Wednesday, July 11, 2018

Day 4

Manusia. Susah sekali menepati janjinya. bahkan ke dirinya sendiri. Beberapa bulan yang lalu untuk ke 125479426512659237462 juta kalinya aku berniat untuk konsisten menulis di blog ini, dipandu dengan 30 days writing challenge yang kudapatkan di salah satu akun twitter temanku. 

Post pertama tentang ini aku ceritakan disini . Tapi kehidupan yang mulai kembali menuntut banyak perhatian kembali menggagalkan wacana abadiku untuk rajin menulis di blog. Tapi marilah kita selesaikan 30 days writing challenge ini, meskipun nyatanya more than 30 days. Terserah. Yang penting selesai. 

Jadi tantangan untuk "hari keempat" kali ini adalah "Write about someone who inspires you."

Aku akan jawab, ayahku. Sebenarnya aku menggunakan kata Abah untuk memanggil beliau, tapi disini aku pakai kata ayah saja ya. Dari dulu aku sudah terbiasa membahasakan abah-ku dengan kata ayah ke teman-temanku. Kebiasaan saja.

Beliau lahir di tahuun 1965, tahun ini sudah berusia 53 tahun dan perjalanan hidupnya sangat berlika liku, terjal, naik turun, dan cap terlalu baik seakan selalu ditempelkan di jidat ayahku. Beliau lahir dari orang tua yang blasteran Belanda. Iya, aku memang ada darah Belanda. Sayangnya aku pendek dan sedikit sipit, jadi sering dikira keturunan Asia Timur, alih-alih Eropa. Yaaaah.

Ayahku sedari muda pergi merantau ke sana ke mari, bersekolah sambil bekerja, dan juga merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan.

Semakin aku tumbuh besar, aku sering mendapatkan cerita dari teman-temanku bahwa ayah mereka galak atau ayah mereka cuek ke teman-temannya, atau apapun lah itu. Aku tipe anak yang sering mengajak temanku bertemu dengan orang tua ku. Semakin aku dewasa, aku kuliah, dan teman-temanku mulai banyak berasal dari lingkungan yang berbeda. Aku kemudian bekerja. Di dua tempat yang berbeda jenis industrinya. Kakak ku pun bekerja di industri yang berbeda denganku. Begitu pula dengan sepupuku yang kuliah di bidang yang berbeda. Dan seterusnya. Intinya kami semua berasal dari background pendidikan, pergaulan yang sangat berbeda. 

Kemudian aku sadar, ayahku seperti tahu bahan obrolan untuk berbincang dengan siapa saja. Ayahku bisa membicarakan desain kapal denganku, dan mengerti penjelasanku dan tahu lebih banyak dari aku yang, katakanlah, insyinyur perkapalan. Tapi kemudian ayahku sangat mengerti bagaimana sistem perbankan bekerja. Dan kemudian saat sepupuku yang bersekolah di sekolah animasi menceritakan tentang semua proses pembuatan animasi, beliau pun tahu. Begitu pula saat kaka ipar ku datang dengan semua pengetahuan arsitekturnya, teman baik ku dengan detail ilmu desainnya, dan bahkan aku yang menceritakan segala macam tetek bengek drama sekolah magisterku dan segala macam seminar, jurnal, indeks jurnal, dan lain sebagainya, beliau pun tahu dan paham.

Beliau pun tiba-tiba mengajariku software-software editing film baru, mengajariku cara memasak donat yang enak, pizza yang enak, dan yang paling mengejutkan dulu saat askfm belum populer, beliau berhasil kepo dan menemukan akun askfm ku. Apalah itu cuma sekelas facebook, instagram, whatsapp. Kalau orang tua kebanyakan (seperti ibuku), meminta anaknya untuk mengajari menggunakan sosial media. Ayahku kebalikannya, aku pertama kali mengerti cara pakai video call dari beliau, beliau lebih dulu punya akun whatsapp dibandingkan aku. 

Karena satu dan lain hal, sebenarnya sudah hampir 1 dekade terakhir ini kondisi beliau untuk mengakses informasi itu sangat susah. Jauuuuh lebih susah dari aku yang bisa mengakses kapan saja. Tapi beliau masih sangat tahu banyak hal, mulai dari memasang jalur listrik sampai dengan cara menguleni adonan kue yang baik. Mulai dari manajemen keuangan sampai jenis DSLR dan bahkan berbagai macam jenis gerakan poco-poco. Sumpah aku saja ga bisa menari poco-poco. 

Sebagai informasi, ayahku seorang sarjana ekonomi, yang entah bagaimana aku tidak tahu bisa mengerjakan banyak hal dan tahu banyak hal. Pada akhirnya aku perhatikan bagaimana ayahku bergaul dengan orang sekitarnya. Dan ternyata terjawab.

Beliau selalu mendengarkan orang lain dengan baik, lebih tua, jauh lebih muda, bahkan yang lebih muda dari aku. Menurut beliau ilmu tidak ada yang sia-sia. Sekecil apapun informasi, itu ilmu. Beliau tidak pernah menyerah dengan rasa penasarannya yang tinggi, meskipun sudah berusia cukup tua. Menurutku ini juga yang jadi alasan kenapa beliau terlihat lebih muda dari umurnya. Karena beliau selalu berpikir dengan baik. (Sebenarnya ini katanya juga alasan kenapa orang Jepang berumur panjang, mereka senang berpikir dan beraktivitas).

Aku pun mulai menjadikan ayahku sebagai contoh orang yang tidak pernah berhenti belajar. Aku pun pelan-pelan memandang pria keren itu pria yang bisa seperti ayahku. Beliau pun menjadi benchmark ku mencari pasangan. Dan ternyata tidak hanya aku, kakak ku pun begitu. Entahlah, mungkin memang anak perempuan akan mencari sosok pria yang mirip ayahnya, atau bagaimana lah, tapi pria yang kami kagumi seringkali adalah pria yang bisa bercerita banyak hal baru pada kami, so called pintar (meski bukan berarti IP maha tinggi dan lain-lain, sesederhana, dia sepertinya berpengetahuan). 

Aku tidak tahu, apakah ini aku saja atau bagaimana, tapi pria yang berpengetahuan terlihat sangat menarik dengan segala macam ceritanya tentang hal yang dia sukai, dia pelajari, atau baru dia baca atau tonton dari suatu sumber.

Aku ingin nantinya anakku menjadi seperti aku. Dia bisa bilang ayahnya keren, ayahnya tahu banyak hal, dan sampai dewasa pun masih terkejut karena pengetahuan yang diajarkan ayahnya. 

Ya seperti aku, aku sudah mempersiapkan diri, jika suatu saat nanti ayahku tiba-tiba membahas mengenai dunia bisnis street wear atau lagu indie denganku.

Oh iya untuk kamu, pria yang mungkin nantinya akan menjadi pasanganku (ga tahu siapa, tulis saja dulu, siapa tahu malaikat sampaikan ke Tuhan), semoga nanti kamu begitu ya. Peace love and gaul.




1 comment: