Showing posts with label me as student. Show all posts
Showing posts with label me as student. Show all posts

Sunday, February 4, 2018

Fighting for Whatever, Whoever, Everything, You Want

Ternyata tidak sesuai dengan janji yang sudah kujanjikan  di post sebelumnya, untuk sering pos di blog ini, aku malah sibuk dengan kehidupanku. Tapi, sekarang sepertinya aku butuh tempat untuk untuk menuangkan isi kepalaku yang sudah terlalu penuh dengan berbagai hal. Mari kita mulai untuk curhat dan bercerita lagi disini.

Sebelumnya aku mau cerita dulu mungkin, alasanku kenapa mengingkari janjiku. Jadi....., tidak begitu lama dari aku menulis pos terakhir, aku mendapat pengumuman bahwa aku diterima beasiswa S2 yang sudah lama aku incar. Hore.....

Aku mulai disibukkan dengan banyak kegiatan, bertemu dengan sangat banyak orang baru, mengenal orang baru, mendengarkan cerita mereka, mendapat pola pikir baru, merubah kehidupanku sedikit demi sedikit. 

Satu tahun ini, entah kenapa sangat banyak hal baru terjadi. Sangat banyak. Sebentar mari diulang. SANGAT BANYAK. Mungkin lain kali aku ceritakan satu-satu. Cuma aku ingin cerita, jadi salah satu hal baru yang aku dapat, akhirnya di bulan Oktober 2017, aku sampai di Jepang. IYA! Jepang. Ade Putri Aulia Wijharnasir. Alias Chiko. Membaca email berisi pengumuman bahwa aku diterima untuk program exchange  selama 6 bulan di Jepang. TERIAK. Ya pastilah. Kalau dunia bisa diajak berteriak, aku mau ajak dunia. Satu hal yang paling aku senang dengan kenyataan aku bisa ke Jepang, aku bisa foto seperti ini.




Jepang. Negara yang entah bagaimana ceritanya dari aku kecil selalu jadi negara impianku. Singkat cerita, aku sudah sampai di Jepang, dan sesuai ekspektasi. Orang Jepang susah berbicara bahasa Inggris. 
Hari pertama. Lucu.
Hari kedua. Orang Jepang lucu banget sih ngomongnya.
Hari ketiga. ......
Hari ketujuh. Tuhan. Terus ini ngomongnya gimana.
Akhir bulan pertama. Jepang keren banget. Baik banget semua orangnya.
Akhir bulan kedua. Aku pengen pempek, batagor, nasi penyet ayam, rawon, bakso, soto, tekwan. Aku ingin dia. Chiko mulai menyanyi lagu Doraemon. Aku ingin begini. Aku ingin begitu.


Satu hal yang akhirnya aku mengerti, selama berbulan-bulan tinggal di Jepang. Aku harus berjuang untuk apapun yang aku inginkan. Aku harus berjuang untuk bisa S2. Aku harus berjuang untuk bisa mewujudkan mimpiku ke Jepang. Aku harus berjuang untuk bisa mengerti orang Jepang ngomong apa. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan sahabat-sahabat yang jauh disana. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan keluargaku. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri saat aku ingin makan nasi penyet ayam. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri, saat tengah malam ingin makan bubur ayam Bandung, di tengah mata super ngantuk, jam 2 malam, aku penggemar nomor satu Bubur Ayam Mang Dudung yang legendaris di Surabaya, harus mengaduk bubur lebih dari setengah jam, menggoreng pangsit, ayam, hati goreng, DEMI memenuhi keinginan absurd ku yang sering kumat tengah malam. Dan selama ini selalu selesai dengan bapak/mas Go Food tercinta. Terima kasih Bapak dan Mas Go Food. 

Ternyata untuk makan bubur tengah malam, perjuangannya besar.
Ternyata Tuhan bisa mengajarkan aku untuk lebih sabar dan berjuang hanya dari perkara semangkuk bubur, dan bahkan juga makaroni pedas (yang sumpah di kampus harganya cuma 500 rupiah dan sering aku buang kalau bosan huhuhu, tapi disini jatuh satu ke lantai pun aku makan lagi, karena untuk ngemil aja butuh usaha). Kuliah yang berat, language barrier, organisasi yang demanding, komunikasi yang susah, teman, sahabat, yang mulai bertingkah aneh dan menyebalkan, permasalahan keluarga yang menuntut diselesaikan, permasalahan teman yang menuntut untuk didengarkan, permasalahan diri sendiri yang menuntut untuk diselesaikan. Belum lagi perubahan musim yang membuat aku akhirnya sadar TERNYATA BENERAN ADA WINTER DEPRESSION ITU, homesick, orang-orang yang menuntut untuk diperjuangkan, orang-orang yang tidak menuntut untuk diperjuangkan tapi harus diperjuangkan, orang-orang yang enaknya diperjuangkan ga ya(?), orang-orang yang sedang dan akan dirindukan, orang-orang yang inginnya dirindukan, tapi ternyata tidak rindu (lho gimana?).

