Wednesday, July 11, 2018

#ThaiCaveRescue Part 1

Satu minggu timeline twitter dipenuhi #ThaiCaveRescue, cerita heroik abad ini menurutku. Mungkin sih, aku sendiri baru hidup 24 tahun, belum satu abad. Cuma ya setidaknya sepanjang aku hidup, ini cerita heroik penyelamatan yang paling aku suka. Dimulai dari kronologis ceritanya sampai dengan banyaknya pesan kemanusiaan yang bisa aku ambil dari cerita ini.

Sebenarnya mudah untuk mengikuti perkembangan ceritanya, tapi mungkin ada yang baru mengikuti ceritanya sepotong-sepotong tanpa tahu kronologis dari awalnya, atau tidak sempat mengikuti timeline twitter karena kesibukannya, atau juga mungkin sedikit malas membaca tumpukan berita berbahasa inggris yang seperti kebut-kebutan di timeline. Aku pikir, aku mau coba merangkum semua cerita yang kudapatkan dari berbagai sumber (kebanyakan Twitter) yang "sepertinya sahih". Yah, aku bukan reporter, tidak dituntut banyak menulis dengan baik, aku cuma mau menceritakan apa yang kutahu. Semoga saja membantu kamu untuk bisa memahami serunya cerita heroik ini ya.

12 Wild Boar dan Ekapol
Ini seperti cerita karangan, karangan Enid Blyton, mungkin kalian familiar dengan judul sejenis Lima Sekawan Terjebak di Gua. Tapi sekarang menjadi dua belas sekawan bersama pelatihnya, dan guanya juga bukan di Inggris (lima sekawan bener di Inggris kan ya?). Cerita petualangan ini dimulai tanggal 23 Juni, hari Sabtu, saat Pheeraphat, nama salah satu dari 13 sekawan ini, sedang berulang tahun. Sweet seventeen kalau bahasa kita. Malam itu dia berencana untuk merayakan ulang tahunnya bersama keluarganya, tapi dia memutuskan untuk merayakannya terlebih dahulu dengan teman-teman tim sepak bolanya di kampung, yang dikenal dengan sebutan tim Moo Pa (dalam bahasa Inggris artinya wild boar, babi hutan). Sepulang latihan sepak bola, Pheeraphat bersama kesebelas temannya, dan juga pelatih mereka, Ekapol Chantawong pergi bersama-sama ke gua yang terkenal di kampung mereka, namanya Tham Luang. Berlatih pernapasan dan mengeksplor gua adalah kegiatan yang sangat biasa di lakukan oleh anak-anak, remaja, dan juga orang dewasa di sana. Bukan hal yang istimewa. Aku membayangkan mungkin seperti kalau kita pergi ke mall begitu ya? B aja.

Tapi, ternyata sampai malam Pheeraphat juga tidak pulang, orang tuanya mulai panik, menelponnya tapi tidak ada yang angkat, menelpon pelatih utama tim sepak bola Pheeraphat juga nihil. Iya, jadi Ekapol itu sebenarnya asisten pelatih, yang kebetulan hari itu menggantikan pelatih utama, dia masih berumur 25 tahun. Akhirnya orang tua Pheeraphat sadar, tidak cuma anaknya yang hilang, tapi kedua belas "wild boar" itu hilang. Panik, pasti. Telpon sana, telpon sini, telpon polisi, pencarian dimulai, ribut sana, ribut sini, bahkan alam juga ikut ribut. Hujan tidak berhenti, badai terus berlangsung, karena memang saat itu sedang musim moonson. Musim dimana saat badai sering terjadi di area antara daerah tropis dan sub tropis (salah satunya Thailand).

