told you that i have to heal myself from that stupid broken heart. Finally, it happens. You move on from your broken heart, when you falling in love again. It really happens :) , when he said to me like this, "now we're just heal ourself, we tried to having fun , forget ur past, but how about when we falling in love each other?" Then i said, "okay, let's think about it next time, not now." 

Taraaa....suddenly we have a relationship in 2 weeks later. :) Suprise for you, he's my new brother that i've told you in my last post before.







Aku mungkin sudah melewati waktu-waktu bersedih yang cukup berat, bukan hanya bersedih karena hubungan yang selesai, tapi juga bersedih untuk banyak hal buruk yang sepertinya sedang senang mendatangiku bergiliran. Aku mungkin terlihat dapat move-on dengan cepat. Namun aku sebenarnya bukan move-on dengan cepat, tapi aku menemukan orang baru yang tepat dengan cepat.

Pernahkah kalian menemukan orang lain yang mengerti pikiran kalian tanpa kalian harus berbicara? Pernahkah kalian menemukan orang lain yang memiliki kesamaan masa kecil bahkan sampai ke hal sepele sekalipun? Pernahkah kalian menemukan orang lain yang hampir selalu mengeluarkan kata-kata yang sama setiap kalian berbicara? Pernahkah kalian merasa bersenang-senang dengan satu orang sudah lebih dari cukup? Pernahkah kalian merasa tersetrum saat bertemu seseorang? Aku pernah. Dan hanya satu kali. Kali ini. Mungkin memang terdengar seperti cerita novel roman picisan. But it's real. I just share what i feel.


Mungkin memang benar kalimat bahwa Tuhan selalu tidak pernah salah mempertemukan kita dengan orang baru. Tuhan memisahkan kita dengan orang yang tidak tepat dan mempertemukan kita kembali dengan orang yang lebih tepat. Begitulah cara kerja Tuhan. Keren.

Seharusnya aku menulis ini 5 bulan yang lalu, saat semuanya baru dimulai. Tapi kesibukan dan banyak hal membuatku baru menulisnya sekarang. Tapi menurutku ga ada masalah karena  5 bulan yang lalu ataupun sekarang perasaan ini tetap sama. Ini jelas berbeda dari hal yang selama ini aku rasakan. Bukan berniat untuk membandingkan. No offense :D . Just share it.

Dalam 5 bulan ini aku belajar banyak hal. Hal pertama adalah aku belajar bagaimana cara bersenang-senang. Hal kedua adalah aku belajar bagaimana cara menipu orang lain bahwa kami adalah kaka beradik, hanya karena wajah kami berdua yang seringkali dibilang mirip. Maybe in our past life, we're twins. Maybe. Who knows, right? Hal ketiga adalah aku belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah dan berdiskusi. 

Mungkin aku selesaikan tulisan ini sampai disini. Jika tulisan ini diteruskan maka makin lama semakin mirip dengan novel-novel roman yang kalian dan aku baca. Dan yang jelas aku tidak ingin dikutuk oleh para single-single a.k.a jombloers yang iri hati membaca ini :p

Next time, aku akan bercerita tentang liburanku ke Jogja, Bali, dan Taman Safari Prigen :D

By the way, thanks for your "do stupid things together" . I always love theway you smile and theway you show me your rabbit  teeth. :D


Sunday, December 8, 2013

It's hard to think but It's too sweet to feel

Suatu hari aku membaca catatan kecil di suatu halaman notes seniorku, seniorku di kampus yang bernama Kak Nadia. Aku membaca kalimat seperti ini,

"Cinta itu seperti kopi panas. Ga enak kalau langsung diminum setelah dihidangkan, karena terlalu panas. Tapi ga akan enak jika dibiarkan lama karena sudah terlalu dingin untuk dinikmati."

Dari kalimat itu aku baru sadar, ternyata cinta memang seperti kopi panas. Pada saat baru dihidangkan akan terlalu panas untuk dinikmati, akan terasa berlebihan. Tapi jika dibiarkan terlalu lama maka akan mendingin dengan sendirinya dan tidak enak untuk dinikmati. 

