Sewaktu SMP, saat nilai ulangan
bahasa Inggrisku menurun drastis, seorang guru bahasa inggrisku menuliskan kata
“be yourself” tepat di bawah nilaiku disertai dengan sebuah smiley. Aku
menemukan kertas lama itu terselip di lemari buku milikku dan akhirnya ingatan
masa kecilku datang kembali ke otakku.
Masa kecilku dipenuhi dengan
sikap memberontakku. Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku dilahirkan dengan iq
yang cukup tinggi untuk anak seumurku. Aku mengalami proses perkembangan yang
terlalu cepat untuk anak seusiaku, aku ga pernah sadar tentang itu. Kupikir itu
adalah hal yang wajar sampai akhirnya aku menginjak bangku sekolah dasar. Aku
yang sudah bisa membaca akhirnya merasa sangat bosan dengan pelajaran di
sekolah dan selalu kabur dari dalam kelas untuk bermain-main di luar. Aku juga
selalu kabur untuk menyelinap masuk ke ruang kelas 3 atau 4 SD. Aku bertingkah
hiperaktif.
Hiperaktif memang identik dengan
autis. Aku yang selalu ingin tahu mencoba semua percobaan-percobaan yang aku
baca dari beberapa majalah anak-anak, aku mencoba semua hal heroik dari
superhero yang aku lihat di TV. Sudah ga terhitung berapa seringnya aku terluka
dan cedera karena tingkahku ini sampai akhirnya saat di sekolah, aku yang
merasa super duper bosan bermain main di bawah meja sampai akhirnya ujung
mataku membentur meja dan akibatnya saraf di dekat mataku terganggu sehingga
mataku selalu berkedip tanpa henti. Dimulai dari situlah semua perilaku anehku
ketahuan.
Dimulai dari aku pergi ke dokter
mata untuk mengecek saraf mataku sampai akhirnya aku pergi ke berbagai macam
dokter yang sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa alasannya. Hingga
berakhir semuanya di seorang psikiater. Psikiater itu menanyaiku macam-macam
dan memberikan banyak tes kepadaku. Kemudian ketahuanlah semua penyebab dari
sikap-sikapku selama ini yang berbeda dari anak-anak seumuranku. Aku terlahir
dengan iq yang cukup tinggi untuk anak seumuranku, seingatku 148 dan itu
tergolong jenius. Tapi hal ini memberikan efek lain yang cukup riskan untuk
usiaku saat itu. Aku yang terlalu ingin tahu dan hiperaktif sehingga aku selalu
menentang semua konsep-konsep yang diajarkan padaku. Psikiater tersebut juga
mengatakan jika hal ini diteruskan aku akan menjadi seorang anak yang autis.
Mendekati autis lebih tepatnya, aku akan
menjadi anak-anak yang berbeda dengan anak lainnya.
Aku masih sangat ingat,
guru-guruku menawarkan kepada orangtuaku agar aku loncat kelas hingga ke kelas
3 sd ataupun mengikuti program akselerasi. Ayahku menentang hal itu, ayahku
ingin aku menikmati masa kecilku seperti anak-anak lainnya. Menurutnya masa SD
adalah masa tumbuh dan berkembangku tanpa harus dipercepat dan harus dijalani
secara alami. Kemudian sejak itulah aku menjalani beberapa terapi yang aku sendiri
tidak ingat apa saja. Terapi itu bertujuan untuk mengurangi sifat hiperaktifku.
Namun menurutku sisa-sisa dari hiperaktifku masih tersisa. Selama di bangku SD
aku sangat suka menentang dan memberontak larangan orangtuaku. Aku selalu
berkelahi dan memukul anak laki-laki di sekolahku, aku Cuma ingin berbeda dari
anak-anak perempuan lainnya.
Aku merasa bosan. Aku bosan
dengan pelajaran di sekolah yang menurutku monoton dan terlalu diulang-ulang.
Aku benci saat aku sudah mengerti pelajaran itu dan teman-temanku selalu
menanyakan hal-hal yang sama yang sangat sederhana dan tidak pernah mereka
mengerti karena mereka lebih banyak bermain dibandingkan memperhatikan
pelajaran itu di penjelasan pertama. Itu sangat membuang-buang waktu. Akhirnya
aku selalu menduduki peringkat 1 di sekolahku dan sifat kompetisiku muncul. Aku
tidak pernah ingin dikalahkan oleh orang lain. Sampai akhirnya aku menginjak
bangku kelas 6 dan entah kenapa aku mulai merasa tertekan dengan semua hidupku.
Aku merasa muak dengan semua kompetisi yang aku lewati, aku merasa semua ini
bukan hal yang harusnya aku lewati. Aku tertekan dengan tuntutan orang tuaku
dan orang-orang lain yang member label anak pintar untukku. Aku merasa ini
semua memuakkan. Aku selalu merasa down saat melihat nilaiku bukanlah nilai
yang tertinggi. Aku bisa menangis hanya karena aku ga bisa mengerjakan tugasku.
Aku sangat stress saat itu, aku tertekan dengan tuntutan dari orangtuaku supaya
aku selalu menjadi yang terbaik.
Saat melihat keadaanku yang
seperti itu, orangtuaku membawaku ke psikiater. Tapi menurutku itu ga
memberikan perubahan yang berarti. Sampai akhirnya aku terbangun di malam hari
dan menangis diam-diam dan memutuskan untuk berhenti menjadi yang terbaik dan
menjadi diriku sendiri tanpa memaksakan kemampuanku. Entah kenapa rasanya semua
beban yang selama ini ada di kepalaku diangkat semua dan bersih tak bersisa.
Semenjak itu nilai-nilaiku kembali membaik dan aku merasa bangga aku bisa
mengatasi masalahku sendiri.
Aku mulai mengenal kata ikhlas,
aku akhirnya mengerti kebahagiaan itu ga akan pernah datang saat kita
mencarinya sekuat tenaga tapi saat kita berdiam diri, mengikhlaskan, dan
mempercayai kemampuan diri kita maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.
Aku menikmati kehidupanku dan
menikmati ke-aku-anku. Aku bangga menjadi diriku sendiri tanpa harus berusaha
meniru orang lain. Aku sangat menikmati kelebihan dan kekuranganku. Aku ga
pernah lagi berusaha berambisi dan akhirnya kecewa. Aku akan memikirkan banyak mimpi
dan berusaha melakukan sebaik-baiknya untuk semuanya. Apapun hasilnya adalah
semua kerja kerasku, aku bangga dan yakin bahwa semuanya adalah hasil terbaik
yang telah diberikan oleh Tuhan.



No comments:
Post a Comment