Isi blog yang sedikit berbeda kali ini. Sedikit cerita, curhat, atau apapun lah sebutannya. Just for sharing, so he can read it and smile secretly.
Dimulai
dari kenekatanku, keisenganku, dan ke sksd an ku untuk memanggil kenalan
baruku. Fahmi. Teman baruku di kampus ini. Memang ga ada maksud apa-apa, aku
cuma iseng manggil karena aku kehilangan temanku.
Ini
cerita dari 1 tahun yang lalu. Aku Chiko, 1 tahun yang lalu aku masih menjadi
mahasiswa baru di Siskal, ITS. Aku berusaha beradaptasi dengan banyak teman
baru dari berbagai daerah, aku kembali memasang pokerfaceku. Aku selalu
tertawa, tersenyum, bertingkah seperti anak-anak. Meskipun untuk poin terakhir
itu adalah pembawaan alami ku. Aku melakukan hal itu supaya orang akan
mengingatku dengan image yang baik.
SCC.
Gedung di ITS yang menjadi tempat diadakannya UKM expo. Ini adalah pertunjukan
dan pameran-pameran yang diadakan oleh UKM UKM di ITS. Dimulai dari melihat
buku panduan mahasiswa baru, aku melihat UKM Kendo. Aku pun memutuskan pergi ke
UKM expo dengan teman-teman baruku. Aku ga tau, kenapa aku ga bisa berbaur
dengan cewe-cewe di jurusanku. Aku merasa, aku beda. Aku Cuma bisa berbasa basi
dengan mereka bahkan untuk mengajak mereka ke UKM expo pun aku enggan, aku juga
merasa aku sedikit tersisih dari mereka. Kemudian aku akhirnya pergi dengan
segerombolan anak laki-laki, teman se kampusku.
Aku
ga tau, entah mungkin aku terlalu kecil, atau aku ga kasat mata sampai
teman-temanku meninggalkanku. Sendirian. Di tengah kerumunan banyak orang, aku
sudah merasa seperti anak hilang. Anak hilang yang kesenangan lebih tepatnya.
Aku terlalu senang melihat banyak stand UKM yang aku minati, aku mengambil
banyak formulir dan dengan kalap mengunjungi semuanya seorang diri. Memang ini
yang aku inginkan sebenarnya. Aku lebih suka menikmati momen seperti ini
sendirian. Bebas kemana saja tanpa harus berusaha menyamakan minat. Mungkin ini
alasanku jarang mengatakan iya setiap diajak oleh teman-teman ceweku untung
shopping. Ya. Seleraku berbeda. Aku masih ga mengerti bagaimana sebuah bando
pita besar yang seakan-akan menutupi seluruh kepalamu bisa dikatakan lucu.
Menurutku lucu itu adalah boneka hewan di Gramedia ataupun topi berbentuk
kepala hewan. Bisa juga sebuah T shirt bergambar muka spongebob besar di bagian
depan. Berbeda. Mungkin aku terbiasa untuk menjadi berbeda bahkan aku rela
memotong pendek rambut sepinggangku menjadi seleher hanya supaya terlihat beda
dari anak-anak seumurku.
Di
depan stand kendo.Tiba-tiba aku melihat teman sekampusku. Aku sangat familiar
dengan mukanya, Chinese dan menyeramkan. Yah terdengar rasis tapi memang dia
terlihat menyeramkan. Dia sedang berdua dengan temannya yang aku tau pasti, dia
juga anak siskal. Yah aku bukan peramal, aku Cuma tau karena dia memakai baju
dengan warna merah marun sama sepertiku dan anak-anak siskal lainnya. Aku
bertaruh apa aku berani untuk memanggil mereka, mungkin se enggak nya untuk berkenalan
dengan teman Fahmi itu. Aku coba memanggil nama Fahmi sambil melambai-lambaikan
tangan. Aku yakin saat itu aku terlihat seperti anak hilang tapi siapa yang
peduli toh mungkin mereka akan melupakan namaku seperti anak-anak lainnya dan
akan kembali menanyakan namaku keesokan harinya. Mereka tertawa, tertawa
setelah celingukan sebelumnya mencari asal suara. Sial. Apa aku memang sependek
itu untuk ukuran mereka.
Kami
berkenalan dan berbasa basi dengan teks yang memang sudah kuhafal di luar
kepala. Saking seringnya aku mengucapkan kalimat itu untuk mengawali perkenalan
sejak aku masuk kampus ini. Dan ternyata, surprise…, teman si fahmi itu
ternyata juga mau masuk UKM Kendo. Hafidh. Aku berkali-kali salah mendengar
namanya menjadi David. Entah telingaku bermasalah atau aku lagi ga konsen,
entahlah ga konsen kenapa.