Aku memang masih seorang anak perempuan kecil yang belum mengerti tentang cinta. Aku tidak pernah bisa mengerti apa yang didefiniskan orang lain mengenai cinta. Aku hanya memiliki dua definisi mengenai itu. Cinta itu seperti coklat dan kopi panas.

Aku seorang pencinta kebebasan, aku tidak menyukai keadaan terkekang. Menurutku cinta tidak harus memiliki. Tapi terkadang cinta memang harus memiliki. What a paradox. 



"Cinta itu tidak hanya seperti kopi panas, tapi juga seperti coklat. Coklat akan sangat manis untuk dinikmati sedikit demi sedikit, tetapi coklat akan menjadi hal yang memuakkan jika dinikmati berlebihan dan akan mencair jika didiamkan terlalu lama."


Monday, November 25, 2013

Just Wanna Heal Myself

Setiap cerita pasti mempunyai akhir. Setiap buku pasti akan memiliki waktu saat dia ditutup dan cerita telah selesai. Begitu pula ceritaku. Waktu telah menjawabnya. Setiap orang akan datang dan pergi di kehidupan kita, entah Tuhan akan mengizinkan orang itu tinggal untuk selamanya ataupun hanya sementara.

Sedih dan kehilangan pasti akan selalu dialami saat semua keadaan yang telah menjadi rutinitas kita tiba-tiba berubah. Aku menulis ini tidak untuk menceritakan cerita sedih. Aku menulis ini hanya untuk membagi pemikiranku tentang hubungan yang telah berakhir. Meskipun pengantar dari tulisan ini terlihat galau, tapi aku menulis ini dalam keadaan baik-baik saja dan tidak galau. Aku telah berhasil melewatinya, aku yakin semua orang akan bisa melewatinya, waktu, sahabat, dan keluarga adalah obat penyembuh terbaik.

Meskipun orang tersebut telah berhasil membuka kotak pandoraku, meskipun orang tersebut telah menjadi orang yang berhasil menyingkirkan pokerfaceku, tapi waktu dan takdir memberikan jawaban yang berbeda. Setiap orang datang  dan pergi tanpa diduga, tiba-tiba saja suatu saat kita akan bertemu dengan orang yang tidak pernah kita sangka dan suatu saat orang terdekat kita akan pergi meninggalkan kita.

Kehidupan memang ajaib. Aku selalu terkagum-kagum dengan cara kerja Tuhan dalam mempertemukan dan memisahkan manusia. Tuhan memberikan suatu kejadian yang biasanya kita sebut "cosmological coincidence" yang pada dasarnya itu adalah takdir yang digariskan Tuhan dan kejadian yang kita tarik sendiri dari pemikiran kita. Aku sangat percaya bahwa setiap  kejadian itu terjadi karena pada dasarnya pemikiran kita sendirilah yang menginginkannya. 

I write this story  to heal myself. Obat terbaik untuk menghilangkan kesedihan dan kesepian memang berbagi dengan orang lain. Aku telah berhasil menyembuhkan diri dan berbagi dengan orang lain. Setiap kejadian memang terjadi dengan pelajaran dibaliknya. Tuhan memang adil, Tuhan memberi hak kepada setiap manusia untuk memilih bahagia atau tidak. Kesedihan ada untuk melengkapi kebahagiaan seperti halnya ketidak sempurnaan yang ada untuk melengkapi kesempurnaan. Bersedih bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, menurutku setiap manusia membutuhkan waktu bersedih dan waktu sendiri. Setiap orang membutuhkan waktu untuk menikmati kesedihannya. Hal yang terpenting bukanlah seberapa lama kamu bersedih namun seberapa bisa kamu menyembuhkan dirimu sendiri.

