Thursday, February 8, 2018

[KAYAKNYA SPOILER] Cek Toko Sebelah



SUKA! Aku suka banget film ini. 

Jadi sebenarnya aku banyak  sedikit suudzon dengan film Indonesia. Dulunya. Tapi entah kenapa, beberapa tahun terakhir, entah dimulai dari siapa, film Indonesia mulai bagus-bagus lagi menurutku. Sepertinya mulai dari 5 cm (?), eh apa bukan ya. Tapi yang jelas, aku sebenarnya tipe penonton yang nonton karena "gampang ketipu trailer" dan bukan penonton yang segitunya cuma mau nonton western, cuma mau nonton artis anu, ini, itu, de el el.

Sebelum aku mulai, mungkin aku mau memperingatkan, resensi ini mungkin bermanfaat, tapi lebih besar kemungkinan tidak bermanfaatnya. Kenapa? 
1. Aku bukan ahli film dan ga ngerti sama sekali teknik pengambilan gambar atau apa, selama menurutku aku tersentuh, aku bilang bagus.
2.  Aku sungguh bukan orang yang attention to detail, jadi aku sampai sekarang sering ketuker nyebut Milea (Dilanku 1990) dengan Milly (AADC).

Eh btw, ternyata pemerannya emang sodaraan lho! Ih aku kaget banget. Terus aku kaget mereka ternyata sodaranya Jevin yang anunya Rini itu lho. 

3. Aku akan lebih banyak ngomongin tentang apa yang kurasain waktu nonton film ini, instead membahas isi filmnya dan kualitas alur cerita ataupun apa itu, maaf, huhu, anaknya suka ngomongin perasaan.
4. Karena ini Ade Putri Aulia Wijharnasir, yang ga cuma namanya yang panjang, tapi ngomongnya juga. Niatnya cerita A, yang diomongin A sampai ZZ. A nya kebahas seupil doang. 

--------------------------- ini batas obrolan ngalor ngidul ------------------------

Jadi aku pertama kali nonton film ini, di hari penayangan pertama, sama mantan. Ya pokoknya gitu.

Ekspektasi pertamaku, kok judulnya aneh ya, tapi karena aku sudah lihat trailernya, dan yang aku suka, disini ada Dodit. Aduh, sungguh, Dodit itu lucu banget, dan kumel banget. Kenapa sih itu rambutnya dipotong gitu lho, apa mukanya discrub apa gimana gitu, di film lho ini Dit :( tapi lucu sih, ini daya tariknya.

Aku mulai nonton, bagian awal, lucu banget, langsung kebayang kalau aku jalan-jalan di Pasar Atum, terus dipanggil-panggil "Ce, ini ce, bajunya ce, cantik lho di Cece, kuenya Ce, dicoba juga, oiya donatnya dari kentang Ce, wuenak pol ce, cobaen dulu Ce, ndak papa Ce". Kan aku jadi ingin bertanya, "Bu, jadi Bu -nya jualan opo ae seh bu? Cek akehe ta lah bu, nanti donatnya numplek ke baju lho bu."

Jadi di film ini diceritakan Erwin (yang jadi si Ernest) dan Ko Yohan (ini lupa namanya siapa ya, difoto itu yang kiri sendiri lah pokoknya), mereka berdua anak dari Ko Afuk. Ko Afuk ini keturunan Tionghoa yang masih memegang teguh ajaran ajaran bisnis yang mantap dari leluhur, jadi beliau punya toko kelontong yang sukses, dan punya banyak karyawan. Erwin, anak bungsu dari Ko Afuk, kuliah di Sydney, sudah lulus, sukses jadi eksekutif muda di perusahaan ternama. Sumpah ini perusahaannya lucu banget. Bos dari Erwin, sungguh absurdity nya level Chiko sudah tidak paham lagi. Pemeran dari bos-nya Erwin, Asri Welas, tapi aku lupa siapa nama dia di film ya (?). 