Hal-hal yang harus dipermasalahkan ternyata banyak juga. Manusia memang paling hebat kalau soal mencari masalah. Tapi bahkan masalah pun harus diperjuangkan. Perjuangkan untuk diselesaikan. Satu demi satu. 

Jadi untuk kalian disana, yang merasa sedang berjuang, untuk semua hal yang berada di depan, belakang, samping, ataupun jauh dari kalian sebenarnya. Simple things ain't worth to fight for. Semua terasa rumit, karena memang itu layak untuk kalian perjuangkan. Semua terasa menyakitkan, melelahkan, karena.......itu alasan kalian hidup kan? Karena orang hidup pasti akan merasa sakit. Orang hidup pasti akan merasa lelah. Tapi ingat, orang hidup juga merasakan bahagia kok. :) Setidaknya kalau kalian merasa hidup terlalu menuntut banyak usaha, yasudah, makan bubur aja yuk, setidaknya makannya tinggal diemut, tidak perlu usaha.

Maaf. Aku lupa. Masak bubur lebih butuh usaha daripada masak nasi. Oke. Berarti hidup memang untuk diusahakan. Perkara bubur pun butuh diusahakan. Aku jadi lapar. Jadi Tuhan, eh salah, Jadi Nadiem. Kapan Go Food mau diekspansi ke Jepang? Saya ternyata lebih butuh Bapak Go Food daripada pacar untuk saat ini.

"It is not simple. Because you know, simple things ain't worth to fight for. Life is simple, at the end. But, at least, I hope, tomorrow is not the end of my life. God, I will fight for it. I will sing Yubikiri Genma now."


Monday, September 24, 2012

Don't forget your past! STOP SENIORITAS!

Banyak cerita yang berbeda di semester ini. Semakin berbeda, semakin merasa terpojokkan. Awalnya aku cukup antusias, cukup ingin tahu apa yang akan terjadi di semester ini. Aku akan punya adik kelas dan apa yang harus aku lakukan kepada mereka. Antusiasme itu hilang hanya dalam waktu 3 minggu. Bukan karena banyak mahasiswa baru yang menyebalkan tapi hanya keadaan yang membuat semuanya menjadi terasa lebih menyebalkan.

Aku memang tidak pernah suka dengan orang munafik. Aku ga ada niat untuk menjelek-jelekkan beberapa orang dan beberapa sudut pandang yang mereka gunakan. Aku menceritakan ini semua tanpa niat untuk menjelekkan pihak pihak tertentu. Aku hanya ingin berbagi cerita. It's my blog, it's my world, it's not their business. Aku bercerita dengan caraku, cara yang menurutku menyenangkan meskipun sudah lama ga kulakukan.

Semua hal menyebalkan dimulai dari tingkah banyak orang di kampus saat mahasiswa baru datang. Semua tingkah yang menurutku menyebalkan dan memuakkan. Aku bukan tipe orang yang suka membenci orang lain karena alasan sepele. Meskipun aku seorang yang keras kepala tapi aku juga seorang yang fleksibel. Hanya satu hal yang menurutku sangat menyebalkan, yang menutup kemungkinanku untuk bersikap fleksibel.


Senioritas. Aku sangat benci senioritas. Kenapa harus ada hal seperti itu? Kenapa budaya itu harus selalu dilestarikan? Alasannya klise, karena mendidik disiplin dan melatih etos kerja. Konyol? Memang sangat konyol. Ini semua pendapat pribadi ku. No offense. Aku ga ingin menjelekkan siapapun tapi cuma ingin mengeluarkan pendapatku.

