Showing posts with label me as chiko. Show all posts
Showing posts with label me as chiko. Show all posts

Wednesday, July 11, 2018

Day 4

Manusia. Susah sekali menepati janjinya. bahkan ke dirinya sendiri. Beberapa bulan yang lalu untuk ke 125479426512659237462 juta kalinya aku berniat untuk konsisten menulis di blog ini, dipandu dengan 30 days writing challenge yang kudapatkan di salah satu akun twitter temanku. 

Post pertama tentang ini aku ceritakan disini . Tapi kehidupan yang mulai kembali menuntut banyak perhatian kembali menggagalkan wacana abadiku untuk rajin menulis di blog. Tapi marilah kita selesaikan 30 days writing challenge ini, meskipun nyatanya more than 30 days. Terserah. Yang penting selesai. 

Jadi tantangan untuk "hari keempat" kali ini adalah "Write about someone who inspires you."

Aku akan jawab, ayahku. Sebenarnya aku menggunakan kata Abah untuk memanggil beliau, tapi disini aku pakai kata ayah saja ya. Dari dulu aku sudah terbiasa membahasakan abah-ku dengan kata ayah ke teman-temanku. Kebiasaan saja.

Beliau lahir di tahuun 1965, tahun ini sudah berusia 53 tahun dan perjalanan hidupnya sangat berlika liku, terjal, naik turun, dan cap terlalu baik seakan selalu ditempelkan di jidat ayahku. Beliau lahir dari orang tua yang blasteran Belanda. Iya, aku memang ada darah Belanda. Sayangnya aku pendek dan sedikit sipit, jadi sering dikira keturunan Asia Timur, alih-alih Eropa. Yaaaah.

Ayahku sedari muda pergi merantau ke sana ke mari, bersekolah sambil bekerja, dan juga merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan.

Semakin aku tumbuh besar, aku sering mendapatkan cerita dari teman-temanku bahwa ayah mereka galak atau ayah mereka cuek ke teman-temannya, atau apapun lah itu. Aku tipe anak yang sering mengajak temanku bertemu dengan orang tua ku. Semakin aku dewasa, aku kuliah, dan teman-temanku mulai banyak berasal dari lingkungan yang berbeda. Aku kemudian bekerja. Di dua tempat yang berbeda jenis industrinya. Kakak ku pun bekerja di industri yang berbeda denganku. Begitu pula dengan sepupuku yang kuliah di bidang yang berbeda. Dan seterusnya. Intinya kami semua berasal dari background pendidikan, pergaulan yang sangat berbeda. 

Kemudian aku sadar, ayahku seperti tahu bahan obrolan untuk berbincang dengan siapa saja. Ayahku bisa membicarakan desain kapal denganku, dan mengerti penjelasanku dan tahu lebih banyak dari aku yang, katakanlah, insyinyur perkapalan. Tapi kemudian ayahku sangat mengerti bagaimana sistem perbankan bekerja. Dan kemudian saat sepupuku yang bersekolah di sekolah animasi menceritakan tentang semua proses pembuatan animasi, beliau pun tahu. Begitu pula saat kaka ipar ku datang dengan semua pengetahuan arsitekturnya, teman baik ku dengan detail ilmu desainnya, dan bahkan aku yang menceritakan segala macam tetek bengek drama sekolah magisterku dan segala macam seminar, jurnal, indeks jurnal, dan lain sebagainya, beliau pun tahu dan paham.

Beliau pun tiba-tiba mengajariku software-software editing film baru, mengajariku cara memasak donat yang enak, pizza yang enak, dan yang paling mengejutkan dulu saat askfm belum populer, beliau berhasil kepo dan menemukan akun askfm ku. Apalah itu cuma sekelas facebook, instagram, whatsapp. Kalau orang tua kebanyakan (seperti ibuku), meminta anaknya untuk mengajari menggunakan sosial media. Ayahku kebalikannya, aku pertama kali mengerti cara pakai video call dari beliau, beliau lebih dulu punya akun whatsapp dibandingkan aku. 

Karena satu dan lain hal, sebenarnya sudah hampir 1 dekade terakhir ini kondisi beliau untuk mengakses informasi itu sangat susah. Jauuuuh lebih susah dari aku yang bisa mengakses kapan saja. Tapi beliau masih sangat tahu banyak hal, mulai dari memasang jalur listrik sampai dengan cara menguleni adonan kue yang baik. Mulai dari manajemen keuangan sampai jenis DSLR dan bahkan berbagai macam jenis gerakan poco-poco. Sumpah aku saja ga bisa menari poco-poco. 

Sebagai informasi, ayahku seorang sarjana ekonomi, yang entah bagaimana aku tidak tahu bisa mengerjakan banyak hal dan tahu banyak hal. Pada akhirnya aku perhatikan bagaimana ayahku bergaul dengan orang sekitarnya. Dan ternyata terjawab.

Beliau selalu mendengarkan orang lain dengan baik, lebih tua, jauh lebih muda, bahkan yang lebih muda dari aku. Menurut beliau ilmu tidak ada yang sia-sia. Sekecil apapun informasi, itu ilmu. Beliau tidak pernah menyerah dengan rasa penasarannya yang tinggi, meskipun sudah berusia cukup tua. Menurutku ini juga yang jadi alasan kenapa beliau terlihat lebih muda dari umurnya. Karena beliau selalu berpikir dengan baik. (Sebenarnya ini katanya juga alasan kenapa orang Jepang berumur panjang, mereka senang berpikir dan beraktivitas).

Aku pun mulai menjadikan ayahku sebagai contoh orang yang tidak pernah berhenti belajar. Aku pun pelan-pelan memandang pria keren itu pria yang bisa seperti ayahku. Beliau pun menjadi benchmark ku mencari pasangan. Dan ternyata tidak hanya aku, kakak ku pun begitu. Entahlah, mungkin memang anak perempuan akan mencari sosok pria yang mirip ayahnya, atau bagaimana lah, tapi pria yang kami kagumi seringkali adalah pria yang bisa bercerita banyak hal baru pada kami, so called pintar (meski bukan berarti IP maha tinggi dan lain-lain, sesederhana, dia sepertinya berpengetahuan). 

Aku tidak tahu, apakah ini aku saja atau bagaimana, tapi pria yang berpengetahuan terlihat sangat menarik dengan segala macam ceritanya tentang hal yang dia sukai, dia pelajari, atau baru dia baca atau tonton dari suatu sumber.

Aku ingin nantinya anakku menjadi seperti aku. Dia bisa bilang ayahnya keren, ayahnya tahu banyak hal, dan sampai dewasa pun masih terkejut karena pengetahuan yang diajarkan ayahnya. 