Sampai tiba-tiba 24 Juni, ditemukan sepeda mereka dan sepatu bola di depan gua. Seperti film,  pencarian jejak kaki dan tangan dimulai, ternyata ada! Ada jejak kaki dan jejak tangan dari para wild boar ini. Terkejutlah semua orang, dan yakin kalau mereka terjebak di dalam, air mengalir deras ke dalam gua, banjir, dan berdasarkan pengalaman mereka, banjir seperti ini baru akan surut 4 bulan lagi. Iya, 4 bulan. Keributan ini yang awalnya hanya di satu perkampungan di utara Thailand, menyebar ke satu negara, saling hujat, saling menyalahkan, kepanikan, bercampur dengan segala macam pemikiran bagaimana cara mengeluarkan mereka. Apakah mereka masih hidup? Bagaimana caranya mereka bisa sampai masuk ke sana? Dan berbagai jenis pertanyaan bagaimana lainnya. 

25 Juni, tim penyelam Thailand dikerahkan untuk mencari mereka ke dalam gua. Hujan masih belum berhenti, air makin tinggi, visibility di gua 0. Gelap gulita, sempit, tapi tim pencari tetap berusaha menyelam. Pompa air dinyalakan untuk menyedot sejumlah air, 24 jam nonstop, ada sedikit rongga untuk penyelam, sedikiiiiiiiiiitt sekali. Tapi tiba-tiba alam kembali tidak berpihak, banjir datang, seakan menutup harapan. Keributan ini pelan-pelan mengambil alih kehebohan piala dunia, mulai menggeser berbagai headline news. Perdana menteri menyerah untuk menanganinya sendiri, bantuan internasional pun berusaha didatangkan pada 26 Juni.

Pompa dipasang di mulut gua untuk mengurangi ketinggian air di dalam


27 Juni, lebih dari 30 personel tentara US dan tiga penyelam ahli dari Inggris didatangkan. Para penyelam ini mengatakan, tingkat kesulitan menyalam di dalam gua ini GILA. Seperti menyelam di dalam kopi, tidak bisa lihat apa-apa. Drone juga digunakan untuk usaha mencari barangkali ada jalan masuk/keluar lain ke gua ini selain dari tempat itu. Beberapa penyelamat juga menempuh bahaya berusaha mencari jalan dari atas gua, melewati tebing, dibatasi jurang, untuk mencari kemungkinan siapa tahu, penyelamatan bisa dilakukan dengan melubangi gua dari atas. Sayang sekali, kecelakaan terjadi, kendaraan mereka tergelincir masuk ke Jurang. Untung mereka masih selamat. 

Penyelamatan dengan cara penyelaman juga masih dilakukan. Ratusan tabung oksigen di bawa ke mulut gua, penyelam masih berusaha untuk mencari mereka, jarak ratusan meter, bahkan sudah melebihi 1.5 km ditempuh, tapi nihil. Padahal sudah tanggal 1 Juli. Sudah 1 minggu lebih mereka terperangkap di dalam, harapan mereka masih hidup mulai pupus, tapi dukungan dari dunia menjadi energi mereka. Para penyelam ahli dari berbagai negara datang, Tiongkok, Australia, Inggris, Rusia, Amerika, dan masih banyak lagi. Bahkan Elon Musk! Sang Iron Man! Humanity wins. Semua berusaha, semua berdoa untuk keselamatan para wild boar ini. Bahkan Sisidea, seorang seniman, membuat suatu gambar yang menggambarkan bagaimana seluruh dunia berusaha membantu misi penyelamatan ini.

Source: Thai Navy Seal/Sisidea




2 Juli. Dua penyelam paling ahli di dunia kembali datang untuk menolong. Richard Stanton dan John Volanthen, mereka 40 dan 50 tahun, tapi masih sangat bugar. Akhirnya mereka berhasil!

