Suatu hari aku membaca catatan kecil di suatu halaman notes seniorku, seniorku di kampus yang bernama Kak Nadia. Aku membaca kalimat seperti ini,
"Cinta itu seperti kopi panas. Ga enak kalau langsung diminum setelah dihidangkan, karena terlalu panas. Tapi ga akan enak jika dibiarkan lama karena sudah terlalu dingin untuk dinikmati."
Dari kalimat itu aku baru sadar, ternyata cinta memang seperti kopi panas. Pada saat baru dihidangkan akan terlalu panas untuk dinikmati, akan terasa berlebihan. Tapi jika dibiarkan terlalu lama maka akan mendingin dengan sendirinya dan tidak enak untuk dinikmati.
Aku memang masih seorang anak perempuan kecil yang belum mengerti tentang cinta. Aku tidak pernah bisa mengerti apa yang didefiniskan orang lain mengenai cinta. Aku hanya memiliki dua definisi mengenai itu. Cinta itu seperti coklat dan kopi panas.
Aku seorang pencinta kebebasan, aku tidak menyukai keadaan terkekang. Menurutku cinta tidak harus memiliki. Tapi terkadang cinta memang harus memiliki. What a paradox.
"Cinta itu tidak hanya seperti kopi panas, tapi juga seperti coklat. Coklat akan sangat manis untuk dinikmati sedikit demi sedikit, tetapi coklat akan menjadi hal yang memuakkan jika dinikmati berlebihan dan akan mencair jika didiamkan terlalu lama."