Di kampusku ada kegiatan untuk mahasiswa baru yang dinamakan pengkaderan. Aku ga memberikan label jelek ke kegiatan itu. Tapi aku memberikan jempol terbalik untuk mereka yang sudah ikut pengkaderan tapi ga bisa buat perubahan. Semua kalimat janji diucapkan tanpa makna, janji yang terpenting adalah janji yang spontan dikeluarkan dari hati bukan janji yang dibaca karena merupakan kewajiban untuk lulus dari pengkaderan. Jika tetap seperti itu bukankah tidak ada bedanya? Melatih softskill? Bullshit. Semua itu cuma harapan semu, janji-janji yang dibuat untuk meyakinkan diri sendiri agar terhindar dari rasa hampa karena menyadari hal yang konyol.

Kehidupan ini memang abu-abu, untuk jadi idealis sempurna itu mustahil. Kita semua ada di zona abu-abu. Kita ga akan pernah bisa jadi hitam ataupun putih sempurna. Kita ga akan bisa hidup di satu sudut pandang saja, keluar dari zona aman dan coba liha dunia dari banyak sisi. 

Mayoritas dari teman-temanku adalah pembimbing pengkaderan yang terikat dengan banyak peraturan. Peraturan yang sangat mengikat dan memperuncing masalah kecil. Hal konyol menjadi semakin konyol. Semua hal tentang mahasiswa baru sangat diperhatikan, apakah itu penting? Melatih softskill dengan cara seperti itu? Itu bukan pengkaderan yang benar. Senioritas hanya memperburuk citra pengkaderan. Hal-hal sepele menjadi besar, semua hal menjadi salah jika itu dilakukan oleh junior. 

Jangan pernah lupa, setiap senior pernah merasakan rasanya menjadi junior. Setiap senior tahu rasanya menjadi pihak yang selalu salah dan menjadi serba salah untuk melakukan apapun di depan senior mereka yang dulu. Perubahan!!! Hanya itu yang diperlukan. Kalimat bahwa semua senioritas ini untuk menyiapkan diri ke dunia kerja itu sangat konyol. Jika itu tetap kita lakukan, mata rantai ga akan pernah putus. Bukankah dengan menghentikan budaya itu dari sekaran dan kemudian dibawa ke dunia kerja, bukankah itu lebih bagus?

Rasa hormat itu didapat dari rasa ikhlas untuk tersenyum dan menyapa, bukan dari paksaan senior. Selalu berkata tidak gila senioritas tapi selalu menuntut diberi senyuman tanpa memberikan balasan. Itu adil? Jangan lupakan masa lalu kalian, teman-teman. Sederhana. Ya memang sederhana. Coba melihat sudut pandang dari sisi lain kembali.

Hubungan pertemanan yang baik itu dimulai dari rasa nyaman dan saling menyenangkan. Bukan dari rasa terpaksa dan saling menggunjing di belakang. Ga nyaman? Ga usah berteman dekat. Simple. 

"Don't forget your past! Everyone has their own past and it makes them know about future"

Monday, August 27, 2012

Happiness?



Sewaktu SMP, saat nilai ulangan bahasa Inggrisku menurun drastis, seorang guru bahasa inggrisku menuliskan kata “be yourself” tepat di bawah nilaiku disertai dengan sebuah smiley. Aku menemukan kertas lama itu terselip di lemari buku milikku dan akhirnya ingatan masa kecilku datang kembali ke otakku.

Masa kecilku dipenuhi dengan sikap memberontakku. Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku dilahirkan dengan iq yang cukup tinggi untuk anak seumurku. Aku mengalami proses perkembangan yang terlalu cepat untuk anak seusiaku, aku ga pernah sadar tentang itu. Kupikir itu adalah hal yang wajar sampai akhirnya aku menginjak bangku sekolah dasar. Aku yang sudah bisa membaca akhirnya merasa sangat bosan dengan pelajaran di sekolah dan selalu kabur dari dalam kelas untuk bermain-main di luar. Aku juga selalu kabur untuk menyelinap masuk ke ruang kelas 3 atau 4 SD. Aku bertingkah hiperaktif.

Hiperaktif memang identik dengan autis. Aku yang selalu ingin tahu mencoba semua percobaan-percobaan yang aku baca dari beberapa majalah anak-anak, aku mencoba semua hal heroik dari superhero yang aku lihat di TV. Sudah ga terhitung berapa seringnya aku terluka dan cedera karena tingkahku ini sampai akhirnya saat di sekolah, aku yang merasa super duper bosan bermain main di bawah meja sampai akhirnya ujung mataku membentur meja dan akibatnya saraf di dekat mataku terganggu sehingga mataku selalu berkedip tanpa henti. Dimulai dari situlah semua perilaku anehku ketahuan.