Ya seperti aku, aku sudah mempersiapkan diri, jika suatu saat nanti ayahku tiba-tiba membahas mengenai dunia bisnis street wear atau lagu indie denganku.

Oh iya untuk kamu, pria yang mungkin nantinya akan menjadi pasanganku (ga tahu siapa, tulis saja dulu, siapa tahu malaikat sampaikan ke Tuhan), semoga nanti kamu begitu ya. Peace love and gaul.




Thursday, April 12, 2018

Day 2

Hari kedua. Masih di tempat yang sama dengan kemarin. Hanya bergeser lantai saja. Jam yang berbeda juga. Tapi masih di suhu yang sama dan juga dengan chiko yang sama, yang masih mempertanyakan, kenapa bisa Surabaya sepanas ini.

Kemarin aku sudah tulis di post sebelumnya yang ada di sini , apa saja yang harus kutulis selama 30 hari ini. Hari ini temanya sedikit susah menurutku, tapi menarik. 

"Write something that someone told you about yourself that you never forget."
Oke. Mari dimulai saja.

Aku punya teman baik. Beberapa teman baik yang sebenarnya baru-baru saja aku kenal. Mereka saling kenal satu sama lain, dan aku juga sering kok ngobrol dengan mereka, tepatnya beberapa dari mereka. Sampai suatu hari, salah satu dari mereka bilang gini.

"Chiko. Kamu itu anaknya adaptable, baik, cepat adaptasi. Tapi kamu suka ikut-ikutan orang lain ya? Bagus sih, kamu jadi mudah adaptasi. Tapi lucu aja, kelihatan kamu mudah niru orang lain, nyoba samain hobimu, hal yang kamu suka."

Hhhmm...ya sebenarnya tidak pas seperti itu sih kalimatnya. Tapi ya kurang lebih begitulah yang kutangkap. Aku beneran baru sadar pas dia bilang gitu. Aku baru sadar. Aku gampang bergaul dengan banyak orang dan seringnya cara aku adaptasi "agak" bahaya. Aku dengarkan, serap, semua hal baru, kebiasaan baru, nilai-nilai baru, dan tanpa sadar aku lakukan setiap hari. Meski lama kelamaan aku akan mensortir sendiri, kebiasaan mana yang cocok dengan aku mana yang tidak.

Orang ini juga yang bilang, kalau aku tidak perlu minum kopi hanya cuma biar aku bisa mengiyakan temanku saat pergi ke kedai kopi. Orang ini juga yang bilang tidak ada yang salah kalau aku hapal banyak karakter anime tapi aku tidak tahu kalau More Than Words itu lagu Westlife ternyata. Orang ini juga yang bilang kalau ini hanya perkara preferensi. Dan juga orang ini yang memang tidak pernah nyambung ngomongin minat denganku. Minat kita terlalu beda. Entah gimana ceritanya bisa berteman ya.

Dari kalimatnya ini, aku jadi makin berusaha mengenal diriku sendiri. Aku mulai belajar mendengarkan pendapat orang tentang diriku. Aku mulai ikut tes psikologi online, dari yang serius sampai yang tidak serius. Aku mulai bisa mengerti dan bilang ke orang lain kalau aku bukan penghapal lirik yang baik, aku bukan orang yang tahu ini lagu siapa, lirik yang mana, dan lagu jaman kapan. Aku juga bukan orang yang bisa ingat kalau si A itu adalah orang yang sama dengan si B di suatu film. Aku juga bukan orang yang tahu dengan baik bisa menjelaskan apa bedanya pedasnya cabe dan wasabi. Aku juga bukan orang yang bisa menulis dan bercerita dengan baik. Aku juga bukan orang yang tahu jalan cerita stars wars. Aku juga bukan orang yang bisa hapal, novelis ini selalu menulis buku tentang ini. Aku juga bukan orang yang tahu, sepatu merk ini itu harganya berapa.

Dan pelan-pelan aku sadar, oiya aku orang yang tahu kalau Sungmin nya Super Junior itu dulu suka pakai topi bolong atasnya, aku orang yang tahu kalau "pacaran" sama faker itu gimana, aku juga orang yang tahu kalau lagu Tada Mae E nya Hey!Say!Jump itu sebagus apa, aku juga orang yang tahu kalau berjoget bersama Kumamon di depan umum itu menyenangkan, aku juga orang yang tahu kalau berlari ke ayunan dan main ayunan di taman sendirian itu hal yang menyenangkan, aku juga orang yang tahu kalau film Indonesia sekarang banyak yang bagus, aku juga orang yang tahu kalau kebocoran minyak itu maksimal diizinkan seberapa banyak, aku juga orang yang tahu kalau Miiko naik kelas 6 di buku jilid nomor 29.

Aku makin sadar. Oh iya. Semua ini hanya preferensi. Semua ini hanya tentang aku tahu seberapa banyak yang hal aku minati dan ingin ku tahu. Semua ini hanya tentang aku bisa menyerap informasi dan mengingat semua detailnya. Semua ini juga hanya tentang seberapa aku mengenal dan menerima diriku sendiri.

Pelan-pelan aku mulai mengerti diriku sendiri. Aku mulai mengerti passionku dan apa yang ingin kulakukan di hidupku. Aku mulai tahu apa saja yang membuatku bahagia. Aku bertekad untuk setidaknya mengerti satu hal dari diriku sendiri setiap harinya. Dan hal baru yang kupahami tentang diriku sendiri hari ini adalah...

Aku senang berbicara dengan orang lain, aku mendapatkan energi dari berbicara dengan orang. Tapi bukan untuk didengarkan ataupun seperti berjualan. Ternyata aku lebih nyaman saat aku melakukan deep talk , berdiskusi tentang pendapatku, mendengarkan pendapat orang lain tentang hal itu, menyocokkannya dengan yang kupahami, dan memberikan pendapatku kembali. Singkat kata. Konsultasi. 

Aku suka saat orang lain berkonsultasi ataupun saat aku berkonsultasi dengan orang lain. Aku mau didengarkan pendapatku oleh orang lain.

Oh iya ada hal lain yang aku sadari sekarang. Baru saja. Sesaat setelah aku mengetik kalimat diatas.

Aku rindu. Rindu banyak hal. Termasuk rindu duduk di suatu tempat, berbicara banyak hal dengan seseorang, dari se sederhana Chopper nya One Piece itu lucu banget sampai seberat jadi ini Prabowo di 2019 bakal gimana di Pilpres.

Ya aku rindu aja sih. Rindu momennya.






