Monday, August 27, 2012

Happiness?



Sewaktu SMP, saat nilai ulangan bahasa Inggrisku menurun drastis, seorang guru bahasa inggrisku menuliskan kata “be yourself” tepat di bawah nilaiku disertai dengan sebuah smiley. Aku menemukan kertas lama itu terselip di lemari buku milikku dan akhirnya ingatan masa kecilku datang kembali ke otakku.

Masa kecilku dipenuhi dengan sikap memberontakku. Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku dilahirkan dengan iq yang cukup tinggi untuk anak seumurku. Aku mengalami proses perkembangan yang terlalu cepat untuk anak seusiaku, aku ga pernah sadar tentang itu. Kupikir itu adalah hal yang wajar sampai akhirnya aku menginjak bangku sekolah dasar. Aku yang sudah bisa membaca akhirnya merasa sangat bosan dengan pelajaran di sekolah dan selalu kabur dari dalam kelas untuk bermain-main di luar. Aku juga selalu kabur untuk menyelinap masuk ke ruang kelas 3 atau 4 SD. Aku bertingkah hiperaktif.

Hiperaktif memang identik dengan autis. Aku yang selalu ingin tahu mencoba semua percobaan-percobaan yang aku baca dari beberapa majalah anak-anak, aku mencoba semua hal heroik dari superhero yang aku lihat di TV. Sudah ga terhitung berapa seringnya aku terluka dan cedera karena tingkahku ini sampai akhirnya saat di sekolah, aku yang merasa super duper bosan bermain main di bawah meja sampai akhirnya ujung mataku membentur meja dan akibatnya saraf di dekat mataku terganggu sehingga mataku selalu berkedip tanpa henti. Dimulai dari situlah semua perilaku anehku ketahuan.

Dimulai dari aku pergi ke dokter mata untuk mengecek saraf mataku sampai akhirnya aku pergi ke berbagai macam dokter yang sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa alasannya. Hingga berakhir semuanya di seorang psikiater. Psikiater itu menanyaiku macam-macam dan memberikan banyak tes kepadaku. Kemudian ketahuanlah semua penyebab dari sikap-sikapku selama ini yang berbeda dari anak-anak seumuranku. Aku terlahir dengan iq yang cukup tinggi untuk anak seumuranku, seingatku 148 dan itu tergolong jenius. Tapi hal ini memberikan efek lain yang cukup riskan untuk usiaku saat itu. Aku yang terlalu ingin tahu dan hiperaktif sehingga aku selalu menentang semua konsep-konsep yang diajarkan padaku. Psikiater tersebut juga mengatakan jika hal ini diteruskan aku akan menjadi seorang anak yang autis. Mendekati autis lebih  tepatnya, aku akan menjadi anak-anak yang berbeda dengan anak lainnya.

Aku masih sangat ingat, guru-guruku menawarkan kepada orangtuaku agar aku loncat kelas hingga ke kelas 3 sd ataupun mengikuti program akselerasi. Ayahku menentang hal itu, ayahku ingin aku menikmati masa kecilku seperti anak-anak lainnya. Menurutnya masa SD adalah masa tumbuh dan berkembangku tanpa harus dipercepat dan harus dijalani secara alami. Kemudian sejak itulah aku menjalani beberapa terapi yang aku sendiri tidak ingat apa saja. Terapi itu bertujuan untuk mengurangi sifat hiperaktifku. Namun menurutku sisa-sisa dari hiperaktifku masih tersisa. Selama di bangku SD aku sangat suka menentang dan memberontak larangan orangtuaku. Aku selalu berkelahi dan memukul anak laki-laki di sekolahku, aku Cuma ingin berbeda dari anak-anak perempuan lainnya.

Aku merasa bosan. Aku bosan dengan pelajaran di sekolah yang menurutku monoton dan terlalu diulang-ulang. Aku benci saat aku sudah mengerti pelajaran itu dan teman-temanku selalu menanyakan hal-hal yang sama yang sangat sederhana dan tidak pernah mereka mengerti karena mereka lebih banyak bermain dibandingkan memperhatikan pelajaran itu di penjelasan pertama. Itu sangat membuang-buang waktu. Akhirnya aku selalu menduduki peringkat 1 di sekolahku dan sifat kompetisiku muncul. Aku tidak pernah ingin dikalahkan oleh orang lain. Sampai akhirnya aku menginjak bangku kelas 6 dan entah kenapa aku mulai merasa tertekan dengan semua hidupku. Aku merasa muak dengan semua kompetisi yang aku lewati, aku merasa semua ini bukan hal yang harusnya aku lewati. Aku tertekan dengan tuntutan orang tuaku dan orang-orang lain yang member label anak pintar untukku. Aku merasa ini semua memuakkan. Aku selalu merasa down saat melihat nilaiku bukanlah nilai yang tertinggi. Aku bisa menangis hanya karena aku ga bisa mengerjakan tugasku. Aku sangat stress saat itu, aku tertekan dengan tuntutan dari orangtuaku supaya aku selalu menjadi yang terbaik.

Saat melihat keadaanku yang seperti itu, orangtuaku membawaku ke psikiater. Tapi menurutku itu ga memberikan perubahan yang berarti. Sampai akhirnya aku terbangun di malam hari dan menangis diam-diam dan memutuskan untuk berhenti menjadi yang terbaik dan menjadi diriku sendiri tanpa memaksakan kemampuanku. Entah kenapa rasanya semua beban yang selama ini ada di kepalaku diangkat semua dan bersih tak bersisa. Semenjak itu nilai-nilaiku kembali membaik dan aku merasa bangga aku bisa mengatasi masalahku sendiri.

Aku mulai mengenal kata ikhlas, aku akhirnya mengerti kebahagiaan itu ga akan pernah datang saat kita mencarinya sekuat tenaga tapi saat kita berdiam diri, mengikhlaskan, dan mempercayai kemampuan diri kita maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.


Aku menikmati kehidupanku dan menikmati ke-aku-anku. Aku bangga menjadi diriku sendiri tanpa harus berusaha meniru orang lain. Aku sangat menikmati kelebihan dan kekuranganku. Aku ga pernah lagi berusaha berambisi dan akhirnya kecewa. Aku akan memikirkan banyak mimpi dan berusaha melakukan sebaik-baiknya untuk semuanya. Apapun hasilnya adalah semua kerja kerasku, aku bangga dan yakin bahwa semuanya adalah hasil terbaik yang telah diberikan oleh Tuhan. 


No comments:

Post a Comment