Mereka ketemu! Hidup. Ditemukan oleh para penyelam dari UK hampir 4 km di dalam gua, sangat jauh, mereka sedang duduk di atas batuan yang lebih tinggi. Mereka bilang mereka lapar. Tapi mereka semua hidup! Ternyata salah satu dari mereka (kalau tidak salah sang pelatih) sempat membeli cemilan untuk dimakan bersama dan memberikan kejutan untuk si anak ulang tahun, Pheeraphat. Selama 9 hari, mereka berbagi makanan. Hanya snack! 9 hari! 13 orang! Sang pelatih dipuji satu dunia, dia bisa menyelamatkan 12 anak kecil ini tetap hidup dengan cara mengajari mereka tetap tenang, sabar, dengan cara bermeditasi. Mereka minum dari rembesan air di gua. Mereka tetap tenang, berdoa, dan berharap untuk dapat ditemukan, tanpa tahu sudah berapa lama mereka di dalam. Semua orang memuji bagaimana bisa seorang pemuda 25 tahun, dengan segala macam tekanan, dan rasa bersalah, tetap bisa tenang dan membuat 12 anak kecil tetap tenang dan tidak berebut makanan selama lebih dari seminggu. Oh iya, di antara mereka tidak ada yang bisa bahasa Inggris, kecuali ada satu anak, aku lupa namanya, umurnya masih 14 tahun, dia bisa 4 bahasa. Dia yang memastikan kepada tim penyelam kalau mereka semua hidup, tapi mereka lapar, sangat lapar. Dia juga yang menjelaskan kepada 12 orang lainnya kalau mereka harus bersabar, tim penyelam akan segera kembali dengan makanan dan obat-obatan. Secercah harapan.


Mereka ditemukan!



4 Juli, tim medis berhasil masuk, dikejutkan dengan kenyataan bahwa ketiga belasnya dalam keadaan sehat, hanya luka lecet, bukan seperti orang yang sudah 9-10 hari berpuasa dan tidak terkena cahaya sama sekali. Ekapol hebat, dunia kembali memuji kehebatannya dan memberikan dukungan sebesar-besarnya agar dia tidak menyalahkan dirinya atas peristiwa ini. Ekapol menuliskan kalimat permohonan maaf kepada seluruh orang tua anak-anak itu, sedangkan anak-anak itu menuliskan ingin makan makanan kesukaan mereka kepada orang tua masing-masing. Sedangkan orang tua mereka? Memastikan bahwa Ekapol tahu kalau tidak ada satupun dari mereka yang menyalahkannya dan berterima kasih karena Ekapol telah menjaga anak mereka, memastikannya hidup, seluruh orang tua ini sangat bersyukur Ekapol ada di antara anak-anak mereka. 

5 Juli, mereka sudah dilengkapi dengan makanan, obat-obatan dan selimut foil untuk meningkatkan stamina mereka. Thai Navy Seal beserta satu tim medis, Richard Harris, yang juga merupakan penyelam handal, secara sukarela menunggu bersama mereka di dalam. Misi penyelamatan dimulai. Dunia ribut, mereka bilang ini mission impossible, seluruh orang berusaha memberikan bantuannya, Elon Musk merancang mini submarine yang selesai hanya dalam hitungan hari, scientist datang dengan berbagai solusinya, para pemilik pompa air berbondong-bondong membantu untuk memompa air keluar, para petani merelakan sawah mereka gagal panen karena dibanjiri air yang harus dikeluarkan dari gua, para pencari sarang burung walet yang sudah biasa keluar masuk gua dibelikan tiket pesawat oleh orang desa mereka, di pelosok selatan Thailand, dengan satu tujuan, mereka ingin membantu misi penyelamatan yang mustahil ini, para warga sekitar berbondong-bondong memasak dan memberikan bahan makanan yang mereka punya untuk memberi makan tim penyelamat, bahkan tukang es krim dari tempat yang sangat jauh mengayuh sepeda karena ingin membantu memberikan dagangannya dan memberikan dukungan sebisanya. Para pencuci baju berdatangan untuk membantu mencuci baju tim penyelamat, orang-orang menyediakan tumpangan gratis kapanpun dari bandara ke gua yang berada sangat jauh itu untuk para relawan yang berdatangan dari seluruh dunia, para pemijat datang untuk membantu para tim penyelamat agar cepat pulih setelah berjam-jam melakukan penyelaman, para anak kecil berdoa setiap hari di sekolah mereka untuk kesuksesan misi mustahil ini, para seniman memberikan semangat dengan memberikan gambar-gambar penyemangat kepada seluruh tim, seluruh orang di dunia berdoa untuk keajaiban yang mereka harapkan ada. Bahkan FIFA pun tergerak untuk memberikan semangat kepada tim penyelamat, kepada Ekapol, dan anak-anak itu untuk berjuang sampai akhir. FIFA memberikan surat kepada pemerintah Thailand, meminta izin untuk mengundang anak-anak ini dan Ekapol ke final World Cup 2018, jika mereka keluar dan bisa pulih sebelum hari final dilangsungkan. Seluruh dunia bersorak dan tidak sabar menunggu final World Cup dengan hadirnya ketiga belas wild boar ini disana.