Wednesday, April 11, 2018

Day 1



Dua hari lalu. Apa tiga hari lalu ya. Pokoknya segitu lah ya. 

Aku baca salah satu tweet dari temanku di twitter. 30 Day(s) writing chalennge. *harusnya itu pake s deh judulnya. Huft gemash. Okay. Whatever.

Jadi intinya, kok ini terlihat menarik dan bisa dipakai untuk mengisi waktu menulis di blog. 
Aku itu tipe yang suka ngobrol, suka cerita, tapi bukan penulis dan storyteller yang baik. Cerita ku pasti loncat kesana kemari. Tidak ada alurnya. Bahasanya ngaco. Hahahaha. Rencanaku untuk mengisi blog ini dengan beberapa label baru saja masih tertunda-tunda, sama ditundanya dengan kamar yang belum kunjung diberesin dari sampai ke Indonesia 2 minggu lalu. Hih.

Jadi aku berencana dengan tantangan ini akan rajin update setiap hari untuk menjawab tantangan ini. Sekalian nambah-nambahin isi blog ini lho yang tidak konsisten terisi ini. Sekalian juga mencari pelampiasan untuk anak ENFP ini yang selalu butuh cerita soal pemikiran-pemikiran gejenya. Oke, sekarang waktunya mulai menjawab tantangan nomor satu. 

"List 10 things that make you really happy"

Hal bahagia ya? Ada banyaaaak banget, bahkan lebih dari 10. Tapi ini aku list 10 hal yang sejauh ini bisa aku ingat memberikan rasa bahagia sampai aku berkaca-kaca ataupun refleks teriak dan lompat. Hal-hal bahagia yang bahkan sampai aku menuliskan satu baris kalimat tentang itu, memicu senyuman dan ucapan Terima Kasih Ya Tuhan atas semuanya.


Aku rasanya pengen cerita detail semua nya satu persatu. Tapi kayaknya terlalu panjang malas. Jadi aku cuma beri beberapa foto dan video dulu. Semoga aku bisa cepat cerita betapa senangnya aku.


1. Lihat holo motion di Tokyo Disneyland


Aku nonton dan ngerekam ini sambil ngusap air mata. Aku seneng banget. Seneng. Seseneng itu. Aku suka cahaya. Aku suka pertunjukan cahaya. Aku seneng banget.




2. Masuk wahana VR roller coaster di Harry Potter Universal Studio Japan.


Ini pertama kali aku keluar dari roller coaster, nangis karena seneng banget. Seneng banget. Seseneng itu. Roller coaster terkeren yang pernah aku naikin. Aku ga tahu harus seberapa kenceng aku teriak untuk nunjukin aku seseneng apa.


3. Lihat sunrise di Bromo pertama kali 




4. Nerima chat dari orang yang ga diduga tapi di saat yang tepat.


Pengen screenshot terus pamer yang chat siapa sih sebenarnya. Tapi malu


5. Diterima student exchange ke Jepang.


Pengen screenshot terus pamer yang chat siapa sih sebenarnya. Tapi nanti dikira sombong


Jadi hari itu, bangun tidur, buka email. Isinya diterima student exchange ke JEPANG. KYAAAAAAAAAAA. Ini beneran teriak yang KYAAAAA gitu. Pengen meluk orang. Tapi adanya cuma bantal. Yaudah. Langsung telpon banyak orang, kesenengan. Padahal lagi sebel mampus dari kemarin sama satu orang, eh ga jadi ah. Hehehe.



6. Dipeluk dan diusek kepalanya di saat yang tepat dan oleh orang yang tepat.


HUFT.


7. Duduk di bawah langit, lihat  bintang, ataupun lihat awan.





8. Lihat foto atau video dokumentasi pemandangan alam yang bagus.


9. Fireworks sesudah festival sekolah.


Aku selalu suka fireworks. Bagaimana bisa berbagai zat kimia disulap menjadi pertunjukan cahaya seindah dan sememukau itu. Tapi fireworks sesudah festival sekolah yang sangat melelahkan dengan semua persiapan dan drama di dalamnya, memang tidak ada yang bisa mengalahkan semua rasanya ini. 


10. Teriakan dan pelukan bahagia setelah sukses jadi panitia dari suatu acara.


Keindahan fireworks yang diatas. Juga sepaket dengan indahnya pelukan dari semua panitia dan pengunjung yang penuh tawa karena bahagia. Bahkan mengetik ini aja benar-benar membuat ku tersenyum lagi mengingatnya. 






Sekali lagi. Terima kasih ya Tuhan untuk semua kebahagiaan kecil dan besar yang selalu datang setiap hari.

Monday, April 9, 2018

Terima Kasih - Friendly Reminder for Myself

Tuhan.

Terima kasih sudah memberikan saya kesehatan untuk selalu bisa menikmati hari-hari saya.
Terima kasih saya diizinkan untuk mengenal banyak orang baru yang menjadi orang-orang terdekat saya sekarang.
Terima kasih mengembalikan teman-teman lama lagi ke hidup saya.
Terima kasih mengajarkan saya bahwa apa yang saya mau bukan berarti yang terbaik dan di waktu yang baik.
Terima kasih mewujudkan mimpi terbesar saya dan deretan bucket list yang hari demi hari saya coret karena tercapai.

Tuhan.

Terima kasih selalu mengabulkan doa-doa saya dengan cara yang tak terduga.
Terima kasih selalu dan tidak pernah berhenti mengingatkan saya untuk menjadi orang yang baik.
Terima kasih telah menunjukkan pada saya, yang pergi akan diganti.
Terima kasih telah melancarkan semua kegiatan dan hal-hal yang saya ingin lakukan sampai hal yang terkecil.

Tuhan.

Terima kasih memberikan saya kesempatan untuk menjalani hari di Jepang selama 6 bulan dengan baik.
Terima kasih mengenalkan banyak sahabat baru kepada saya.
Terima kasih telah mengenalkan banyak guru dan keluarga baru.
Terima kasih telah mengajarkan banyak nilai kehidupan kepada saya selama disana, melalui perantara berbagai orang.
Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk mengembangkan diri dan memiliki banyak kenangan disana.
Terima kasih telah mengajarkan saya untuk menjadi semakin dewasa dan belajar menangani banyak masalah dan belajar bagaimana berdamai dengan banyak hal.


Tuhan.