Dimulai dari aku pergi ke dokter mata untuk mengecek saraf mataku sampai akhirnya aku pergi ke berbagai macam dokter yang sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa alasannya. Hingga berakhir semuanya di seorang psikiater. Psikiater itu menanyaiku macam-macam dan memberikan banyak tes kepadaku. Kemudian ketahuanlah semua penyebab dari sikap-sikapku selama ini yang berbeda dari anak-anak seumuranku. Aku terlahir dengan iq yang cukup tinggi untuk anak seumuranku, seingatku 148 dan itu tergolong jenius. Tapi hal ini memberikan efek lain yang cukup riskan untuk usiaku saat itu. Aku yang terlalu ingin tahu dan hiperaktif sehingga aku selalu menentang semua konsep-konsep yang diajarkan padaku. Psikiater tersebut juga mengatakan jika hal ini diteruskan aku akan menjadi seorang anak yang autis. Mendekati autis lebih  tepatnya, aku akan menjadi anak-anak yang berbeda dengan anak lainnya.

Aku masih sangat ingat, guru-guruku menawarkan kepada orangtuaku agar aku loncat kelas hingga ke kelas 3 sd ataupun mengikuti program akselerasi. Ayahku menentang hal itu, ayahku ingin aku menikmati masa kecilku seperti anak-anak lainnya. Menurutnya masa SD adalah masa tumbuh dan berkembangku tanpa harus dipercepat dan harus dijalani secara alami. Kemudian sejak itulah aku menjalani beberapa terapi yang aku sendiri tidak ingat apa saja. Terapi itu bertujuan untuk mengurangi sifat hiperaktifku. Namun menurutku sisa-sisa dari hiperaktifku masih tersisa. Selama di bangku SD aku sangat suka menentang dan memberontak larangan orangtuaku. Aku selalu berkelahi dan memukul anak laki-laki di sekolahku, aku Cuma ingin berbeda dari anak-anak perempuan lainnya.

Aku merasa bosan. Aku bosan dengan pelajaran di sekolah yang menurutku monoton dan terlalu diulang-ulang. Aku benci saat aku sudah mengerti pelajaran itu dan teman-temanku selalu menanyakan hal-hal yang sama yang sangat sederhana dan tidak pernah mereka mengerti karena mereka lebih banyak bermain dibandingkan memperhatikan pelajaran itu di penjelasan pertama. Itu sangat membuang-buang waktu. Akhirnya aku selalu menduduki peringkat 1 di sekolahku dan sifat kompetisiku muncul. Aku tidak pernah ingin dikalahkan oleh orang lain. Sampai akhirnya aku menginjak bangku kelas 6 dan entah kenapa aku mulai merasa tertekan dengan semua hidupku. Aku merasa muak dengan semua kompetisi yang aku lewati, aku merasa semua ini bukan hal yang harusnya aku lewati. Aku tertekan dengan tuntutan orang tuaku dan orang-orang lain yang member label anak pintar untukku. Aku merasa ini semua memuakkan. Aku selalu merasa down saat melihat nilaiku bukanlah nilai yang tertinggi. Aku bisa menangis hanya karena aku ga bisa mengerjakan tugasku. Aku sangat stress saat itu, aku tertekan dengan tuntutan dari orangtuaku supaya aku selalu menjadi yang terbaik.

Saat melihat keadaanku yang seperti itu, orangtuaku membawaku ke psikiater. Tapi menurutku itu ga memberikan perubahan yang berarti. Sampai akhirnya aku terbangun di malam hari dan menangis diam-diam dan memutuskan untuk berhenti menjadi yang terbaik dan menjadi diriku sendiri tanpa memaksakan kemampuanku. Entah kenapa rasanya semua beban yang selama ini ada di kepalaku diangkat semua dan bersih tak bersisa. Semenjak itu nilai-nilaiku kembali membaik dan aku merasa bangga aku bisa mengatasi masalahku sendiri.

Aku mulai mengenal kata ikhlas, aku akhirnya mengerti kebahagiaan itu ga akan pernah datang saat kita mencarinya sekuat tenaga tapi saat kita berdiam diri, mengikhlaskan, dan mempercayai kemampuan diri kita maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.