6 Juli, berita duka datang, Saman Kunan meninggal. Seorang tim penyelam ahli dari Thai Navy Seal, seorang pensiunan yang memutuskan kembali mengabdikan kemampuannya untuk menolong sekelompok wild boar ini. Dunia bersedih, kenyataan bahwa ini misi mustahil berebut dengan harapan dari orang-orang di seluruh dunia. Baru kali ini, dunia berdoa untuk satu tim sepak bola yang sama. Saman Kunan menjadi pahlawan bagi semua orang, dia meninggal kehabisan oksigen, saat dia mengantarkan tabung oksigen untuk anak-anak ini di dalam gua. Ironi. Tim semakin sadar, kondisi di dalam gua semakin memburuk.

Saman Kunan


7 Juli, tim penyelamat mengetahui fakta bahwa kondisi cuaca semakin buruk, waktu yang tersisa hanya 4-5 hari untuk misi penyelamatan ini. Setelah itu, badai akan datang, ketinggian air akan kembali naik dan kemungkinan sangat besar, seluruh orang di dalam akan tenggalam. Kondisi udara di dalam gua buruk, oksigen dihembuskan ke dalam gua untuk membantu mereka tetap bertahan hidup. Masih mengandalkan metode pernapasan yang diajarkan Ekapol, agar mereka lebih tenang, dan jumlah oksigen yang dikonsumsi lebih hemat. Semua orang berusaha percaya, berusaha berharap akan keajaiban.

8 Juli, keajaiban ada! 4 orang anak berhasil diselamatkan setelah melewati proses penyelamatan yang sangat susah. Richard, memastikan kondisi kesehatan anak-anak yang akan diselamatkan, setiap anak didampingi oleh 2 orang penyelam. Satu orang penyelam membawa tabung oksigen untuk anak ini, satu orang dibelakangnya. Tim penyelam berharap yang terbaik, mereka tahu untuk orang dewasa pun cave diving  adalah hal yang sangat susah, apalagi untuk mereka, anak kecil, yang bahkan tidak bisa berenang! Tapi harapan berbuah keajaiban. Penyelaman ke kedalaman 4 km dilakukan selama lebih dari 6 jam, keempat orang anak dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan pertama. Pemerintah memutuskan tidak mengumumkan nama anak yang diselamatkan, dan orang tua mereka pun menyetujui. Atas nama solidaritas. Kedelapan anak lainnya dan Ekapol harus sabar menunggu di dalam selama satu malam. Setidaknya butuh 10 jam untuk mempersiapkan misi penyelamatan tahap dua. Tabung oksigen perlu diisi. Tim penyelamat harus diistirahatkan. Orang di seluruh dunia mengikuti berita ini dan tidak sabar menunggu kelanjutan cerita heroik ini, sambil berdoa untuk keajaiban kedua dan seterusnya.

9 Juli. Keempat anak lainnya sukses dikeluarkan lagi! Lebih cepat dari hari kemarin.Total 8 anak berada di rumah sakit, dan ajaib, mereka sehat. Hanya sangat kelaparan. Dunia sangat senang, dan berdoa untuk 4 orang anak lainnya serta Ekapol. 17 hari di dalam gua, dan kedelapan anak ini dikabarkan sehat dan penuh tawa. Kekhawatiran akan beban mental yang sangat berat diruntuhkan oleh ketangguhan mereka. Seluruh dunia mengidolakan mereka sebagai tim terbaik saat ini di dunia. Tapi badai datang lebih cepat malam itu, seluruh tim mulai khawatir dan berharap 5 orang terakhir beserta ketiga Thai Navy Seal dan juga Richard berhasil keluar dengan selamat.

