Sunday, February 4, 2018

Fighting for Whatever, Whoever, Everything, You Want

Ternyata tidak sesuai dengan janji yang sudah kujanjikan  di post sebelumnya, untuk sering pos di blog ini, aku malah sibuk dengan kehidupanku. Tapi, sekarang sepertinya aku butuh tempat untuk untuk menuangkan isi kepalaku yang sudah terlalu penuh dengan berbagai hal. Mari kita mulai untuk curhat dan bercerita lagi disini.

Sebelumnya aku mau cerita dulu mungkin, alasanku kenapa mengingkari janjiku. Jadi....., tidak begitu lama dari aku menulis pos terakhir, aku mendapat pengumuman bahwa aku diterima beasiswa S2 yang sudah lama aku incar. Hore.....

Aku mulai disibukkan dengan banyak kegiatan, bertemu dengan sangat banyak orang baru, mengenal orang baru, mendengarkan cerita mereka, mendapat pola pikir baru, merubah kehidupanku sedikit demi sedikit. 

Satu tahun ini, entah kenapa sangat banyak hal baru terjadi. Sangat banyak. Sebentar mari diulang. SANGAT BANYAK. Mungkin lain kali aku ceritakan satu-satu. Cuma aku ingin cerita, jadi salah satu hal baru yang aku dapat, akhirnya di bulan Oktober 2017, aku sampai di Jepang. IYA! Jepang. Ade Putri Aulia Wijharnasir. Alias Chiko. Membaca email berisi pengumuman bahwa aku diterima untuk program exchange  selama 6 bulan di Jepang. TERIAK. Ya pastilah. Kalau dunia bisa diajak berteriak, aku mau ajak dunia. Satu hal yang paling aku senang dengan kenyataan aku bisa ke Jepang, aku bisa foto seperti ini.




Jepang. Negara yang entah bagaimana ceritanya dari aku kecil selalu jadi negara impianku. Singkat cerita, aku sudah sampai di Jepang, dan sesuai ekspektasi. Orang Jepang susah berbicara bahasa Inggris. 
Hari pertama. Lucu.
Hari kedua. Orang Jepang lucu banget sih ngomongnya.
Hari ketiga. ......
Hari ketujuh. Tuhan. Terus ini ngomongnya gimana.
Akhir bulan pertama. Jepang keren banget. Baik banget semua orangnya.
Akhir bulan kedua. Aku pengen pempek, batagor, nasi penyet ayam, rawon, bakso, soto, tekwan. Aku ingin dia. Chiko mulai menyanyi lagu Doraemon. Aku ingin begini. Aku ingin begitu.


Satu hal yang akhirnya aku mengerti, selama berbulan-bulan tinggal di Jepang. Aku harus berjuang untuk apapun yang aku inginkan. Aku harus berjuang untuk bisa S2. Aku harus berjuang untuk bisa mewujudkan mimpiku ke Jepang. Aku harus berjuang untuk bisa mengerti orang Jepang ngomong apa. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan sahabat-sahabat yang jauh disana. Aku harus berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan keluargaku. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri saat aku ingin makan nasi penyet ayam. Aku harus berjuang untuk membuatnya sendiri, saat tengah malam ingin makan bubur ayam Bandung, di tengah mata super ngantuk, jam 2 malam, aku penggemar nomor satu Bubur Ayam Mang Dudung yang legendaris di Surabaya, harus mengaduk bubur lebih dari setengah jam, menggoreng pangsit, ayam, hati goreng, DEMI memenuhi keinginan absurd ku yang sering kumat tengah malam. Dan selama ini selalu selesai dengan bapak/mas Go Food tercinta. Terima kasih Bapak dan Mas Go Food. 

Ternyata untuk makan bubur tengah malam, perjuangannya besar.
Ternyata Tuhan bisa mengajarkan aku untuk lebih sabar dan berjuang hanya dari perkara semangkuk bubur, dan bahkan juga makaroni pedas (yang sumpah di kampus harganya cuma 500 rupiah dan sering aku buang kalau bosan huhuhu, tapi disini jatuh satu ke lantai pun aku makan lagi, karena untuk ngemil aja butuh usaha). Kuliah yang berat, language barrier, organisasi yang demanding, komunikasi yang susah, teman, sahabat, yang mulai bertingkah aneh dan menyebalkan, permasalahan keluarga yang menuntut diselesaikan, permasalahan teman yang menuntut untuk didengarkan, permasalahan diri sendiri yang menuntut untuk diselesaikan. Belum lagi perubahan musim yang membuat aku akhirnya sadar TERNYATA BENERAN ADA WINTER DEPRESSION ITU, homesick, orang-orang yang menuntut untuk diperjuangkan, orang-orang yang tidak menuntut untuk diperjuangkan tapi harus diperjuangkan, orang-orang yang enaknya diperjuangkan ga ya(?), orang-orang yang sedang dan akan dirindukan, orang-orang yang inginnya dirindukan, tapi ternyata tidak rindu (lho gimana?).

Hal-hal yang harus dipermasalahkan ternyata banyak juga. Manusia memang paling hebat kalau soal mencari masalah. Tapi bahkan masalah pun harus diperjuangkan. Perjuangkan untuk diselesaikan. Satu demi satu. 

Jadi untuk kalian disana, yang merasa sedang berjuang, untuk semua hal yang berada di depan, belakang, samping, ataupun jauh dari kalian sebenarnya. Simple things ain't worth to fight for. Semua terasa rumit, karena memang itu layak untuk kalian perjuangkan. Semua terasa menyakitkan, melelahkan, karena.......itu alasan kalian hidup kan? Karena orang hidup pasti akan merasa sakit. Orang hidup pasti akan merasa lelah. Tapi ingat, orang hidup juga merasakan bahagia kok. :) Setidaknya kalau kalian merasa hidup terlalu menuntut banyak usaha, yasudah, makan bubur aja yuk, setidaknya makannya tinggal diemut, tidak perlu usaha.

Maaf. Aku lupa. Masak bubur lebih butuh usaha daripada masak nasi. Oke. Berarti hidup memang untuk diusahakan. Perkara bubur pun butuh diusahakan. Aku jadi lapar. Jadi Tuhan, eh salah, Jadi Nadiem. Kapan Go Food mau diekspansi ke Jepang? Saya ternyata lebih butuh Bapak Go Food daripada pacar untuk saat ini.

"It is not simple. Because you know, simple things ain't worth to fight for. Life is simple, at the end. But, at least, I hope, tomorrow is not the end of my life. God, I will fight for it. I will sing Yubikiri Genma now."


No comments:

Post a Comment