Aku menikmati kehidupanku dan menikmati ke-aku-anku. Aku bangga menjadi diriku sendiri tanpa harus berusaha meniru orang lain. Aku sangat menikmati kelebihan dan kekuranganku. Aku ga pernah lagi berusaha berambisi dan akhirnya kecewa. Aku akan memikirkan banyak mimpi dan berusaha melakukan sebaik-baiknya untuk semuanya. Apapun hasilnya adalah semua kerja kerasku, aku bangga dan yakin bahwa semuanya adalah hasil terbaik yang telah diberikan oleh Tuhan. 


Sunday, July 29, 2012

Welcome to college life, Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Mungkin sedikit aneh, ga ada angin, ga ada hujan. Yah mungkin sekarang sedikit hujan rintik, tapi tetap saja aneh. Aku tiba-tiba ingin menuliskan tentang Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Itu nama kampusku. Ya, aku kuliah di institut. Meskipun banyak yang bilang institut itu keras didikannya, banyak belajar, tugas, dan susah untuk lulus. Tapi menurutku ini menarik.

Ga munafik. Aku sebenarnya ingin masuk ITB. Setiap siswa di Indonesia yang ingin belajar teknologi pasti akan memikirkan ITB sebagai tujuannya. Sejak ke cil aku bermimpi masuk MIT di Amerika ataupun ITB di Bandung. Aku ingin mempelajari astronomi. Aku yakin banyak rahasia yang terdapat di alam semesta. Kemudian impian itu pupus karena banyak hal dan akhirnya aku terdampar di ITS di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (Marine Engineering). Jauh. Ya, sangat jauh dari impian masa kecilku meskipun jurusan ini adalah jurusan pilihanku sendiri. 

Aku memilih ITS karena menurutku peluang masukku akan lebih besar di ITS dibandingkan ITB. ITB memang memberikan peluang masuk untuk  siswa asal Kalimantan lebih sedikit dibandingkan ITS.  Sebenarnya aku juga terobsesi dengan industri perminyakan dan sayangnya di ITS tidak ada jurusan perminyakan. Kemudian aku tahu bahwa Ocean Engineering dan Marine Engineering juga memiliki bidang keahlian perminyakan. Meskipun ITS bukan impianku aku cukup senang berada di institut ini minus kegiatan pengkaderan mahasiswa baru yang terkadang membuatku merasa sangat absurd.

Mungkin untuk adik-adik kelasku yang ingin mayoritas ingin mengambil jurusan pendidikan dokter, kenapa kalian tidak coba mengambil teknik? Teknik itu menarik meskipun kalian harus sering bertemu dengan matematika dan fisika. Tapi satu hal yang menurutku menarik adalah gelar engineer yang akan kalian pegang, bukankah itu keren? Bukankah melihat seorang engineer dengan helm engineernya dan membawa blueprint dari desain mereka di lapangan dengan banyak pekerja di sekitarnya itu terlihat sangat keren? Dan yang jelas gaji seorang engineer sangat besar dan stabil.
Look! How cool she is?!


Jika kalian ingin mencoba teknik tidak ada salahnya kalian mencari tahu tentang ITS. Tidak buruk untuk mencoba bukan? Selain semua jurusan sudah berakreditasi A fasilitas-fasilitas di institut ini bagus dan menurutku lumayan mencerminkan ini adalah sebuah institut teknologi dan juga hampir semua dosen yang kalian temui disini adalah lulusan dari perguruan tinggi di Jepang dan Eropa. Setidaknya kalian akan sering mendengar cerita mereka tentang berkuliah disana dan itu sangat menyenangkan bukan?

Aku akan menunjukkan beberapa gedung fasilitas yang ada di ITS. Menurutku ITS adalah kampus perjuangan yang bagus dan aku suka kuliah disini ditambah lagi aku bertemu pacarku disini :p . 


Pusat Robotika, pusat studi robot Indonesia - ITS memang dikenal dengan robotika dan perkapalan

Rektorat ITS

Manarul Ilmi, Mesjid ITS

Gedung NASDEC - pusat studi dan penelitian perkapalan Indonesia

Graha ITS - gedung serbaguna ITS

Perpustakaan ITS

Gerbang masuk ITS

jurusan Kimia di FMIPA


ITS mempunyai 5 fakultas yaitu FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), FTSP (Fakultas Teknologi Sipil dan Perencanaan), FTI (Fakultas Teknologi Industri), FTK (Fakultas Teknologi Kelautan, FTIF (Fakultas Teknologi Informasi) dan ditambah dengan 2 politeknik yang sebenarnya sejak awal Januari tidak berstatus sebagai ITS lagi yaitu PENS (Politeknik Negeri Surabaya) dan PPNS(Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya).