Terima kasih bahkan sampai ke kepulangan saya kembali ke Indonesia, saya bertemu dengan sangat banyak orang baik. 
Terima kasih engkau selalu menemukan cara untuk membuat saya tetap tersenyum.
Terima kasih untuk semua mimpi yang semakin terasa nyata.
Terima kasih untuk semua senyum dari banyak orang yang saya terima.
Terima kasih untuk kasih sayang yang saya rasakan ataupun tidak saya rasakan.
Terima kasih selalu menunjukkan jalan kemana saya harus pulang.


Tuhan.

Terima kasih banyak. 
Terima kasih banyak atas semua hal yang sudah diberikan.
Terima kasih banyak atas keberadaanmu yang sudah saya percaya.

Tuhan.

Terima kasih banyak untuk pemandangan sangat indah ini di perjalanan pulang saya. 
Terima kasih banyak untuk pemandangan sangat indah ini yang tidak pernah mengecewakan.
Terima kasih banyak untuk warna biru yang belum pernah menyedihkan.





Tuesday, March 13, 2018

Aku Cuma Mau Bikin Dia Bahagia, Kak

- Aku cuma mau bikin dia bahagia, Kak -

Itu kalimat yang aku dengar hampir satu bulan yang lalu, dari salah satu adik kelasku disini. Hhhmm...lebih dari satu bulan sih sepertinya. Aku satu bulan ini ternyata cukup sibuk untuk selalu menunda menuliskan cerita ini di blog.

Jadi, pada suatu hari, yang dingin, masih di musim dingin yang katanya sudah menuju musim semi tapi entah kenapa masih aja dingin, aku duduk di lounge di dorm aku. Aku janjian untuk ketemu dia, dan beberapa teman lainnya. Ngomongin hal penting sih niatnya, tapi pasti berujung ke banyak becandanya. Maklum.

Sampai, ternyata dia duluan yang datang, dan lamaaa banget kita cuma berdua nunggu yang lain. Cuma ditemani bento box isi karaage yang aku minta dia untuk beli sebelumnya, karena kita lapar. Diam-diaman. Kita ga terbiasa ngobrol satu sama lain sih. Sampai tiba-tiba obrolan basa-basi aku berujung ke dia yang cerita kalau dia menyukai salah satu anak Jepang di kampus kita.

Lucu ceritanya. Kayak komik. Dia ga kenal baik sama cewek itu. "Waktu itu cuma dia cewe yang pertama kali datang ke aku, ngulurin tangan, dan senyum ke aku. Manis banget. Aku jadi suka dia, Kak dari waktu pertama itu. Dia baik, mau nyapa aku."

Aku ketawa dengerin cerita dia, aku baru tau, kalau cowo beneran bisa suka cuma karena diberi senyuman dan sapaan. Dia cerita gimana dia selalu berusaha untuk melihat anak cewe ini dari jauh saat latihan di klub mereka. Dia cerita gimana cewe ini mulai berhenti latihan. Dia cerita gimana dia sudah menyiapkan hadiah Natal untuk semua anak klub, cuma karena biar cewe ini ga risih dan sadar kalau sebenarnya yang ingin dia berikan hadiah cuma cewe ini. Tapi ironis, cewe ini sudah ga pernah datang ke klub lagi. Dia juga cerita gimana dia membuat coklat Valentine sendiri untuk cewe ini, tapi dia tidak pernah berani mengirimkan chat ke cewe ini. Cuma berharap cewe ini akan datang ke klub lagi.

"Valentinenya sudah lewat, Kak. Coklatnya aku kasih siapa ya?" 
"Jangan sedih gitu mukanya hahaha. Kasih yang lain aja, daripada rusak."
"Tapi aku mau dia yang makan coklat dari aku."
"Yasudah. Kirim chat aja ke dia."
"Sudah kok. Tapi ga dibalas."
"Ya basa-basi dong ah, biar dibalas, biar bisa PDKT, terus tembak deh."
"Bukan, kak. Dia ga perlu tahu kalau aku suka dia. Sebenarnya concern aku cuma di..... dia kenapa ya ga pernah latihan lagi."
"Lho maksudnya?"
"Aku khawatir, aku mau keberadaanku bisa bikin dia semangat, mungkin cuma dengan dikasih coklat dia bisa senang, atau dikasi kalimat penyemangat. Pernah kan kak, misal kita lagi down banget, bahkan ada orang random yang kasih senyuman, kita bisa langsung merasa terselamatkan hidupnya. Aku cuma mau dia bahagia aja, aku takut dia sekarang lagi sedih atau down."
"Terus, kalau dia udah bahagia?"
"Aku cukup seneng cuma liat dia bahagia kok. Dia cantik, aku apalah kak, jelek, biasa aja, ga pinter, bukan orang Jepang. Aku cuma bisa mengusahakan biar dia bahagia, aku cukup kok mencintai dengan cara begini."



Aku diam dengar dia ngomong gitu. Gemas sih. Ternyata mencintai orang bisa sesederhana itu ya. Ternyata mencintai orang bisa juga kok melepaskan berbagai pertanyaan seperti,

Kok dia ga perhatian balik sih?
Kapan dia nembak aku? 
Kapan dia nerima aku?
Kok dia ga ada kabar sih?
Kok chat aku ga dibalas sih?

Dan berbagai pertanyaan lain yang kadang menambah ribet proses mencintai orang. Cheesy sih, memang semakin dewasa, tidak cuma cinta aja sih yang harus dipikir. Ada karir, masa depan, persiapan menikah, de el el de el el. 

Tapi makasih ya dear adik kelas yang aku ga sebutkan namanya disini. Ceritamu bikin aku jadi ingat. Mencintai juga bisa sesederhana kamu cuma ingin dia bahagia, sebahagia kamu melihat dia lagi bahagia. 

"Semoga post ini bisa jadi sweet reminder untuk aku. Dan juga mungkin kamu. Siapapun kamu. Semoga."


Wednesday, February 14, 2018

Rain

Aku suka hujan, suka banget sama hujan. 

Pernah ga sih kalian merasa seburuk apapun hari kalian, kalian cukup dengan lihat hujan di luar jendela, dan ternyata semua masalah rasanya terselesaikan. Bahkan sekarang cuma menulis tentang hujan sudah membuat perasaanku membaik.


Aku yakin banyak sekali orang diluar sana yang suka hujan, sesuka aku dengan hujan. Buktinya aku menemukan banyak foto-foto hujan di Google, dengan berbagai quote yang intinya membicarakan tentang orang-orang yang menemukan kenyamanan di dalam hujan.

Hari ini hujan, dari tadi pagi sih, bahkan juga hujan salju. Tapi ternyata, aku tetap lebih suka hujan biasa. Hujan air. Suara air yang jatuh ke tanah, ke atap rumah, ke balkon, itu ternyata lebih menyembuhkan ya. Aku selalu tanpa sadar tersenyum setiap mengingat hujan. Suka sekali.

Hujan seringkali membawa suatu hal baik untukku, seperti obrolan tentang hujan dengan seseorang yang berakhir dengan obrolan manis lainnya. Sayang di tempat dia lagi ga hujan. Coba kalau hujan, aku lebih senang. Ya tapi mau gimana lagi. Jauh.

Oh iya. Ada satu lagu juga yang aku suka, dari Sekai no Owari. Judulnya Rain. Artinya....aku lupa hehehe. Bahasa jepang sih, cuma bagus kok. Ngomong-ngomong hujan lagi, jadi aku pernah jalan-jalan, rame-rame, aku liat kubangan air, aku lari, lompat ke kubangan air, terus ternyata nyiprat ke orang-orang. Sahabat aku cekikikan di belakang liat aku panik, bukan cerita yang istimewa sih, tapi entah kenapa aku suka, karena sesudah itu, dia tanya, "Kamu sesuka itu sama hujan ya?". Terus aku jawab "Iya. Suka banget." , terus dia bilang, "Sepatu kamu putih, ga takut basah, atau kotor." Aku cuma ketawa. Dia juga. Terus kita lari nembus hujan, untung cuma rintik-rintik. Aku jadi pengen lari-lari di bawah hujan lagi. Aduh, aku kangen. Kangen hujan. Hahaha. Padahal sekarang lagi hujan.


Aku pernah kepikiran untuk punya anak namanya hujan. Tapi kok setelah dipikir biasanya hujan diasosiasikan orang dengan hal sedih ya, duh kasihan anakku nanti. Terus aku jadi kepikiran anak ku kalau dikasih nama Langit bagus ga ya. Aku mau punya anak dua, yang pertama namanya Langit Pagi, yang kedua Langit Sore. Kenapa langit? Ya karena aku suka banget sama langit. Kenapa ya langit itu bagus banget. Mau langit pagi, langit sore, langit malam. Aku suka. 

Sekarang, hujannya tiba-tiba berhenti. Aku jadi makin kangen hujan. Hujannya kok cepat pergi sih, nanti tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Jadi sedih, jadi pengen hujan cepat datang lagi. Tapi, hujan di musim dingin ini ajaib sih, bukannya  bikin suasana makin dingin, tapi bikin suasana makin hangat, aku jadi makin suka hujan. Kalau hujan datang, bikin suasana jadi tenang, menyenangkan, meski kadang datangnya tiba-tiba, dan awalnya aku suka sebal, soalnya aku jadi ga bisa kemana-mana, jadi malas. Tapi, setelah diingat, oiya aku kan suka hujan, aku jadi senang lagi sama hujan. Ya sebal sih, bukan berarti benci,  jadi gimana pun aku tetap suka hujan ternyata. Gapapa deh. Toh aku jadi senang.

Sekarang. Aku masih nunggu hujan. Semoga dia cepat datang. Aamiin.









Sunday, February 4, 2018

Being An Adult

Ade Putri Aulia Wijharnasir. Ade. Putri. Atau seringnya dipanggil Chiko. Lahir 28 April 1994. Yang entah kenapa dari kelas 3 SD sampai sekarang 90% fotonya bergaya Peace. Sebenarnya yang membingungkan buatku, kenapa orang-orang marah ya setiap aku bergaya Peace lagi. Sama marahnya seperti saat mereka membuka pintu kamarku, dan melihat hampir semua barangku berwarna biru. 





Sekarang tahun 2018. Berarti tahun ini aku akan berumur 24 tahun. 24 tahun. Usia yang waktu aku SMP, kupikir siapapun di usia ini adalah om dan tante-tante. Usia yang kupikir, pasti aku sudah menikah di umur segini. Tapi kenyataannya? Mari kita beranjak dari kasur, dan melihat cermin. Chiko. Masih 153.5 cm. Single. Dan (bahagia?). Dan setiap bulan juga masih menerima undangan pernikahan dari teman SMP, SMA, Kuliah, dan juga masih saja tidak bisa datang di hampir semua undangan pernikahan itu. Maaf ya.

Aku tidak tahu, kalian pernah tidak ya, berpikir seperti aku. Mulai merasa insecure dengan kenyataan bahwa semakin banyak temanmu yang menikah berarti kenyataan kamu adalah orang dewasa, no more teenager, tidak bisa dielakkan lagi. Aku selalu takut untuk menjadi orang dewasa, aku selalu ingin menjadi Peterpan, yang terjebak di Neverland (benar kan ya namanya Neverland?).

Terkadang aku suka sekali mengingat apa saja yang sudah kulakukan sejauh ini sampai umurku hampir 24 tahun ini. Apakah aku sudah cukup dewasa ya? Apakah aku sudah cukup menjadi Chiko yang baik untuk orang lain ya? Apakah dengan makin tua aku harus mengurangi waktuku untuk nonton anime ? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku langsung berlari ke ayunan setiap ke taman? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku terjatuh tanpa kusengaja? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku tertawa keras-keras di tempat umum? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku untuk baca komik? Apakah dengan lebih dewasa aku berarti harus mulai minum kopi dan mengenal jenis-jenis kopi seperti teman-temanku? Apakah aku berarti aku harus mulai mencari pasangan? Apakah aku harus......, duh kok banyak "harus" ya? Yasudahlah.

Setiap tahun, setiap ulang tahun, aku banyak berpikir, kok sepertinya aku tidak ada perubahan ya? Kok sepertinya aku begini saja ya. Aku kok tetap childish ya? Aku kok tetap berisik ya? Aku tetap heboh. Aku tetap tidak bisa seanggun cewe lainnya. Aku kok masih belum terpikir untuk menikah ya.

Tapi, setelah satu tahun ini, banyak sekali kejadian yang terjadi di hidupku, banyak orang baru yang datang dan pergi. Banyak waktu yang kugunakan untuk merenung (cie chiko). Aku pelan-pelan belajar, ternyata selama ini bukannya aku tidak dewasa. Aku hanya takut keluar dari zona nyamanku. Selama ini aku terlalu nyaman dengan kenyataan bahwa orang terdekatku selalu berusaha mengerti aku. Aku nyaman dengan kenyataan bahwa semua impianku tidak tercapai karena kondisi yang ada (padahal sih karena aku emang kurang berjuang aja sepertinya). Aku juga belajar untuk mencoba banyak hal, yang lama kelamaan, aku pun tahu, kok jadinya aku seperti ikut-ikutan mereka ya? Hahaha.