Diceritakan ibu dari Erwin dan Ko Yohan sudah meninggal karena sakit, Ko Yohan hidupnya jadi berantakan, pakai narkoba, masuk penjara, meanwhile si Erwin, melampiaskan kesedihannya dengan belajar sampai bisa sekolah di Sydney, dan kerja di perusahaan bagus. Ko Afuk, kelihatan banget di film ini sangat kecewa sama Ko Yohan, Ko Yohan cuma fotografer, hidupnya susah, tapi istrinya cantik, cuma bukan Cina (pemerannya si Ardina Rasti? Eh apa Adinia Rasti? Lupa hehe). Kebalikannya, Ko Afuk, kelihatan sebangga, sesayang itu dengan Erwin, tapi ironisnya Erwin yang selalu dibanggakan selalu super sibuk dan susah meluangkan waktu untuk ayahnya, bahkan di malam natal (oiya, FYI, ini film ditayangkan di minggu-minggu natal, jadi memang temanya untuk film keluarga yang ditonton bersama waktu natal)

Sampai suatu ketika, Ko Afuk sakit, pingsan waktu makan malam bareng Ko Yohan di malam natal (ini makan malam yang dibatalkan Erwin, karena Erwin harus ke Singapore). Setelah banyak tawa dari awal film ini, dan perasaan tidak suka pada Erwin, serta kasihan pada Ko Yohan semakin menumpuk, akhirnya konflik dimulai. JEBRET. Ko Afuk minta Erwin jadi penerus tokonya, toko kelontong, jualan beras, kopi, gula, de el el. Erwin panik. Berantem sama pacarnya (si Gisel nih yang jadi pacarnya). Aku semakin sebal dengan Erwin, dan juga pacarnya, egois banget. Tapi kemudian aku mikir, memangnya kamu sudah jauh-jauh kuliah kesini, kamu mau disuruh pulang, melepaskan semua pekerjaan di "Singapore" dan jadi encik encik toko. Oke. Chiko ga jadi sebal dengan Erwin. Tapi aku masih sebal sama Natalie, si pacarnya Erwin. Tipe cewe sukses, karir sukses, dominan, dan baik sih, cuma....duh gitu deh. Pokoknya Chiko sebal.


Tapi tetap adegan ter-epic waktu Erwin ngotot bilang kalau bu Sonya (ini bosnya Erwin, si Asri Welas, YA ALLAH MAKASIH SUDAH INGAT NAMANYA SONYA IH TERNYATA), pasti ga izinin. Tiba-tiba scene berganti, dengan muka Bu Sonya segede itu aja, bilang Boleh dengan logat jawa super medok dan muka super mellow karena keingat orang tuanya, dan dia memberikan berbagai wejangan untuk Erwin agar berbakti ke ayahnya, jangan sampai menyesal, dan diakhiri dengan beliau memaksa Erwin menyanyikan OST Keluarga Cemara, yang ternyata Erwin ga hapal. (ini bohong banget, siapa sih yang ga tau OST Keluarga Cemara, siapaaaa?)

Ya singkat cerita, Erwin akhirnya boleh cuti 1 bulan penuh, untuk "masa percobaan" di toko Koh Afuk. Banyak kejadian selama 1 bulan ini, termasuk Ko Yohan yang marah, dan frustasi karena kenapa harus Erwin, kenapa dia ga pernah dianggap sama ayahnya sendiri, padahal dia dengan senang hati akan mengambil alih tokonya. Adegan bagian ini seru sih, Ko Yohan marah-marah, ngamuk, istrinya, Ayu, menenangkan. Ini baper banget scene ini. Dan dari scene ini aku belajar, ternyata pria memang butuh wanita, untuk menenangkan ya. Ciye.

Satu-satu konfliknya bermunculan di film ini, tapi sepertinya aku lebih tertarik untuk membahas apa yang kudapat dari film ini dibandingkan menceritakan alur ceritanya, jadi silakan ditonton sendiri ya. Oh iya ini link trailernya. Monggo diklik dan ditonton.



Kayaknya lebih mudah dipahamin kalau apa yang kurasain dan kudapat dari film ini kubuat dalam bentuk list. Lebih mudah dibaca, sepertinya.

1. Orang tua itu tetap manusia ya, gimana juga bisa kecewa, gimana juga meski bilangnya sayang sama kedua anaknya, tapi tetap keliatan lebih condong ke yang mana. Aku juga dua bersaudara, dan aku juga kadang ngerasa ayahku lebih condong ke siapa, ibuku ke siapa. Mungkin memang gitu. Tapi yang jelas, orang tua tetap sayang semuanya kok, cara menyampaikan dan menunjukkannya beda mungkin, ya mau gimana lagi, anaknya sendiri juga dua entitas yang berbeda.