Menurutku semua fakultas bagus dan kami semua ada di bawah naungan almamater biru ITS. Warna jas almamater ini juga salah satu alasan kenapa aku memilih ITS, biru, ya aku suka warna biru, sangat suka. Memang alasan yang kekanak-kanakan :D tapi aku ga peduli toh tetap saja aku sudah kuliah dan berada di ITS. Kowawa~

Kuliah di institut terutama institut teknologi memang seperti kebanyakan yang orang pikirkan. Banyak tugas, kuliah malam, dan sedikit cewe. Ya memang disini sedikit cewe tapi itu ga akan menjadi masalah menurutku. Asal kalian tau, dengan sedikitnya cewe kalian akan merasa eksklusif dan dilindungi. Meskipun terkadang sedikit mencolok dan itu kadang terasa sangat menyebalkan jika senior-senior sangat memperhatikan tingkah laku dan sopan santun kami. Oh my God, senioritas again~ .

ITS ini sangat bagus, ya meskipun mungkin kebanyakan mahasiswa lain akan mengatakan banyak hal bagus tentang ITS tapi aku akan jujur disini dan aku rasa akan banyak mahasiswa ITS yang setuju. Sejauh ini ITS sangat bagus dan hanya 3 hal yang sangat buruk yaitu senioritas, banyak cowo yang merokok, dan ini yang mutlak adalah Surabaya itu panas. Ya, benar. Sangat panas, aku merasa aku 150% menjadi lebih hitam sejak kuliah disini. Entahlah kapan Surabaya akan menjadi sedingin...hhmm setidaknya sedingin Malang, kota tetangganya.

Untuk informasi tentang ITS lebih lanjut kalian dapat membuka website its

Tapi apapun itu, ITS tetap kampus tercintaku , kampus perjuanganku di kota perjuangan Surabaya. Semoga aku akan lulus dan menjadi seorang Engineer yang bisa berbakti untuk orang lain. 

"Apapun yang kita dapatkan adalah sebuah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Berusahalah untuk meraih impianmu meskipun dengan cara yang berbeda, sebab akhir impianmu pastilah sesuatu yang indah jika tidak indah itu bukanlah sebuah akhir impianmu"


Cara Mengetahui Jenis Kelamin Komputermu :O


Sebelumnya aku mau ngasih tau kalau info ini aku dapatkan dari kaskus tapi sayangnya aku lupa URL untuk thread yang memuat info ini. Menurutku cukup menarik dan unik untuk iseng-iseng saat ga ada kerjaan. 


1. Dengan tampilan desktop, coba kalian buka notepad

2. Isi dengan kode ini CreateObject("SAPI.SpVoice").Speak"I Love You"

3. Save file tersebut di desktop dengan nama xyz.vbs

3. Klik dua kali file tadi, pastikan volume speaker kalian cukup keras

4. Maka akan terdengar suara seseorang menyapa dan berkata I Love You, jika sapaan tersebut suara wanita maka komputer kalian berjenis kelamin wanita, begitu  juga sebaliknya.

Silahkan dicoba teman-teman. Aku sudah mencoba dan komputerku berjenis kelamin pria. Saranku jangan mencoba ini di malam hari, suara yang dihasilkan terdengar sedikit menyeramkan menurutku.


Friday, July 13, 2012

MOS, OSPEK, Uji Kedewasaan?!

MOS. Masa Orientasi Siswa. Aku dapat ide nulis tentang ini gara-gara tadi siang aku cerita-cerita sama Dela, adiknya cowoku. 

Aku ingat, aku sudah menjalani 2 masa MOS dan 1 kali OSPEK. Tapi konsep ini masih sangat absurd buat aku. Aku ga tahu kenapa di setiap MOS ataupun OSPEK selalu ada tim yang disediakan untuk marah-marah, ngamuk-ngamuk ga jelas. Waktu aku kuliah, malah lebih parah. Yah namanya bukan OSPEK tapi pengkaderan tapi apa sih bedanya?! 