Aku bersyukur telah melewati berbagai hal dalam hidup. Setidaknya hidupku tidak sedatar papan. Terkadang kita memang membutuhkan waktu untuk kembali fokus kepada diri kita sendiri. Terkadang kita terlalu fokus kepada hubungan dengan pasangan kita dan melupakan impian kita, kebahagiaan kita. Seperti halnya komputer yang seringkali harus direfresh, kehidupan kita juga harus direfresh. Bukan untuk menghilangkan kenangan namun untuk menyegarkan kembali kehidupan kita dan mengisinya kembali dengan calon-calon kenangan lainnya. 

Bukan seseorang yang susah untuk dilupakan tapi kenangan dengan seseorang itulah yang susah dilupakan. Ikhlas, menurutku itu adalah obat terbaik. Kenangan bukan untuk dihapuskan tapi untuk disimpan menjadi salah satu pengisi laci otak kita. Pada intinya dari semua hal yang aku bicarakan diatas adalah "syukuri kejadian apapun yang diberikan Tuhan kepada kita". Aku bukanlah munafik ataupun menghibur diri, tapi aku berusaha mempercayai   pikiranku dan kepercayaan hidupku. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memberikan takdirnya. Tuhan tidak pernah salah memperkenalkan kita dengan orang-orang baru. Berbahagialah di dalam kesedihanmu. Bersedih bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, nikmatilah kesedihanmu. Syukuri kesedihanmu maka kamu akan mendapatkan bahwa kebahagiaanmu menjadi lebih indah.

Mungkin aku mendapatkan pemikiran ini tidak sendiri. Aku berterima kasih untuk orang-orang terdekatku, orang-orang yang baru kukenal namun bisa memberikan pemikiran bagus. Aku berterima kasih untuk kesempatan "do stupid things together" yang memberikan cukup semangat dan banyak pemikiran baru dalam hidupku. Thanks to my family, my bestfriend, my ex, and my new brother. :D Thank you for being mine for all of you. Thank you God, I always love you.





Monday, August 27, 2012

Since I Met You :)


Isi blog yang sedikit berbeda kali ini. Sedikit cerita, curhat, atau apapun lah sebutannya. Just for sharing, so he can read it and smile secretly. 



Dimulai dari kenekatanku, keisenganku, dan ke sksd an ku untuk memanggil kenalan baruku. Fahmi. Teman baruku di kampus ini. Memang ga ada maksud apa-apa, aku cuma iseng manggil karena aku kehilangan temanku.

Ini cerita dari 1 tahun yang lalu. Aku Chiko, 1 tahun yang lalu aku masih menjadi mahasiswa baru di Siskal, ITS. Aku berusaha beradaptasi dengan banyak teman baru dari berbagai daerah, aku kembali memasang pokerfaceku. Aku selalu tertawa, tersenyum, bertingkah seperti anak-anak. Meskipun untuk poin terakhir itu adalah pembawaan alami ku. Aku melakukan hal itu supaya orang akan mengingatku dengan image yang baik.

SCC. Gedung di ITS yang menjadi tempat diadakannya UKM expo. Ini adalah pertunjukan dan pameran-pameran yang diadakan oleh UKM UKM di ITS. Dimulai dari melihat buku panduan mahasiswa baru, aku melihat UKM Kendo. Aku pun memutuskan pergi ke UKM expo dengan teman-teman baruku. Aku ga tau, kenapa aku ga bisa berbaur dengan cewe-cewe di jurusanku. Aku merasa, aku beda. Aku Cuma bisa berbasa basi dengan mereka bahkan untuk mengajak mereka ke UKM expo pun aku enggan, aku juga merasa aku sedikit tersisih dari mereka. Kemudian aku akhirnya pergi dengan segerombolan anak laki-laki, teman se kampusku.