Tinggi,
besar, taringnya gingsul, berwajah Arab. Itu yang kuingat pertama kali dari
hafidh. Kontras sekali dengan Fahmi yang berwajah oriental. Satu hal yang aku
pikirkan begitu melihatnya. Iri. Ya iri, kenapa Tuhan memberikan tinggi begitu
banyak ke satu orang sementara satu orang lainnya kekurangan tinggi. Aku yakin
dia akan terlihat keren memegang pedang bamboo di kendo yang entah apalah itu
namanya. Ga akan seperti aku yang terlihat seperti anak SD yang membawa pedang
mainan untuk main perang-perangan. Iri dan heran. Aku heran kenapa aku mau saja menjelaskan tentang
apa saja kegiatan di UKM Kendo yang sudah aku dengar di hari sebelumnya,
sewaktu aku datang ke stand ini di hari pertama. Aku heran kenapa aku mau saja
susah payah mendongakkan kepala untuk berbicara dan melihat matanya. Aku memang
terbiasa berbicara dengan melihat mata lawan bicaraku dan itu akan terasa
sangat melelahkan saat lawan bicaraku adalah orang dengan selisih tinggi yang
cukup jauh dengan aku. Rasanya aku ingin naik ke meja stand dan duduk di
atasnya supaya mata kami sejajar dan aku ga perlu susah payah mendongakkan
kepala lama-lama untuk menjelaskannya.
Aku
berniat pergi dan membawa formulirnya untuk aku dan teman-temanku yang menitip
formulir juga. Ternyata formulirnya habis, satu formulir terakhir tersisa dan
berdiam diri di meja menunggu untuk kubawa pulang atau kubiarkan Hafidh membawa
pulang. Aku ambil formulir itu, aku yakin dia akan mengalah kepada anak kecil. Aku
ga tau kenapa, cara dia melihatku seperti dia melihat anak kecil. Memang aku
yakin umurku lebih muda darinya, tapi aku ga sekecil itu. Positive thinking,
mungkin aku mirip adik perempuannya dan dia kangen dengan adik perempuannya
begitu melihatku yang baby face lucu imut nan menggemaskan ini.
Oke
mungkin terdengar seperti cerita komik, novel, atau sebangsanya. Saling berebut
buku, baju, dan apalah yang sebangsanya dan kemudian bertukar nomor hape. Tapi
memang seperti itu yang kualami, mungkin minus bagian berebut. Kami ga berebut
kertas formulir, tapi aku merebutnya secara tersirat. Namun kemudian aku merasa
bersalah. Habisnya dia diam saja melihat aku mengambilnya, seenggaknya protes
atau komentar yang nantinya pasti akan aku bantah habis-habisan. Tapi karena
dia diam saja, aku jadi salah tingkah. Aku berjanji akan memfotokopikan kertas
itu dan memberikannya besok di kampus. Lihat, aku baik sekali kan. Aku baru
kenal dia dan aku mau saja membuang tinta printerku untuk dia. Aku memang bukan
orang pelit tapi untuk masalah tinta
printer, aku memang sedikit berhemat dan berpikir dua kali. Ekonomis, mungkin
itu lebih menggambarkan.
Aku
punya kebiasaan jelek, aku sering bengong saat orang lain mengajak aku bicara.
Saat itu aku kembali bengong, aku bengong melihat anggota teater menggunakan
kostum hitam-hitam, tertawa seperti orang gila, dan riasan mukanya seperti
badut lengkap dengan hidung merahnya. Mampus. Aku takut badut, aku sudah
sok-sok berani daritadi ngobrol di depan stand kendo yang tepat ada di sebelah
stand teater, aku tetap berusaha stay cool meskipun aku mendengar suara-suara
ketawa mirip setan itu. Aku ga begitu suka teater, aku ga bisa menangkap makna
yang ingin mereka sampaikan dengan gerakan-gerakan yang menurutku terlihat
seperti orang yang kerasukan. Dan mengapa kedua orang di depanku ini ga ada
yang peka untuk cepat pergi dari sini, mungkin karena di sekeliling kami banyak
cewe-cewe teater yang cantik. Ah, lelaki.
