Monday, August 27, 2012

Since I Met You :)


Isi blog yang sedikit berbeda kali ini. Sedikit cerita, curhat, atau apapun lah sebutannya. Just for sharing, so he can read it and smile secretly. 



Dimulai dari kenekatanku, keisenganku, dan ke sksd an ku untuk memanggil kenalan baruku. Fahmi. Teman baruku di kampus ini. Memang ga ada maksud apa-apa, aku cuma iseng manggil karena aku kehilangan temanku.

Ini cerita dari 1 tahun yang lalu. Aku Chiko, 1 tahun yang lalu aku masih menjadi mahasiswa baru di Siskal, ITS. Aku berusaha beradaptasi dengan banyak teman baru dari berbagai daerah, aku kembali memasang pokerfaceku. Aku selalu tertawa, tersenyum, bertingkah seperti anak-anak. Meskipun untuk poin terakhir itu adalah pembawaan alami ku. Aku melakukan hal itu supaya orang akan mengingatku dengan image yang baik.

SCC. Gedung di ITS yang menjadi tempat diadakannya UKM expo. Ini adalah pertunjukan dan pameran-pameran yang diadakan oleh UKM UKM di ITS. Dimulai dari melihat buku panduan mahasiswa baru, aku melihat UKM Kendo. Aku pun memutuskan pergi ke UKM expo dengan teman-teman baruku. Aku ga tau, kenapa aku ga bisa berbaur dengan cewe-cewe di jurusanku. Aku merasa, aku beda. Aku Cuma bisa berbasa basi dengan mereka bahkan untuk mengajak mereka ke UKM expo pun aku enggan, aku juga merasa aku sedikit tersisih dari mereka. Kemudian aku akhirnya pergi dengan segerombolan anak laki-laki, teman se kampusku.

Aku ga tau, entah mungkin aku terlalu kecil, atau aku ga kasat mata sampai teman-temanku meninggalkanku. Sendirian. Di tengah kerumunan banyak orang, aku sudah merasa seperti anak hilang. Anak hilang yang kesenangan lebih tepatnya. Aku terlalu senang melihat banyak stand UKM yang aku minati, aku mengambil banyak formulir dan dengan kalap mengunjungi semuanya seorang diri. Memang ini yang aku inginkan sebenarnya. Aku lebih suka menikmati momen seperti ini sendirian. Bebas kemana saja tanpa harus berusaha menyamakan minat. Mungkin ini alasanku jarang mengatakan iya setiap diajak oleh teman-teman ceweku untung shopping. Ya. Seleraku berbeda. Aku masih ga mengerti bagaimana sebuah bando pita besar yang seakan-akan menutupi seluruh kepalamu bisa dikatakan lucu. Menurutku lucu itu adalah boneka hewan di Gramedia ataupun topi berbentuk kepala hewan. Bisa juga sebuah T shirt bergambar muka spongebob besar di bagian depan. Berbeda. Mungkin aku terbiasa untuk menjadi berbeda bahkan aku rela memotong pendek rambut sepinggangku menjadi seleher hanya supaya terlihat beda dari anak-anak seumurku.

Di depan stand kendo.Tiba-tiba aku melihat teman sekampusku. Aku sangat familiar dengan mukanya, Chinese dan menyeramkan. Yah terdengar rasis tapi memang dia terlihat menyeramkan. Dia sedang berdua dengan temannya yang aku tau pasti, dia juga anak siskal. Yah aku bukan peramal, aku Cuma tau karena dia memakai baju dengan warna merah marun sama sepertiku dan anak-anak siskal lainnya. Aku bertaruh apa aku berani untuk memanggil mereka, mungkin se enggak nya untuk berkenalan dengan teman Fahmi itu. Aku coba memanggil nama Fahmi sambil melambai-lambaikan tangan. Aku yakin saat itu aku terlihat seperti anak hilang tapi siapa yang peduli toh mungkin mereka akan melupakan namaku seperti anak-anak lainnya dan akan kembali menanyakan namaku keesokan harinya. Mereka tertawa, tertawa setelah celingukan sebelumnya mencari asal suara. Sial. Apa aku memang sependek itu untuk ukuran mereka.

Kami berkenalan dan berbasa basi dengan teks yang memang sudah kuhafal di luar kepala. Saking seringnya aku mengucapkan kalimat itu untuk mengawali perkenalan sejak aku masuk kampus ini. Dan ternyata, surprise…, teman si fahmi itu ternyata juga mau masuk UKM Kendo. Hafidh. Aku berkali-kali salah mendengar namanya menjadi David. Entah telingaku bermasalah atau aku lagi ga konsen, entahlah ga konsen kenapa.