Aku mulai memikirkan banyak hal. Ternyata menjadi dewasa bukan berarti aku harus menghilangkan kebiasaanku nonton anime, bukan berarti aku tidak boleh fangirling-an lagi ke Hey!Say!JUMP, bukan berarti aku tidak boleh membaca komik lagi, bukan berarti aku tidak boleh mendadak keluar saat hari hujan cuma karena aku suka bau hujan, bukan berarti aku tidak boleh lagi main ayunan, bukan berarti aku tidak boleh loncat lagi ke genangan air, bukan berarti aku tidak boleh lagi pakai tas Singa kesayangan aku, bukan berarti aku harus memanjangkan rambut, bukan berarti aku tidak boleh berponi rata lagi, bukan berarti aku harus pakai dress, bukan berarti aku harus mulai ber-make up, dan harus harus lainnya.

Menjadi dewasa menurutku saat ini (iya, saat ini, siapa tahu besok aku berubah pikiran) adalah bagaimana cara aku dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, bagaimana cara aku memutuskan untuk bertanggung jawab dalam setiap keputusan di dalam hidupku, bagaimana cara aku menjalin hubungan dan komunikasi baik dengan orang lain ataupun isi otak ku sendiri, dan juga bagaimana cara aku conquering diriku sendiri. Iya conquering. Menurutku, hal paling susah dari menjadi dewasa adalah memahami diri kita sendiri. Diri kita sendiri adalah bagian dari misteri di dunia ini, pernah tidak kalian bercakap-cakap dengan "seseorang" di dalam otak kalian sendiri?
Oh tidak pernah? Oke, berarti hanya aku, mungkin, sih. Jadi, intinya, dengan percakapanku dengan "seseorang" di dalam otak ku, aku jadi lebih bisa memahami diriku sendiri. 

Pelan-pelan aku mulai bisa berdamai dengan kenyataan bahwa umur aku semakin bertambah, aku harus bisa menjadi Chiko yang lebih baik, menjadi Chiko yang lebih bermanfaat untuk orang lain, menjadi Chiko yang nantinya bisa menjadi pasangan yang baik, anak yang baik, sahabat yang baik, ibu yang baik, apapun lah, intinya menjadi entitas masyarakat yang baik.

Aku sudah pernah cerita tentang tujuan hidupku tidak ya? Sepertinya sudah. Aku selalu bilang aku ingin bahagia. Aku selalu berpikir menjadi bahagia adalah dengan menolong dan membahagiakan orang lain. Menurutku dengan menjadi baik ke orang lain itu akan membuat kita lebih bahagia.

Oh tapi aku lupa satu hal. Aku salah dengan mengatakan orang lain. Seharusnya, aku harus berbuat baik dan berusaha membuat semua orang bahagia. Iya, semua orang, termasuk diriku sendiri. 



"Jadi, jangan lupa bahagia di tengah prosesmu untuk menjadi dewasa, ya. Karena, kalau kamu sendiri bisa membahagiakan dirimu sendiri, setidaknya orang lain akan bahagia, hanya dengan keberadaanmu. Karena keberadaanmu sendiri sudah suatu kebaikan darimu untuk mereka. :)"

Fighting for Whatever, Whoever, Everything, You Want

Ternyata tidak sesuai dengan janji yang sudah kujanjikan  di post sebelumnya, untuk sering pos di blog ini, aku malah sibuk dengan kehidupanku. Tapi, sekarang sepertinya aku butuh tempat untuk untuk menuangkan isi kepalaku yang sudah terlalu penuh dengan berbagai hal. Mari kita mulai untuk curhat dan bercerita lagi disini.

Sebelumnya aku mau cerita dulu mungkin, alasanku kenapa mengingkari janjiku. Jadi....., tidak begitu lama dari aku menulis pos terakhir, aku mendapat pengumuman bahwa aku diterima beasiswa S2 yang sudah lama aku incar. Hore.....

Aku mulai disibukkan dengan banyak kegiatan, bertemu dengan sangat banyak orang baru, mengenal orang baru, mendengarkan cerita mereka, mendapat pola pikir baru, merubah kehidupanku sedikit demi sedikit. 

Satu tahun ini, entah kenapa sangat banyak hal baru terjadi. Sangat banyak. Sebentar mari diulang. SANGAT BANYAK. Mungkin lain kali aku ceritakan satu-satu. Cuma aku ingin cerita, jadi salah satu hal baru yang aku dapat, akhirnya di bulan Oktober 2017, aku sampai di Jepang. IYA! Jepang. Ade Putri Aulia Wijharnasir. Alias Chiko. Membaca email berisi pengumuman bahwa aku diterima untuk program exchange  selama 6 bulan di Jepang. TERIAK. Ya pastilah. Kalau dunia bisa diajak berteriak, aku mau ajak dunia. Satu hal yang paling aku senang dengan kenyataan aku bisa ke Jepang, aku bisa foto seperti ini.




Jepang. Negara yang entah bagaimana ceritanya dari aku kecil selalu jadi negara impianku. Singkat cerita, aku sudah sampai di Jepang, dan sesuai ekspektasi. Orang Jepang susah berbicara bahasa Inggris. 
Hari pertama. Lucu.
Hari kedua. Orang Jepang lucu banget sih ngomongnya.
Hari ketiga. ......
Hari ketujuh. Tuhan. Terus ini ngomongnya gimana.
Akhir bulan pertama. Jepang keren banget. Baik banget semua orangnya.
Akhir bulan kedua. Aku pengen pempek, batagor, nasi penyet ayam, rawon, bakso, soto, tekwan. Aku ingin dia. Chiko mulai menyanyi lagu Doraemon. Aku ingin begini. Aku ingin begitu.


Satu hal yang akhirnya aku mengerti, selama berbulan-bulan tinggal di Jepang. Aku harus berjuang untuk apapun yang aku inginkan. Aku harus berjuang untuk bisa S2. Aku harus berjuang untuk bisa mewujudkan mimpiku ke Jepang. Aku harus berjuang untuk bisa mengerti orang Jepang ngomong apa. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan sahabat-sahabat yang jauh disana. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan keluargaku. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri saat aku ingin makan nasi penyet ayam. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri, saat tengah malam ingin makan bubur ayam Bandung, di tengah mata super ngantuk, jam 2 malam, aku penggemar nomor satu Bubur Ayam Mang Dudung yang legendaris di Surabaya, harus mengaduk bubur lebih dari setengah jam, menggoreng pangsit, ayam, hati goreng, DEMI memenuhi keinginan absurd ku yang sering kumat tengah malam. Dan selama ini selalu selesai dengan bapak/mas Go Food tercinta. Terima kasih Bapak dan Mas Go Food. 