Di semua institusi pasti ada yang namanya orientasi untuk setiap orang baru. Aku bukan ga setuju sama semua hal seperti itu. Bukan aku menutup diri, menutup mata, ataupun menutup telinga dari hal-hal seperti. Aku cuma ga suka satu unsur disitu. SENIORITAS. Mungkin pikiranku ini terdengar kekanak-kanakan tapi menurutku selama kita masih bisa menerima hal baik dengan cara yang benar, dengan cara pendekatan yang sebenarnya kenapa harus dengan pendekatan secara kasar. Umur bukan penentu semuanya kan?

Yah tapi bisa dibilang aku munafik, meskipun aku berpikir seperti itu tapi aku masih saja mau mengikuti perintah-perintah para senior itu. Tapi entah kenapa aku merasa kalah kalau aku tidak menyelesaikan kegiatan-kegiatan seperti itu. Di kampusku atau lebih spesifik jurusanku senioritas sangat terasa. 

Aku juga pernah jadi senior di SD, SMP, SMA. Aku memang pada dasarnya bukan tipe orang yang suka jaga wibawa ga di tempatnya. Bukannya lebih bagus kalau kita saling akrab satu sama lain? Dan untuk akrab, kesan pertama itu penting. Bagaimana junior bisa akrab dengan senior kalau kesan pertama dari senior adalah muka garang dengan tampang cemberut yang selalu marah-marah tanpa alasan yang jelas.

Alasannya itu untuk mendidik disiplin. Yah asal mereka tahu saja, junior mereka ini juga sudah besar, kami tahu kalau semua itu sudah direncanakan. Kami cuma akan disiplin di depan kalian saja. Bukannya itu yang lebih dikatakan munafik?


Aku suka mengutip quote-quote yang menurutku unik, seperti diatas. 

Maturity is not when we start speaking BIG things. It is when we start understanding small things. 

Dewasa itu bukan waktu kita berbicara hal-hal besar tapi waktu kita bisa memahami hal-hal kecil yang biasanya tidak diperhatikan oleh mereka yang merasa telah dewasa. 

Seseorang  bilang ke aku, "Jangan takut untuk bicara yang benar, dewasa itu bukan umur tapi pikiran" . Kalimat itu benar, sangat benar. Tapi untuk berkata benar itu banyak cobaan kan? Dewasa itu juga bukan lari dari kenyataan yang buruk tapi berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Setidaknya untuk diri sendiri.

Jadi kalau begitu apa penting senioritas? Apakah menjadi aktivis organisasi menjamin dia punya softskill yang bagus?

Dunia perlu orang yang memahami bukan hanya orang yang berbicara. Dunia juga perlu orang yang mendengar bukan hanya orang yang meminta untuk didengarkan. Dunia juga perlu orang yang bisa berpikir positif, terbuka, dan fleksibel bukan orang yang keras kepala tanpa bisa melihat dari sudut pandang lain.

Aku ga bilang MOS ataupun OSPEK itu salah, tapi kenapa harus diberi unsur dan kesan yang tidak menyenangkan. Bukannya hal indah dan menyenangkan lebih melekat di otak? Disiplin itu bukan paksaan, disiplin itu didapat dari pengalaman. 

Menurutku untuk setiap siswa baru ataupun mahasiswa baru, jangan ulangi kesalahanku dulu. Aku takut dengan OSPEK, aku takut dengan senior. Setelah kujalani, ternyata seru juga membayangkan muka aneh senior-senior itu saat mereka marah-marah dan kuubah menjadi muka kartun di otakku. Aku bahkan kadang menganggap mereka hanya wortel dan kentang yang bisa berbicara. Aku tahu itu sedikit kurang ajar tapi toh itu kan hanya di dalam otak, aku cuma berpikir, itu hak asasi ku.

Jangan pernah mau kalah dengan semua kegiatan itu. Coba jalani dan pikirkan semua yang bisa kamu simpulkan. Pengalaman itu guru yang baik kan? Karena kamu sudah tahu rasanya menjadi junior yang selalu salah itu ga enak jangan pernah menjadi senior yang menyebalkan.

Life is simple. Don't do that if you hate other treat you like that. Tuhan itu ada dan karma itu juga ada. 


Wednesday, July 4, 2012

I miss you my autism :')



Autism. Itu bukan nama resmi dari kami. Itu hanya nama sebutan aku khusus untuk kami semua. 

