Sunday, February 4, 2018

Being An Adult

Ade Putri Aulia Wijharnasir. Ade. Putri. Atau seringnya dipanggil Chiko. Lahir 28 April 1994. Yang entah kenapa dari kelas 3 SD sampai sekarang 90% fotonya bergaya Peace. Sebenarnya yang membingungkan buatku, kenapa orang-orang marah ya setiap aku bergaya Peace lagi. Sama marahnya seperti saat mereka membuka pintu kamarku, dan melihat hampir semua barangku berwarna biru. 





Sekarang tahun 2018. Berarti tahun ini aku akan berumur 24 tahun. 24 tahun. Usia yang waktu aku SMP, kupikir siapapun di usia ini adalah om dan tante-tante. Usia yang kupikir, pasti aku sudah menikah di umur segini. Tapi kenyataannya? Mari kita beranjak dari kasur, dan melihat cermin. Chiko. Masih 153.5 cm. Single. Dan (bahagia?). Dan setiap bulan juga masih menerima undangan pernikahan dari teman SMP, SMA, Kuliah, dan juga masih saja tidak bisa datang di hampir semua undangan pernikahan itu. Maaf ya.

Aku tidak tahu, kalian pernah tidak ya, berpikir seperti aku. Mulai merasa insecure dengan kenyataan bahwa semakin banyak temanmu yang menikah berarti kenyataan kamu adalah orang dewasa, no more teenager, tidak bisa dielakkan lagi. Aku selalu takut untuk menjadi orang dewasa, aku selalu ingin menjadi Peterpan, yang terjebak di Neverland (benar kan ya namanya Neverland?).

Terkadang aku suka sekali mengingat apa saja yang sudah kulakukan sejauh ini sampai umurku hampir 24 tahun ini. Apakah aku sudah cukup dewasa ya? Apakah aku sudah cukup menjadi Chiko yang baik untuk orang lain ya? Apakah dengan makin tua aku harus mengurangi waktuku untuk nonton anime ? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku langsung berlari ke ayunan setiap ke taman? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku terjatuh tanpa kusengaja? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku tertawa keras-keras di tempat umum? Apakah aku harus mengurangi kebiasaanku untuk baca komik? Apakah dengan lebih dewasa aku berarti harus mulai minum kopi dan mengenal jenis-jenis kopi seperti teman-temanku? Apakah aku berarti aku harus mulai mencari pasangan? Apakah aku harus......, duh kok banyak "harus" ya? Yasudahlah.

Setiap tahun, setiap ulang tahun, aku banyak berpikir, kok sepertinya aku tidak ada perubahan ya? Kok sepertinya aku begini saja ya. Aku kok tetap childish ya? Aku kok tetap berisik ya? Aku tetap heboh. Aku tetap tidak bisa seanggun cewe lainnya. Aku kok masih belum terpikir untuk menikah ya.

Tapi, setelah satu tahun ini, banyak sekali kejadian yang terjadi di hidupku, banyak orang baru yang datang dan pergi. Banyak waktu yang kugunakan untuk merenung (cie chiko). Aku pelan-pelan belajar, ternyata selama ini bukannya aku tidak dewasa. Aku hanya takut keluar dari zona nyamanku. Selama ini aku terlalu nyaman dengan kenyataan bahwa orang terdekatku selalu berusaha mengerti aku. Aku nyaman dengan kenyataan bahwa semua impianku tidak tercapai karena kondisi yang ada (padahal sih karena aku emang kurang berjuang aja sepertinya). Aku juga belajar untuk mencoba banyak hal, yang lama kelamaan, aku pun tahu, kok jadinya aku seperti ikut-ikutan mereka ya? Hahaha.

Aku mulai memikirkan banyak hal. Ternyata menjadi dewasa bukan berarti aku harus menghilangkan kebiasaanku nonton anime, bukan berarti aku tidak boleh fangirling-an lagi ke Hey!Say!JUMP, bukan berarti aku tidak boleh membaca komik lagi, bukan berarti aku tidak boleh mendadak keluar saat hari hujan cuma karena aku suka bau hujan, bukan berarti aku tidak boleh lagi main ayunan, bukan berarti aku tidak boleh loncat lagi ke genangan air, bukan berarti aku tidak boleh lagi pakai tas Singa kesayangan aku, bukan berarti aku harus memanjangkan rambut, bukan berarti aku tidak boleh berponi rata lagi, bukan berarti aku harus pakai dress, bukan berarti aku harus mulai ber-make up, dan harus harus lainnya.

Menjadi dewasa menurutku saat ini (iya, saat ini, siapa tahu besok aku berubah pikiran) adalah bagaimana cara aku dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, bagaimana cara aku memutuskan untuk bertanggung jawab dalam setiap keputusan di dalam hidupku, bagaimana cara aku menjalin hubungan dan komunikasi baik dengan orang lain ataupun isi otak ku sendiri, dan juga bagaimana cara aku conquering diriku sendiri. Iya conquering. Menurutku, hal paling susah dari menjadi dewasa adalah memahami diri kita sendiri. Diri kita sendiri adalah bagian dari misteri di dunia ini, pernah tidak kalian bercakap-cakap dengan "seseorang" di dalam otak kalian sendiri?
Oh tidak pernah? Oke, berarti hanya aku, mungkin, sih. Jadi, intinya, dengan percakapanku dengan "seseorang" di dalam otak ku, aku jadi lebih bisa memahami diriku sendiri. 

Pelan-pelan aku mulai bisa berdamai dengan kenyataan bahwa umur aku semakin bertambah, aku harus bisa menjadi Chiko yang lebih baik, menjadi Chiko yang lebih bermanfaat untuk orang lain, menjadi Chiko yang nantinya bisa menjadi pasangan yang baik, anak yang baik, sahabat yang baik, ibu yang baik, apapun lah, intinya menjadi entitas masyarakat yang baik.

Aku sudah pernah cerita tentang tujuan hidupku tidak ya? Sepertinya sudah. Aku selalu bilang aku ingin bahagia. Aku selalu berpikir menjadi bahagia adalah dengan menolong dan membahagiakan orang lain. Menurutku dengan menjadi baik ke orang lain itu akan membuat kita lebih bahagia.

Oh tapi aku lupa satu hal. Aku salah dengan mengatakan orang lain. Seharusnya, aku harus berbuat baik dan berusaha membuat semua orang bahagia. Iya, semua orang, termasuk diriku sendiri. 



"Jadi, jangan lupa bahagia di tengah prosesmu untuk menjadi dewasa, ya. Karena, kalau kamu sendiri bisa membahagiakan dirimu sendiri, setidaknya orang lain akan bahagia, hanya dengan keberadaanmu. Karena keberadaanmu sendiri sudah suatu kebaikan darimu untuk mereka. :)"

No comments:

Post a Comment