Ternyata untuk makan bubur tengah malam, perjuangannya besar.
Ternyata Tuhan bisa mengajarkan aku untuk lebih sabar dan berjuang hanya dari perkara semangkuk bubur, dan bahkan juga makaroni pedas (yang sumpah di kampus harganya cuma 500 rupiah dan sering aku buang kalau bosan huhuhu, tapi disini jatuh satu ke lantai pun aku makan lagi, karena untuk ngemil aja butuh usaha). Kuliah yang berat, language barrier, organisasi yang demanding, komunikasi yang susah, teman, sahabat, yang mulai bertingkah aneh dan menyebalkan, permasalahan keluarga yang menuntut diselesaikan, permasalahan teman yang menuntut untuk didengarkan, permasalahan diri sendiri yang menuntut untuk diselesaikan. Belum lagi perubahan musim yang membuat aku akhirnya sadar TERNYATA BENERAN ADA WINTER DEPRESSION ITU, homesick, orang-orang yang menuntut untuk diperjuangkan, orang-orang yang tidak menuntut untuk diperjuangkan tapi harus diperjuangkan, orang-orang yang enaknya diperjuangkan ga ya(?), orang-orang yang sedang dan akan dirindukan, orang-orang yang inginnya dirindukan, tapi ternyata tidak rindu (lho gimana?).

Hal-hal yang harus dipermasalahkan ternyata banyak juga. Manusia memang paling hebat kalau soal mencari masalah. Tapi bahkan masalah pun harus diperjuangkan. Perjuangkan untuk diselesaikan. Satu demi satu. 

Jadi untuk kalian disana, yang merasa sedang berjuang, untuk semua hal yang berada di depan, belakang, samping, ataupun jauh dari kalian sebenarnya. Simple things ain't worth to fight for. Semua terasa rumit, karena memang itu layak untuk kalian perjuangkan. Semua terasa menyakitkan, melelahkan, karena.......itu alasan kalian hidup kan? Karena orang hidup pasti akan merasa sakit. Orang hidup pasti akan merasa lelah. Tapi ingat, orang hidup juga merasakan bahagia kok. :) Setidaknya kalau kalian merasa hidup terlalu menuntut banyak usaha, yasudah, makan bubur aja yuk, setidaknya makannya tinggal diemut, tidak perlu usaha.

Maaf. Aku lupa. Masak bubur lebih butuh usaha daripada masak nasi. Oke. Berarti hidup memang untuk diusahakan. Perkara bubur pun butuh diusahakan. Aku jadi lapar. Jadi Tuhan, eh salah, Jadi Nadiem. Kapan Go Food mau diekspansi ke Jepang? Saya ternyata lebih butuh Bapak Go Food daripada pacar untuk saat ini.

"It is not simple. Because you know, simple things ain't worth to fight for. Life is simple, at the end. But, at least, I hope, tomorrow is not the end of my life. God, I will fight for it. I will sing Yubikiri Genma now."


Tuesday, May 13, 2014

My First Holiday :) Feels Like Tiramissu Cake

Yuhuu...
As i've been told you in my post before. I will share about my holiday with him. :D

"Ketika jenuh datang, kemasi ranselmu dan pergilah sejenak dari rutinitasmu.Dan nikmati kenangan yang akan datang."
Yaaaayyy :)) , holiday pertama dimulai dari rencana mendadak kami berdua untuk pergi ke Jogja. Sebenarnya kami bepergian dengan modal nekat, karena kedua orangtuaku hampir tidak pernah mengizinkanku bepergian. Ternyata, surpriseeee :p orangtuaku mengizinkanku berlibur. Liburan kali ini adalah kali kedua aku naik kereta api dan kali pertama untuknya naik kereta api. Singkat cerita kami berhasil memesan tiket kereta api dengan modal nekat dan ketidaktahuan bagaimana cara memesan tiket kereta api bahkan jalan menuju stasiun Gubeng Surabaya. Namun pada akhirnya kami berhasil sampai stasiun dan naik kereta tepat waktu.

Enam jam. Enam jam perjalanan yang menyenangkan, kiri-kanan pemandangan yang dinikmati sawah, sawah, dan sawah. Menyenangkan memang untuk awal-awal perjalanan, namun untuk aku yang tidak bisa berdiam diri dalam waktu lama-kelamaan sawah-sawah itu semakin membuatku mengantuk.
Sampai akhirnya sampaaaai di Jogjakarta. Pertama kalinya untuk kami berdua menginjakkan kaki di Jogjakarta, tanpa tahu jalan, dan hanya mengandalkan bahasa Jawa yang seadanya. Hari pertama kami sampai di Jogjakarta, beberapa jam kami habiskan hanya untuk tersasar ke jalan yang kami sama sekali tidak tahu itu dimana hanya untuk mencari hotel yang kami akan tempati. Hari pertama, kedua, dan ketiga dihabiskan dengan bersantai di hotel,jalan-jalan ke Malioboro, benteng Vradenburg, dan berkeliling ke berbagai jalan di Jogjakarta . :)

Meskipun setiap perjalanan kami selalu diwarnai dengan adegan nyasar ke daerah entah dimanakah itu. Sebagai contoh, kami ingin ke Malioboro dari benteng Vradenburg tapi kami nyasar sampai ke Ringroad arah Klaten. Tidak masuk akal. Memang. Karena benteng Vradenburg berjarak sangat dekat dengan Malioboro dan kami nyasar ke daerah  yang sangat jauh. :) Yap, tetapi itulah kami. Kami menikmati setiap momen nyasar kami.

Hal paling konyol dan menyenangkan adalah pengalaman gempa pertama untuk kami berdua. Gempa yang cukup besar tiba-tiba menyapa Jogja. Dan yang menyenangkan adalah gempa ini memilih untuk datang pada saat kami berdua di Jogja. Dua orang yang tidak pernah merasakan gempa dan bukannya ketakutan tapi menjadi sangat senang. Konyol. Memang. Tapi ya begitulah kami. Momen ini adalah salah satu momen menyenangkan menurut kami. Di saat kami sedang bersantai di dalam hotel, tiba-tiba gempa besar datang dan kami hanya berdiam diri karena kami pikir itu adalah halusinasi. Saat TV dan dinding mulai bergetar dengan cepat barulah kami menyadari bahwa itu gempa. Hal pertama yang kami lakukan ketika gempa datang bukan menyelamatkan diri melainkan tertawa senang. :) Bahaya memang. Tapi yasudahlah. Pegawai hotel pun tidak membantu dengan baik, bukannya membantu kami menyelamatkan diri. Dia menenangkan kami dan tamu lain di lantai itu, tapi yang menyebalkan setelah menenangkan kami, gempa susulan datang dan dia berlari terlebih dahulu tanpa mengajak kami. Sementara di lantai tersebut seluruh tamu adalah tamu bule kecuali kami dimana sudah jelas kami semua amatiran dalam menghadapi gempa. Tapi ini layak untuk dikenang. Dengan judul kenangan , -Mas penjaga hotel yang panik-

Aku tidak terlalu banyak mendokumentasikan perjalanan liburanku kali ini. Aku terlalu menikmati setiap hal-hal kecil yang terjadi di liburanku. Jogja. Kota pertama yang kami kunjungi bersama untuk pertama kalinya - dengan judul berlibur - . Kota Jogja yang memberikan pengalaman menarik dan sangat menyenangkan. Kota yang pertama yang memberikan keberanian kami untuk berkelana tanpa arah dan hanya bermodal uang dan handphone. 