2. Erwin, dia hebat, dia bisa menghadapi kesedihannya ditinggal ibunya dengan baik, berkuliah dengan baik, sukses, bekerja dengan baik, bertanggung jawab ke dirinya sendiri, tipe anak baik, kebanggaan orang tua. Mungkin selama ini aku selalu berusaha jadi "Erwin" untuk orang tuaku. Aku berusaha untuk sukses dengan caraku, cara yang kubisa, dan kusuka. Tapi ternyata, orang tua ga cuma butuh anaknya punya gelar tinggi, berpenghasilan tinggi, tapi orang tua juga butuh anaknya pulang. Pulang ke rumah dimana dia dibesarkan.

"Seberguna apapun kamu untuk masyarakat luas, seberhasil apapun kamu diluar sana, tapi jangan pernah lupa, kemana kamu harus pulang" - Sahabat


3. Ko Yohan, dia juga hebat, sama hebatnya dengan Erwin. Tapi dia ga lulus kuliah, dia juga dulunya Napi, dia kena narkoba. Kalau dulu, aku mungkin akan bilang Ko Yohan ini payah, ga hebat, tapi dia baik. Dia sayang ibunya, dia menghormati ayahnya, dia gentleman. Ada satu scene yang aku suka, jadi suatu hari, mantan Ayu, yang kaya raya, datang untuk menawarkan bantuan untuk mewujudkan mimpi Ayu punya bakery sendiri. Ekspektasiku sebagai penonton, dengan kondisi Ko Yohan yang lagi stres, tertekan, harga dirinya sebagai kakak sudah "terinjak" karena "tidak dipercaya" ayahnya sendiri, tidak punya pekerjaan tetap, dan mantan Ayu datang untuk mencoba mendekati Ayu lagi, dan segala macam kondisi yang tidak enaklah. Aku pikir Ko Yohan akan marah, ngamuk, blablabla. Ternyata di luar ekspektasiku, dia cuma tersenyum dan bilang, "Ayu, punya bakery sendiri itu mimpi kamu. Aku, suami kamu, yang bekewajiban untuk mewujudkan mimpi kamu, bukan orang lain. Biar aku ya yang mewujudkan mimpi kamu."
Semacam inilah dialognya, aku sedikit lupa, tapi......IH LELEH DEDEK. Ya aku jadi mikir, ternyata masalah-masalah begini bisa diselesaikan dengan baik, "tarik" lah wanita itu dengan cara yang tepat. 

4. Ayu, di sepanjang film dia memang tipe istri teladan. Jujur, selesai nonton film ini aku ingin jadi wanita seperti Ayu. Sabar, selalu tersenyum meskipun mertuanya "kurang suka" dengan dia, loyal, bisa memberikan kasih sayang yang baik ke suaminya, bijak, duh bagus lah. Entah kenapa, dengan lihat si Ayu ini, aku jadi berpikir, ternyata hubungan memang soal kompromi ya. Bukan berarti dia tidak boleh punya mimpi kok, tapi gimana dia kompromikan mimpinya dengan pasangannya. Btw, aku selalu insecure dengan pernikahan hahaha. Kalau aku sudah menikah, nanti jangan-jangan aku sudah tidak bisa mengejar mimpiku. Tapi ternyata, tidak semenakutkan itu kok. Ya mungkin sih, aku ga tahu. Tapi intinya, aku suka banget karakter Ayu disini, bikin aku tahu, jadi wanita yang lebih baik untuk pasangannya itu bagaimana. Cie Chiko. 

5. Natalie, awalnya aku sebal dengan Natalie. Dia terlihat seperti cewe egois, kaya, sukses, dominan. Tapi ternyata sampai suatu scene, Erwin marah dengannya, Natalie pergi bertemu Ayu. Aku mulai bisa mengerti sudut pandang dia, dan ya aku suka bagaimana Natalie akhirnya membulatkan tekad dia akan mengalah dan mencoba meminta maaf ke Erwin. Dude, mari kita akui, seringnya wanita malu mau minta maaf duluan kan. Tapi ya, terkadang butuh kok, sebutuh itu kita sadar kita salah. Pasal Wanita selalu benar itu tidak selalu berlaku. Kecuali lagi PMS.