10 Juli. Ribuan orang di dunia me-reload timeline twitternya setiap berapa menit, berharap kabar baik segera datang. Berdoa dengan caranya dan berharap agar mission impossible  ini berubah menjadi possible. Membuktikan keajaiban itu ada. 10 Juli, sore waktu Thailand, hampir malam, sudah hampir gelap, kelima orang terakhir keluar dan diberangkatkan naik helikopter ke rumah sakit! Dunia bersorak, karikatur muncul disana sini, hashtag baru dimunculkan yaitu #hooyah , teriakan yang diserukan tim penyelamat. Dunia berdoa dan menunggu keempat tim penyelamat terakhir keluar dengan selamat. Malam tiba. Keempat pahlawan itu keluar dengan kacamata hitam, bukan supaya keren, supaya mata mereka terlindung, karena sudah berhari-hari mereka berada di dalam kegelapan. Masyarakat mengantri di sepanjang jalan, bertepuk tangan kepada mereka dan mengucapak terima kasih berkali-kali. Seluruh dunia bersorak, menangis, dan membagikan kebahagiaan mereka di berbagai media sosial. Aku juga salah satunya. Dunia juga kembali mengenang Saman Kunan, tanpanya, misi ini mungkin tidak berakhir begini. Semoga Anda senang disana, perjuangan Anda tidak sia-sia Pak :)



11 Juli. Konferensi pers digelar, dengan orang yang sangaaaaat banyak. Semua orang ingin mengetahui kondisi terbaru para wildboar ini. Seperti yang disebut banyak orang, tim ini adalah tim yang sangat kuat, mereka memberikan tanda peace dan tertawa kepada kamera. Semua orang senang dan tidak sabar menunggu 1 minggu kedepan, menunggu kabar, masa karantina mereka di rumah sakit selesai. Tim penyelam pun memuji mental mereka yang sangat luar biasa. Di tengah proses penyelamatan, mereka "diikat" di semacam tandu dan diberikan oksigen menggunakan full face mask. Menurut tim penyelam, scuba diving ini sangat berbahaya, terlebih kalau mereka panik, salah-salah tim penyelamat juga akan celaka dan meninggal. Tapi mereka tidak panik, mereka malah memilih untuk tidur atau memainkan jarinya selama proses penyelamatan ini. Hebat. Kembali dunia berterima kasih kepada Ekapol yang bisa menjaga mental kedua belas anak ini dengan baik. FYI, Ekapol seorang yatim piatu yang sedari kecil mengabdikan dirinya menjadi biksu, namun keluar dari sekolah biksu karena mengabdi dan merawat nenek kandungnya. Kemudian juga mengabdikan dirinya untuk melatih anak-anak kecil dari keluarga yang tidak mampu untuk bermain sepak bola. Sosok yang hebat.

Sayang di hari ini juga, ada kabar duka, ayah dari Richard (dokter yang keluar bersama dengan 3 Thai Navy Seal di akhir penyelamatan) meninggal dunia. Sedih, dunia kembali berdoa untuk keluarganya. Semoga ditabahkan.

Mereka sehat!



Ini cerita petualangan yang sangat heroik. Melibatkan dunia dan seluruh kepercayaan dunia akan rasa kemanusiaan. Dimana-mana bertebaran kalimat, "Humanity wins", "Faith in humanity restored", dan sejenisnya. Aku sendiri juga merasa begitu. Cerita heroik ini sayang sekali untuk dilewatkan. Kali ini aku baru cerita tentang kronologinya, lain waktu aku akan cerita tentang orang-orang yang terlibat di baliknya. Keren. Sangat keren. Aku jadi semakin percaya, manusia itu memang pada hakikatnya menjadi orang baik. Semoga aku bisa jadi orang baik, dan selalu jadi orang baik.






6 comments:

  1. Our faith for humanity has been restored. . .
    Mantap bgt post ini chik. Kyak discovery channel gtu.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Haii...terima kasih sudah disempatkan membaca. :D

      Delete
  3. Replies
    1. Halo Cak Abu :) Terima kasiih sudah disempatkan membaca

      Delete