Liburan yang terasa seperti Tiramissu Cake. Cake favoritku yang terasa pahit dan manis di setiap suapannya. Cake yang selalu meninggalkan aroma khas dari suapan pertama sampai dengan suapan terakhirnya. Cake yang selalu membuatku menikmati setiap momen suapan yang kumakan. Begitu juga dengan liburan kali ini. Setiap momen "zonk", "nyasar", dan bahkan gempa pun kami nikmati dengan antusias.

"Jangan pernah melewatkan dan menyalahkan setiap momen di kehidupanmu dengan kesedihan ataupun penyesalan. Enjoy every single moment :)"
My last message for you:

Jangan pernah terpukau dengan gempa meskipun kalian belum pernah terkena gempa. Bahaya.



Monday, November 25, 2013

Just Wanna Heal Myself

Setiap cerita pasti mempunyai akhir. Setiap buku pasti akan memiliki waktu saat dia ditutup dan cerita telah selesai. Begitu pula ceritaku. Waktu telah menjawabnya. Setiap orang akan datang dan pergi di kehidupan kita, entah Tuhan akan mengizinkan orang itu tinggal untuk selamanya ataupun hanya sementara.

Sedih dan kehilangan pasti akan selalu dialami saat semua keadaan yang telah menjadi rutinitas kita tiba-tiba berubah. Aku menulis ini tidak untuk menceritakan cerita sedih. Aku menulis ini hanya untuk membagi pemikiranku tentang hubungan yang telah berakhir. Meskipun pengantar dari tulisan ini terlihat galau, tapi aku menulis ini dalam keadaan baik-baik saja dan tidak galau. Aku telah berhasil melewatinya, aku yakin semua orang akan bisa melewatinya, waktu, sahabat, dan keluarga adalah obat penyembuh terbaik.

Meskipun orang tersebut telah berhasil membuka kotak pandoraku, meskipun orang tersebut telah menjadi orang yang berhasil menyingkirkan pokerfaceku, tapi waktu dan takdir memberikan jawaban yang berbeda. Setiap orang datang  dan pergi tanpa diduga, tiba-tiba saja suatu saat kita akan bertemu dengan orang yang tidak pernah kita sangka dan suatu saat orang terdekat kita akan pergi meninggalkan kita.

Kehidupan memang ajaib. Aku selalu terkagum-kagum dengan cara kerja Tuhan dalam mempertemukan dan memisahkan manusia. Tuhan memberikan suatu kejadian yang biasanya kita sebut "cosmological coincidence" yang pada dasarnya itu adalah takdir yang digariskan Tuhan dan kejadian yang kita tarik sendiri dari pemikiran kita. Aku sangat percaya bahwa setiap  kejadian itu terjadi karena pada dasarnya pemikiran kita sendirilah yang menginginkannya. 

I write this story  to heal myself. Obat terbaik untuk menghilangkan kesedihan dan kesepian memang berbagi dengan orang lain. Aku telah berhasil menyembuhkan diri dan berbagi dengan orang lain. Setiap kejadian memang terjadi dengan pelajaran dibaliknya. Tuhan memang adil, Tuhan memberi hak kepada setiap manusia untuk memilih bahagia atau tidak. Kesedihan ada untuk melengkapi kebahagiaan seperti halnya ketidak sempurnaan yang ada untuk melengkapi kesempurnaan. Bersedih bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, menurutku setiap manusia membutuhkan waktu bersedih dan waktu sendiri. Setiap orang membutuhkan waktu untuk menikmati kesedihannya. Hal yang terpenting bukanlah seberapa lama kamu bersedih namun seberapa bisa kamu menyembuhkan dirimu sendiri.

Aku bersyukur telah melewati berbagai hal dalam hidup. Setidaknya hidupku tidak sedatar papan. Terkadang kita memang membutuhkan waktu untuk kembali fokus kepada diri kita sendiri. Terkadang kita terlalu fokus kepada hubungan dengan pasangan kita dan melupakan impian kita, kebahagiaan kita. Seperti halnya komputer yang seringkali harus direfresh, kehidupan kita juga harus direfresh. Bukan untuk menghilangkan kenangan namun untuk menyegarkan kembali kehidupan kita dan mengisinya kembali dengan calon-calon kenangan lainnya. 

Bukan seseorang yang susah untuk dilupakan tapi kenangan dengan seseorang itulah yang susah dilupakan. Ikhlas, menurutku itu adalah obat terbaik. Kenangan bukan untuk dihapuskan tapi untuk disimpan menjadi salah satu pengisi laci otak kita. Pada intinya dari semua hal yang aku bicarakan diatas adalah "syukuri kejadian apapun yang diberikan Tuhan kepada kita". Aku bukanlah munafik ataupun menghibur diri, tapi aku berusaha mempercayai   pikiranku dan kepercayaan hidupku. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memberikan takdirnya. Tuhan tidak pernah salah memperkenalkan kita dengan orang-orang baru. Berbahagialah di dalam kesedihanmu. Bersedih bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, nikmatilah kesedihanmu. Syukuri kesedihanmu maka kamu akan mendapatkan bahwa kebahagiaanmu menjadi lebih indah.

Mungkin aku mendapatkan pemikiran ini tidak sendiri. Aku berterima kasih untuk orang-orang terdekatku, orang-orang yang baru kukenal namun bisa memberikan pemikiran bagus. Aku berterima kasih untuk kesempatan "do stupid things together" yang memberikan cukup semangat dan banyak pemikiran baru dalam hidupku. Thanks to my family, my bestfriend, my ex, and my new brother. :D Thank you for being mine for all of you. Thank you God, I always love you.