6. Aku suka bagaimana film ini menyisipkan komedi dengan baik, dan plotnya keren aja, pelan-pelan emosi kita dibawa untuk menjadi sedih, makin sedih, lebih sedih, air mata menggenang, JEBRET tiba-tiba jokes lucu keluar dan scene berubah. Sial. Tapi untuk aku pribadi, ini yang bikin aku ga ngerasa ingin cepat keluar dari bioskop. Emosiku naik turun, aku senang, aku sedih, aku senang lagi, aku sedih lagi, gitu  terus aja sampai aku pulang. 

7. Aku suka ending dari film ini, semua masalah terselesaikan dengan baik, sampai masalah-masalah percintaan tidak penting antara pegawai toko Koh Afuk dan toko sebelahnya (aku lupa apa ya namanya?). Bahkan termasuk behind the scene nya super seru, lucu, aku suka.

8. Soundtrack nya bagus, GAC dan Overtunes. Bayangkan, suara mereka bagus, liriknya bagus, dan sesuai dengan alur ceritanya. Setiap adegan didukung dengan baik oleh setiap lagunya. Kayaknya baru ini film yang semua OST nya langsung aku download begitu aku sampai rumah. Semuanya aku download

9. Aku menemukan banyaaak sekali pesan moral di film ini, bahkan sampai adegan sekecil apapun. Bahkan cuma dari adegan toko sebelah Ko Afuk yang pemiliknya orang muslim, dengan toko Ko Afuk. Bagaimana beliau berusaha membantu Ko Afuk untuk mempertahankan tokonya, dan meskipun adegannya dibungkus dalam komedi, aku bisa menangkap pesan moralnya, kalau, terus kenapa kalau dia Cina? Ya mengingat baru-baru saja isu Cina-pribumi kembali mencuat.

10. Aku juga belajar bagaimana Ko Afuk sangat menghargai toko yang didirikan bersama istrinya, bagaimana dia mengakui kalau tanpa istrinya hidupnya berantakan. Disini aku jadi belajar, ternyata benar ya kata orang-orang, bagaimanapun, sekuat apapun pria, dia butuh wanita yang baik di sisinya. Dan ya aku jadi bisa melihat juga bagaimana menjadi wanita yang baik disini.

11. Dan akhirnya aku tahu, kenapa aku suka sekali film ini. Karena dari sini, aku belajar melihat banyak sekali sisi yang baru. Aku belajar melihat sudut pandang dari berbagai jenis orang. Orang-orang yang kutemui di keseharianku. Aku jadi menemukan hal baru. Aku jadi lebih belajar mengerti orang lain.


Sebenarnya aku masih punya banyak hal yang mau kukomentarin dari film ini, lebih  tepatnya aku menceritakan apa yang kurasakan dan kupikirkan dari film ini. Aku ga tahu, kamu juga begitu atau cuma aku. Jadi, aku mudah sekali, tepatnya sering sekali, menyadari suatu hal tentang kehidupan ini, dari interaksiku dengan orang lain, dari film, dari lagu, dan isi otak ku penuh dengan hal-hal begini. Dan aku merasa butuh berdiskusi dengan orang lain, setidaknya bercerita. Karena itu, aku juga merasa butuh bercerita apa yang kupikirkan dan kudapatkan dari film ini. Jadi yang kudapatkan dari film ini mungkin bisa kurangkum jadi seperti ini.


"Cinta itu bukan cuma tentang pasangan, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitarmu, orang-orang di sekitarmu, rekan kerjamu, dan juga bahkan orang yang bukan siapa-siapa kamu. Cinta yang tulus itu bukan cinta yang diomongkan ataupun ditunjukkan. Cinta yang  tulus itu cinta yang berusaha mengerti meskipun dia tahu itu susah dimengerti. Cinta yang tulus itu cinta yang tahu kapan waktunya meminta maaf dan kapan waktunya memaafkan dan juga kapan waktunya membiarkan. Cinta yang tulus itu susah untuk disampaikan, dan memang diciptakan untuk dirasakan, tidak dalam waktu yang cepat, tapi dalam waktu yang tepat."


No comments:

Post a Comment