Aku ga tau, entah mungkin aku terlalu kecil, atau aku ga kasat mata sampai teman-temanku meninggalkanku. Sendirian. Di tengah kerumunan banyak orang, aku sudah merasa seperti anak hilang. Anak hilang yang kesenangan lebih tepatnya. Aku terlalu senang melihat banyak stand UKM yang aku minati, aku mengambil banyak formulir dan dengan kalap mengunjungi semuanya seorang diri. Memang ini yang aku inginkan sebenarnya. Aku lebih suka menikmati momen seperti ini sendirian. Bebas kemana saja tanpa harus berusaha menyamakan minat. Mungkin ini alasanku jarang mengatakan iya setiap diajak oleh teman-teman ceweku untung shopping. Ya. Seleraku berbeda. Aku masih ga mengerti bagaimana sebuah bando pita besar yang seakan-akan menutupi seluruh kepalamu bisa dikatakan lucu. Menurutku lucu itu adalah boneka hewan di Gramedia ataupun topi berbentuk kepala hewan. Bisa juga sebuah T shirt bergambar muka spongebob besar di bagian depan. Berbeda. Mungkin aku terbiasa untuk menjadi berbeda bahkan aku rela memotong pendek rambut sepinggangku menjadi seleher hanya supaya terlihat beda dari anak-anak seumurku.

Di depan stand kendo.Tiba-tiba aku melihat teman sekampusku. Aku sangat familiar dengan mukanya, Chinese dan menyeramkan. Yah terdengar rasis tapi memang dia terlihat menyeramkan. Dia sedang berdua dengan temannya yang aku tau pasti, dia juga anak siskal. Yah aku bukan peramal, aku Cuma tau karena dia memakai baju dengan warna merah marun sama sepertiku dan anak-anak siskal lainnya. Aku bertaruh apa aku berani untuk memanggil mereka, mungkin se enggak nya untuk berkenalan dengan teman Fahmi itu. Aku coba memanggil nama Fahmi sambil melambai-lambaikan tangan. Aku yakin saat itu aku terlihat seperti anak hilang tapi siapa yang peduli toh mungkin mereka akan melupakan namaku seperti anak-anak lainnya dan akan kembali menanyakan namaku keesokan harinya. Mereka tertawa, tertawa setelah celingukan sebelumnya mencari asal suara. Sial. Apa aku memang sependek itu untuk ukuran mereka.

Kami berkenalan dan berbasa basi dengan teks yang memang sudah kuhafal di luar kepala. Saking seringnya aku mengucapkan kalimat itu untuk mengawali perkenalan sejak aku masuk kampus ini. Dan ternyata, surprise…, teman si fahmi itu ternyata juga mau masuk UKM Kendo. Hafidh. Aku berkali-kali salah mendengar namanya menjadi David. Entah telingaku bermasalah atau aku lagi ga konsen, entahlah ga konsen kenapa.

Tinggi, besar, taringnya gingsul, berwajah Arab. Itu yang kuingat pertama kali dari hafidh. Kontras sekali dengan Fahmi yang berwajah oriental. Satu hal yang aku pikirkan begitu melihatnya. Iri. Ya iri, kenapa Tuhan memberikan tinggi begitu banyak ke satu orang sementara satu orang lainnya kekurangan tinggi. Aku yakin dia akan terlihat keren memegang pedang bamboo di kendo yang entah apalah itu namanya. Ga akan seperti aku yang terlihat seperti anak SD yang membawa pedang mainan untuk main perang-perangan. Iri dan heran. Aku  heran kenapa aku mau saja menjelaskan tentang apa saja kegiatan di UKM Kendo yang sudah aku dengar di hari sebelumnya, sewaktu aku datang ke stand ini di hari pertama. Aku heran kenapa aku mau saja susah payah mendongakkan kepala untuk berbicara dan melihat matanya. Aku memang terbiasa berbicara dengan melihat mata lawan bicaraku dan itu akan terasa sangat melelahkan saat lawan bicaraku adalah orang dengan selisih tinggi yang cukup jauh dengan aku. Rasanya aku ingin naik ke meja stand dan duduk di atasnya supaya mata kami sejajar dan aku ga perlu susah payah mendongakkan kepala lama-lama untuk menjelaskannya.

Aku berniat pergi dan membawa formulirnya untuk aku dan teman-temanku yang menitip formulir juga. Ternyata formulirnya habis, satu formulir terakhir tersisa dan berdiam diri di meja menunggu untuk kubawa pulang atau kubiarkan Hafidh membawa pulang. Aku ambil formulir itu, aku yakin dia akan mengalah kepada anak kecil. Aku ga tau kenapa, cara dia melihatku seperti dia melihat anak kecil. Memang aku yakin umurku lebih muda darinya, tapi aku ga sekecil itu. Positive thinking, mungkin aku mirip adik perempuannya dan dia kangen dengan adik perempuannya begitu melihatku yang baby face lucu imut nan menggemaskan ini.