Tinggi, besar, taringnya gingsul, berwajah Arab. Itu yang kuingat pertama kali dari hafidh. Kontras sekali dengan Fahmi yang berwajah oriental. Satu hal yang aku pikirkan begitu melihatnya. Iri. Ya iri, kenapa Tuhan memberikan tinggi begitu banyak ke satu orang sementara satu orang lainnya kekurangan tinggi. Aku yakin dia akan terlihat keren memegang pedang bamboo di kendo yang entah apalah itu namanya. Ga akan seperti aku yang terlihat seperti anak SD yang membawa pedang mainan untuk main perang-perangan. Iri dan heran. Aku  heran kenapa aku mau saja menjelaskan tentang apa saja kegiatan di UKM Kendo yang sudah aku dengar di hari sebelumnya, sewaktu aku datang ke stand ini di hari pertama. Aku heran kenapa aku mau saja susah payah mendongakkan kepala untuk berbicara dan melihat matanya. Aku memang terbiasa berbicara dengan melihat mata lawan bicaraku dan itu akan terasa sangat melelahkan saat lawan bicaraku adalah orang dengan selisih tinggi yang cukup jauh dengan aku. Rasanya aku ingin naik ke meja stand dan duduk di atasnya supaya mata kami sejajar dan aku ga perlu susah payah mendongakkan kepala lama-lama untuk menjelaskannya.

Aku berniat pergi dan membawa formulirnya untuk aku dan teman-temanku yang menitip formulir juga. Ternyata formulirnya habis, satu formulir terakhir tersisa dan berdiam diri di meja menunggu untuk kubawa pulang atau kubiarkan Hafidh membawa pulang. Aku ambil formulir itu, aku yakin dia akan mengalah kepada anak kecil. Aku ga tau kenapa, cara dia melihatku seperti dia melihat anak kecil. Memang aku yakin umurku lebih muda darinya, tapi aku ga sekecil itu. Positive thinking, mungkin aku mirip adik perempuannya dan dia kangen dengan adik perempuannya begitu melihatku yang baby face lucu imut nan menggemaskan ini.

Oke mungkin terdengar seperti cerita komik, novel, atau sebangsanya. Saling berebut buku, baju, dan apalah yang sebangsanya dan kemudian bertukar nomor hape. Tapi memang seperti itu yang kualami, mungkin minus bagian berebut. Kami ga berebut kertas formulir, tapi aku merebutnya secara tersirat. Namun kemudian aku merasa bersalah. Habisnya dia diam saja melihat aku mengambilnya, seenggaknya protes atau komentar yang nantinya pasti akan aku bantah habis-habisan. Tapi karena dia diam saja, aku jadi salah tingkah. Aku berjanji akan memfotokopikan kertas itu dan memberikannya besok di kampus. Lihat, aku baik sekali kan. Aku baru kenal dia dan aku mau saja membuang tinta printerku untuk dia. Aku memang bukan orang pelit  tapi untuk masalah tinta printer, aku memang sedikit berhemat dan berpikir dua kali. Ekonomis, mungkin itu lebih menggambarkan.

Aku punya kebiasaan jelek, aku sering bengong saat orang lain mengajak aku bicara. Saat itu aku kembali bengong, aku bengong melihat anggota teater menggunakan kostum hitam-hitam, tertawa seperti orang gila, dan riasan mukanya seperti badut lengkap dengan hidung merahnya. Mampus. Aku takut badut, aku sudah sok-sok berani daritadi ngobrol di depan stand kendo yang tepat ada di sebelah stand teater, aku tetap berusaha stay cool meskipun aku mendengar suara-suara ketawa mirip setan itu. Aku ga begitu suka teater, aku ga bisa menangkap makna yang ingin mereka sampaikan dengan gerakan-gerakan yang menurutku terlihat seperti orang yang kerasukan. Dan mengapa kedua orang di depanku ini ga ada yang peka untuk cepat pergi dari sini, mungkin karena di sekeliling kami banyak cewe-cewe teater yang cantik. Ah, lelaki.