Dan
saat aku bengong tiba-tiba saja dia menodongkan hapenya seperti menodongkan
pisau di depan mukaku, menyuruhku untuk memasukkan nomor handphone ku ke
phonebook dia. Hal pertama yang aku pikir, handphonenya bagus, keren, ini
handphone yang inginkan sejak lama. Sial, aku jadi kepikir untuk mengambilnya,
memasukkannya ke dalam saku celana, dan lari kabur meninggalkan mereka. Saat
tiba-tiba aku ingat apa yang dia bilang, dia menyuruhku untuk memasukkan
nomorku?! Bukan, bukan masalah dia terlihat sok kenal padaku, tapi masalahnya
adalah aku gaptek dan ga bisa pakai handphone touchscreen. Handphone dia full
touchscreen. Entahlah dia sadar atau ga perubahan mukaku. Mungkin dia pikir aku
merasa ilfeel padanya atau entahlah apa yang dipikirkannya. Aku ambil
handphonenya dan mencoba untuk memasukkan nomor handphoneku ke phonebooknya. Sial,
susah sekali. Berulang kali aku salah pencet dan untuk memasukkan 1 angka aku
harus mengulang sebanyak 3-5 kali. Aku gengsi, gengsi untuk menunjukkan kalau
aku ga bisa pakai touchscreen. Aku kembalikan handphonenya ke dia dan kusuruh
dia yang memasukkan nomorku sendiri dengan alasan dia yang perlu. Aku
menyebutkan nomor handphoneku dengan cepat untuk menutupi rasa Maluku dan
mencegahnya berpikir bahwa alasanku tadi mengada-ada. Akhirnya, kami sukses
bertukar nomor handphone.
Aku
lupa kalau aku pergi kesini nebeng dengan teman-temanku dan sekarang sepertinya
aku ditinggalkan oleh mereka. Aku celingukan dengan canggung ke segala arah
untuk melihat apakah mereka masih ada di gedung itu. Sayang sekali postur
badanku menghalangiku untuk melihat ke semuanya, di institut ini terlalu banyak
cowo yang berarti terlalu banyak orang yang lebih tinggi dari aku. Kami bertiga
terdiam di tengah-tengah kerumunan orang, diam, canggung, kehabisan bahan
pembicaraan. Kemudian ga tau siapa yang memulai kami sudah duduk di bangku yang
ada di dekat panggung yang saat itu dijadikan panggung untuk penampilan UKM
Band. Aku putus asa, aku ga tau bagaimana caranya aku pulang nanti. Aku mencoba
iseng bertanya ke mereka, mereka pergi kesini dengan siapa dan naik apa.
Jawaban yang aku dapat mengecewakan, ternyata mereka naik motor dan
berboncengan berdua. Jelas sangat tidak mungkin aku ikut mereka, kecuali aku
diletakkan di depan dan jelas aku sangat menolak hal itu. Semoga mereka ga
menangkap kalau sebenarnya aku tadi ingin nebeng mereka untuk pulang.
Hening.
Mati gaya, kami semua mati gaya dan habis bahan pembicaraan. Aku benci situasi
seperti ini. Aku memang bawel dan cerewet, aku selalu menemukan bahan
pembicaraan. Dimulai dari aku bertanya alasan Hafidh untuk ikut Kendo sampai
akhirnya kami bertukar cerita tentang komik. Fahmi terlupakan, ya bukan salah
kami menurutku. Dia terlalu asik dengan blackberrynya. Sedikit pembelaan diri
memang, tapi itu kenyataan. Sampai akhirnya aku ga begitu ingat bagaimana
pembicaraan kami berakhir dan aku pulang duluan saat melihat teman-temanku
ternyata masih ada. Hari itu aku memang kesal dengan teman-temanku yang
melupakanku tapi aku senang dengan tambahan teman baruku. Kupikir dia pasti
akan menjadi teman menyenangkan untuk berbagi cerita tentang hobi kami. Dia juga ga mengejek pilihanku
untuk masuk kendo dan dia juga ga mengungkit sedikitpun tentang umurku. Aku
benci saat banyak orang lain mempermasalahkan umurku yang lebih muda dari
mereka dan mempermasalahkan penyebabnya sampai akhirnya entah dari siapa mereka
tau aku adalah anak akselerasi. Aku benci orang lain melihatku dari image itu.
Aku adalah Chiko. Aku ingin dikenal sebagai diriku bukan sebagai chiko anak
akselerasi lagi.
Aku
senang mendapatkan teman sependapat dan sehobi, dan jujur aku suka dengan badan
tingginya.
Tuhan
memang Maha penyusun rencana. Kita ga akan pernah tahu apa yang akan terjadi di
kemudian hari. Kita hanya cukup menjalani dan menikmati semua kehidupan yang
telah diberikan oleh Tuhan. Aku suka konsep berpikir seperti ini, ga ambisius,
ikhlas, dan hidup dengan senyuman.
Aku
ga pernah menyangka bahwa ini semua hanya dimulai dari sebuah sapaan. Namaku
Chiko dan namanya Hafidh. Dari sore itulah cerita kami dimulai. J