Oke mungkin terdengar seperti cerita komik, novel, atau sebangsanya. Saling berebut buku, baju, dan apalah yang sebangsanya dan kemudian bertukar nomor hape. Tapi memang seperti itu yang kualami, mungkin minus bagian berebut. Kami ga berebut kertas formulir, tapi aku merebutnya secara tersirat. Namun kemudian aku merasa bersalah. Habisnya dia diam saja melihat aku mengambilnya, seenggaknya protes atau komentar yang nantinya pasti akan aku bantah habis-habisan. Tapi karena dia diam saja, aku jadi salah tingkah. Aku berjanji akan memfotokopikan kertas itu dan memberikannya besok di kampus. Lihat, aku baik sekali kan. Aku baru kenal dia dan aku mau saja membuang tinta printerku untuk dia. Aku memang bukan orang pelit  tapi untuk masalah tinta printer, aku memang sedikit berhemat dan berpikir dua kali. Ekonomis, mungkin itu lebih menggambarkan.

Aku punya kebiasaan jelek, aku sering bengong saat orang lain mengajak aku bicara. Saat itu aku kembali bengong, aku bengong melihat anggota teater menggunakan kostum hitam-hitam, tertawa seperti orang gila, dan riasan mukanya seperti badut lengkap dengan hidung merahnya. Mampus. Aku takut badut, aku sudah sok-sok berani daritadi ngobrol di depan stand kendo yang tepat ada di sebelah stand teater, aku tetap berusaha stay cool meskipun aku mendengar suara-suara ketawa mirip setan itu. Aku ga begitu suka teater, aku ga bisa menangkap makna yang ingin mereka sampaikan dengan gerakan-gerakan yang menurutku terlihat seperti orang yang kerasukan. Dan mengapa kedua orang di depanku ini ga ada yang peka untuk cepat pergi dari sini, mungkin karena di sekeliling kami banyak cewe-cewe teater yang cantik. Ah, lelaki.

Dan saat aku bengong tiba-tiba saja dia menodongkan hapenya seperti menodongkan pisau di depan mukaku, menyuruhku untuk memasukkan nomor handphone ku ke phonebook dia. Hal pertama yang aku pikir, handphonenya bagus, keren, ini handphone yang inginkan sejak lama. Sial, aku jadi kepikir untuk mengambilnya, memasukkannya ke dalam saku celana, dan lari kabur meninggalkan mereka. Saat tiba-tiba aku ingat apa yang dia bilang, dia menyuruhku untuk memasukkan nomorku?! Bukan, bukan masalah dia terlihat sok kenal padaku, tapi masalahnya adalah aku gaptek dan ga bisa pakai handphone touchscreen. Handphone dia full touchscreen. Entahlah dia sadar atau ga perubahan mukaku. Mungkin dia pikir aku merasa ilfeel padanya atau entahlah apa yang dipikirkannya. Aku ambil handphonenya dan mencoba untuk memasukkan nomor handphoneku ke phonebooknya. Sial, susah sekali. Berulang kali aku salah pencet dan untuk memasukkan 1 angka aku harus mengulang sebanyak 3-5 kali. Aku gengsi, gengsi untuk menunjukkan kalau aku ga bisa pakai touchscreen. Aku kembalikan handphonenya ke dia dan kusuruh dia yang memasukkan nomorku sendiri dengan alasan dia yang perlu. Aku menyebutkan nomor handphoneku dengan cepat untuk menutupi rasa Maluku dan mencegahnya berpikir bahwa alasanku tadi mengada-ada. Akhirnya, kami sukses bertukar nomor handphone.