Aku menjalani masa-masa SMA ku dengan mereka semua, masa-masa SMA yang bodoh. Meskipun kami bersama bahkan kurang dari 2 tahun. Kami adalah 25 orang yang terdampar di kelas ini dan mayoritas kami masuk ke kelas ini dikarenakan satu alasan sederhan "iseng ikut tes". Kemudian kami menjalani masa-masa awal SMA yang cukup berat. Berbeda dengan kelas lainnya, kami memiliki waktu belajar dan guru yang berbeda. Di saat kelas lain menjalani 1 semester dalam 6 bulan, kami hanya menjalaninya dalam 4 bulan. Aku masih sangat ingat, di semester 1. Kami menjalani beban belajar secara individual dan sifat kompetisi kami sangat tinggi. Pada saat kami menjalani UTS pertama kami, kami semua sangat stres. Aku sendiri pun mengalami hal itu. 

Tapi ga lama, kami mengenal satu sama lain. Kami saling berbagi beban da nasib kami yang beda dengan kelas lainnya. Sebenarnya bukan berarti kami dikucilkan oleh kelas-kelas lainnya. Tapi, jadwal belajar kami yang  berbeda dan jadwal liburan kami yang sering berbeda dengan mereka menyebabkan kami seakan-akan terpisah dari dunia luar. 

Sekilas mungkin banyak orang akan berpikir, masuk kelas akselerasi saat SMA itu tidak enak. Tapi menurutku ga ada yang salah sama aksel waktu SMA. Malah karena waktu yang sempit ini,kami sangat menghargai waktu bersama kami. Kelas bahkan seperti rumah kami, dan rumah asli kami adalah rumah kedua. Hahahaha...Bayangkan saja, kami bahkan bisa ada di sekolah jam 6 WITA hanya untuk datang kelas untuk jam ke-0 . Dan kami pulang sore hari jam 4 atau 5 WITA. Hampir 12 jam kami berada di kelas. Karena kami disediakan loker untuk setiap siswa, terkadang beberapa teman-temanku bawa boneka, bantal, sandal, komik, dll. Hampir semua kegiatan kami lakukan di kelas, mulai dari belajar, makan, tidur, nonton film, ngedisko bareng, main UNO, main judi, hahahaha. 

I miss you guys. I miss our stupid activity. Anak aksel memang identik dengan anak pintar, padahal sebenarnya seandainya mereka tau apa yang kami kerjakan saat kelas kami tutup. Dunia seakan milik kelasku. Bahkan saat ada guru di kelas pun, kami akan tetap bermain-main. Kami sendiri lebih mendeskripsikan kelas kami seperti anak-anak kecil, anak-anak autis. Karena itu kami menyebutnya autism. 

Aku sendiri menganggap aksel angkatanku adalah angkatan terbandel. Kami sangat serinng membuat guru-guru dan wali kelasku pusing karena kelakuan kami. Dimulai dari kami semua kabur kelas tambahan rame-rame sampai dijemur di tengah lapangan di depan semua kelas lain waktu istirahat, sampai kartu UNO dan remi kami yang dirobek-robek berkali-kali tapi tetap saja kami punya banyak cadangan di loker masing-masing. Hahaha...


Kelasku :D


Kami memang hampir selalu berada di dalam kelas, tapi itu adalah kebahagiaan untuk kami. Seringnya kami bersama-sama yang membuat kami merasakan bahwa kami adalah keluarga yang senasib terjebak di kelas ini. 

Kedekatan kami dimulai dari kegiatan Trip Observation pada saat semester 3. Bepergian selama seminggu untuk menginap bersama ke Surabaya dan Malang menyebabkan kami saling berbagi suka dan duka. Dimulai dari menjelajah jalanan yang sepi di subuh hari hanya untuk melihat lampu-lampu kota Malang dari ketinggian sampai menceburkan diri di kolam renang hotel di sore yang sangat dingin, sampai-sampai saat baru menceburkan diri kami langsung kalap untuk kembali karena ga kuat dingin :D. Banyak sekali kegiatan-kegiatan gila yang kami lakukan. Hal yang sangat sederhana sebenarnya tapi berarti di ingatan kami. Tapi ga semua hal indah. Terkadang kami akan saling bertengkar untuk hal sepele, tapi itulah warna warni kehidupan. Kalau selalu akur ga akan ada warna di kehidupan kami kan?! I really miss you guys :'3 

Meja Belajarku :3