Dan saat aku bengong tiba-tiba saja dia menodongkan hapenya seperti menodongkan pisau di depan mukaku, menyuruhku untuk memasukkan nomor handphone ku ke phonebook dia. Hal pertama yang aku pikir, handphonenya bagus, keren, ini handphone yang inginkan sejak lama. Sial, aku jadi kepikir untuk mengambilnya, memasukkannya ke dalam saku celana, dan lari kabur meninggalkan mereka. Saat tiba-tiba aku ingat apa yang dia bilang, dia menyuruhku untuk memasukkan nomorku?! Bukan, bukan masalah dia terlihat sok kenal padaku, tapi masalahnya adalah aku gaptek dan ga bisa pakai handphone touchscreen. Handphone dia full touchscreen. Entahlah dia sadar atau ga perubahan mukaku. Mungkin dia pikir aku merasa ilfeel padanya atau entahlah apa yang dipikirkannya. Aku ambil handphonenya dan mencoba untuk memasukkan nomor handphoneku ke phonebooknya. Sial, susah sekali. Berulang kali aku salah pencet dan untuk memasukkan 1 angka aku harus mengulang sebanyak 3-5 kali. Aku gengsi, gengsi untuk menunjukkan kalau aku ga bisa pakai touchscreen. Aku kembalikan handphonenya ke dia dan kusuruh dia yang memasukkan nomorku sendiri dengan alasan dia yang perlu. Aku menyebutkan nomor handphoneku dengan cepat untuk menutupi rasa Maluku dan mencegahnya berpikir bahwa alasanku tadi mengada-ada. Akhirnya, kami sukses bertukar nomor handphone.

Aku lupa kalau aku pergi kesini nebeng dengan teman-temanku dan sekarang sepertinya aku ditinggalkan oleh mereka. Aku celingukan dengan canggung ke segala arah untuk melihat apakah mereka masih ada di gedung itu. Sayang sekali postur badanku menghalangiku untuk melihat ke semuanya, di institut ini terlalu banyak cowo yang berarti terlalu banyak orang yang lebih tinggi dari aku. Kami bertiga terdiam di tengah-tengah kerumunan orang, diam, canggung, kehabisan bahan pembicaraan. Kemudian ga tau siapa yang memulai kami sudah duduk di bangku yang ada di dekat panggung yang saat itu dijadikan panggung untuk penampilan UKM Band. Aku putus asa, aku ga tau bagaimana caranya aku pulang nanti. Aku mencoba iseng bertanya ke mereka, mereka pergi kesini dengan siapa dan naik apa. Jawaban yang aku dapat mengecewakan, ternyata mereka naik motor dan berboncengan berdua. Jelas sangat tidak mungkin aku ikut mereka, kecuali aku diletakkan di depan dan jelas aku sangat menolak hal itu. Semoga mereka ga menangkap kalau sebenarnya aku tadi ingin nebeng mereka untuk pulang.

Hening. Mati gaya, kami semua mati gaya dan habis bahan pembicaraan. Aku benci situasi seperti ini. Aku memang bawel dan cerewet, aku selalu menemukan bahan pembicaraan. Dimulai dari aku bertanya alasan Hafidh untuk ikut Kendo sampai akhirnya kami bertukar cerita tentang komik. Fahmi terlupakan, ya bukan salah kami menurutku. Dia terlalu asik dengan blackberrynya. Sedikit pembelaan diri memang, tapi itu kenyataan. Sampai akhirnya aku ga begitu ingat bagaimana pembicaraan kami berakhir dan aku pulang duluan saat melihat teman-temanku ternyata masih ada. Hari itu aku memang kesal dengan teman-temanku yang melupakanku tapi aku senang dengan tambahan teman baruku. Kupikir dia pasti akan menjadi teman menyenangkan untuk berbagi cerita tentang  hobi kami. Dia juga ga mengejek pilihanku untuk masuk kendo dan dia juga ga mengungkit sedikitpun tentang umurku. Aku benci saat banyak orang lain mempermasalahkan umurku yang lebih muda dari mereka dan mempermasalahkan penyebabnya sampai akhirnya entah dari siapa mereka tau aku adalah anak akselerasi. Aku benci orang lain melihatku dari image itu. Aku adalah Chiko. Aku ingin dikenal sebagai diriku bukan sebagai chiko anak akselerasi lagi.

Aku senang mendapatkan teman sependapat dan sehobi, dan jujur aku suka dengan badan tingginya.

Tuhan memang Maha penyusun rencana. Kita ga akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Kita hanya cukup menjalani dan menikmati semua kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan. Aku suka konsep berpikir seperti ini, ga ambisius, ikhlas, dan hidup dengan senyuman.

Aku ga pernah menyangka bahwa ini semua hanya dimulai dari sebuah sapaan. Namaku Chiko dan namanya Hafidh. Dari sore itulah cerita kami dimulai. J


2 comments:

  1. mudah-mudahan aku juga bisa kya itu..
    nice one...

    ReplyDelete
  2. Thank You, I hope you can enjoy your life :D

    ReplyDelete