Aku lupa kalau aku pergi kesini nebeng dengan teman-temanku dan sekarang sepertinya aku ditinggalkan oleh mereka. Aku celingukan dengan canggung ke segala arah untuk melihat apakah mereka masih ada di gedung itu. Sayang sekali postur badanku menghalangiku untuk melihat ke semuanya, di institut ini terlalu banyak cowo yang berarti terlalu banyak orang yang lebih tinggi dari aku. Kami bertiga terdiam di tengah-tengah kerumunan orang, diam, canggung, kehabisan bahan pembicaraan. Kemudian ga tau siapa yang memulai kami sudah duduk di bangku yang ada di dekat panggung yang saat itu dijadikan panggung untuk penampilan UKM Band. Aku putus asa, aku ga tau bagaimana caranya aku pulang nanti. Aku mencoba iseng bertanya ke mereka, mereka pergi kesini dengan siapa dan naik apa. Jawaban yang aku dapat mengecewakan, ternyata mereka naik motor dan berboncengan berdua. Jelas sangat tidak mungkin aku ikut mereka, kecuali aku diletakkan di depan dan jelas aku sangat menolak hal itu. Semoga mereka ga menangkap kalau sebenarnya aku tadi ingin nebeng mereka untuk pulang.

Hening. Mati gaya, kami semua mati gaya dan habis bahan pembicaraan. Aku benci situasi seperti ini. Aku memang bawel dan cerewet, aku selalu menemukan bahan pembicaraan. Dimulai dari aku bertanya alasan Hafidh untuk ikut Kendo sampai akhirnya kami bertukar cerita tentang komik. Fahmi terlupakan, ya bukan salah kami menurutku. Dia terlalu asik dengan blackberrynya. Sedikit pembelaan diri memang, tapi itu kenyataan. Sampai akhirnya aku ga begitu ingat bagaimana pembicaraan kami berakhir dan aku pulang duluan saat melihat teman-temanku ternyata masih ada. Hari itu aku memang kesal dengan teman-temanku yang melupakanku tapi aku senang dengan tambahan teman baruku. Kupikir dia pasti akan menjadi teman menyenangkan untuk berbagi cerita tentang  hobi kami. Dia juga ga mengejek pilihanku untuk masuk kendo dan dia juga ga mengungkit sedikitpun tentang umurku. Aku benci saat banyak orang lain mempermasalahkan umurku yang lebih muda dari mereka dan mempermasalahkan penyebabnya sampai akhirnya entah dari siapa mereka tau aku adalah anak akselerasi. Aku benci orang lain melihatku dari image itu. Aku adalah Chiko. Aku ingin dikenal sebagai diriku bukan sebagai chiko anak akselerasi lagi.

Aku senang mendapatkan teman sependapat dan sehobi, dan jujur aku suka dengan badan tingginya.

Tuhan memang Maha penyusun rencana. Kita ga akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Kita hanya cukup menjalani dan menikmati semua kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan. Aku suka konsep berpikir seperti ini, ga ambisius, ikhlas, dan hidup dengan senyuman.

Aku ga pernah menyangka bahwa ini semua hanya dimulai dari sebuah sapaan. Namaku Chiko dan namanya Hafidh. Dari sore itulah cerita kami dimulai. J


Thursday, July 26, 2012

LDR , be strong guys :)



LDR? Lagi. Aku membahas LDR lagi, sebelumnya aku sudah pernah nulis tentang LDR di blog ini. Entah kenapa aku kepikiran untuk nulis tentang ini lagi. Semua dimulai dari tahun ajaran baru.

Tahun ajaran baru? Mungkin banyak yang sudah mengerti apa hubungan antara tahun ajaran baru dengan LDR.

Tahun ajaran baru ==> Sekolah/Kampus baru ==> Tempat tinggal baru ==> LDR :)

Teman-temanku banyak yang baru masuk dunia perkuliahan tahun ini. welcome to the f**king world my friend. Hampir semua dari teman-temanku mengeluh mengenai LDR. Aku mungkin pernah ngerasain apa itu LDR, tapi entah kenapa dulu kayaknya aku ga sebimbang mereka. Mungkin karena bisa dibilang aku ga serius dulu dan masih...yah main-main lah. Kemudian disaat aku mulai serius dengan yang namanya cinta, aku dapat pacar yang satu kota, satu kampus, dan bahkan satu jurusan.

Tapi cukup banyak teman-temanku yang curhat mengenai LDR ke aku, mungkin mereka menganggap aku lebih berpengalaman. Hey guys, aku baru pacaran 2 kali dan ga sebanyak kalian, dari sisi mana kalian menganggap aku berpengalaman?

Jujur, aku juga khawatir dengan LDR. Pacarku yang sekarang punya impian untuk kuliah ke Jerman dan aku tahu itu akan terlaksana dalam waktu dekat. Aku takut aku ga bisa menerima keadaan, aku terbiasa dengan kehadirannya. Mungkin seperti itu juga perasaan teman-temanku yang akan LDR. Kekhawatiran utama mereka, apakah semua akan berjalan seperti dulu. Apakah mereka akan tetap baik-baik saja, apakah ga akan ada yang berkhianat dan dikhianati. 

Aku sebenarnya juga ga bisa menjamin semua akan baik-baik saja. Aku bingung bagaimana caranya menyampaikan maksudku ke mereka. Mereka takut jika nanti hubungan mereka berakhir saat mereka sendirian di kota perantauan mereka, mereka akan sangat down dan depresi, mereka juga takut  mereka tidak sanggup untuk dikhianati. 

Akhirnya sebelum aku bisa menyampaikan maksudku mereka menyimpulkan jangan pernah mencintai seseorang terlalu dalam. Jadi mereka akan sanggup berpisah kapanpun dengan pacar mereka.

Aku terima pendapat itu. Tapi bukankah hidup itu seperti game. Di saat kamu menekan tombol start berarti kamu sudah siap untuk bertarung melawan semua tantangan yang ada. Bukankah sebuah game tidak akan seru kalau sang tokoh hanya perlu berjalan lurus tanpa ada tantangan? Begitu juga hidup. Aku berusaha menganggap pacaran juga adalah game. Aku menekan tombol start dan berusaha mempertahankan tokoh gameku untuk tetap bisa hidup dan meningkat levelnya. Apakah kita pernah berpikir bagaimana jika Game Over saat kita menekan tombol start? Bukankah kita memainkan game itu dengan ikhlas dan bersedia menerima semua hasilnya? Hanya satu yang berbeda, tidak ada tombol restart di kehidupan seperti layaknya game. 

LDR memang jelas akan terasa berbeda dengan kondisi pacaran orang lain. Tapi hidup ini tidak hanya berputar di pasangan hidup kan? Kita bisa melakukan banyak kegiatan selain itu.

Menurutku tidak ada salahnya untuk mencintai seseorang dengan begitu dalam, kalau kita berusaha untuk tidak mencintainya agar tidak merasakan sakit. Bukankah itu bukan cinta? Apakah itu sebuah bentuk keikhlasan? Bukankah lebih baik jangan pernah memulai sesuatu tanpa keyakinan dan keikhlasan. 

Aku yang sudah terbiasa pergi kemana-kemana dengan pacarku pun mencoba untuk LDR dengan skala kecil, hanya 2 bulan. Kami pulang ke kota masing-masing. AND IT SO INTERESTING. Perasaan saat kamu mendapat telpon setelah lama ga mendengar suaranya, perasaan saat kamu menerima sms darinya. Try it guys :) I believe you will love it. Very love it.

Mungkin quote yang aku kutip dari sebuah sinetron ini juga bagus untuk mereka, teman-temanku yang LDR.

"Jika jarak diciptakan agar kita menghargai rasa rindu maka rasa rindu diciptakan agar kita dapat menghargai waktu"

Belajarlah untuk menerima keadaan. Semua keadaan itu adalah takdir dan takdir akan memberikan akhir yang indah. Jika itu bukan hal indah berarti itu bukanlah sebuah akhir.

Semoga mereka-mereka yang akan LDR atau sedang LDR membaca tulisanku ini. God Bless You All :)