Coba kita lihat, bagaimana film Dilan 1990 semenakjubkan itu untuk banyak wanita. Bahkan juga pria. Gerombolan orang keluar dari dalam bioskop, dengan senyum malu-malu. Bukan, aku bukan ingin memberikan review tentang film Dilan, mungkin nanti, bukan sekarang, aku masih malas dan memilih untuk menghabiskan waktu menontonnya ulang dibandingkan menulis review.
Cuma aku jadi terpikir untuk menuliskan beberapa shortalks yang aku lamunkan. Entah inspirasinya darimana, dari kejadian nyata, dari film, dari anime, atau bahkan dari hasil menguping omongan orang di jalan. Menurutku, setelah melihat fenomena Dilan, aku sadar ternyata manusia butuh diberi momen manis. Kalau bahasa zaman sekarang, momen baper. Cuma supaya bisa senyum-senyum sendiri, atau jadi modal menyenangkan lawan jenis.
Sepertinya, pengantarnya cukup sampai disini, sekarang aku mau nulis salah satu shortalks yang ada di dalam otakku, sebagai inspirasi dan juga memori.
X : Kamu tahu ga?
Y : Tahu apa?
X : Aku ga suka cowo yang merokok. Aku ga suka bau asapnya.
Y : Eh? Ya ampun maaf. Aku jauhin kursiku ya. Maaf aku ga tahu.
X : Kecuali kamu. Baumu enak ya.
Y : Hah? Enak gimana? Memang aku kue?
X : Baumu enak. Bau rokokmu enak. Dan lagian, kamu selalu jauhin asap rokokmu dari aku kok. Terima kasih ya.
Y : Ga usah nyindir deh.
X : Beneran kok. Kamu lagi berusaha sok keren ya? Tapi berhasil kok, aku biasanya ga pernah bilang cowo merokok itu keren. Tapi sekarang kamu lagi keren.
Y : .....
X : Kamu salting ya? Hahahaha. Payah. Biasanya juga selalu bilang kamu memang keren. Memang ganteng.
Y : Emang ganteng.
X : Iya, rambutmu udah panjang, kalau kamu sibakin rambut kayak tadi, kamu ganteng kelihatannya.
Y : .....
X : Kok diem? Masih salting? Hahahaha. Aku terusin ya. Mukamu lucu kalau begini, salting. Sukurin.
Y : .....
X : Apa sih?
Y : .....
X : Apa sih senyum-senyum gitu.
Y : Sekarang kamu yang salting kan?
X : Ga kok. Apaan sih?
Y : Yakin ga salting?
X : Yakin.
Y : Yasudah. Coba majuin kursinya, jauh banget kamu duduknya.
X : Ga mau ah.
Y : Tukan salting.
X : Ga kok. Nih aku mau majuin.
Y : Kamu kalau bertopang dagu begitu, ngikat rambut ke belakang begitu, cantik.
X : Terus?
Y : Ya cantik. Aku lagi menikmati wajahmu kan, makanya aku senyum-senyum. Aku suka.
X : Hebat ya aku, terusin aja coba.
Y : .....
X : Kalau aku senyum begini makin cantik tidak?
Y : Sini lebih dekat coba.
X : Ga bisa, kepentok.
Y : Wajahmu. Sini deketin. Berani ga?
X : Berani. Aku ga akan salting.
Y : Yaudah sini.
X : Iya.
Y : Senyum kayak tadi lagi dong sambil bertopang dagu.
X : Nih sudah.
Y : *cekrek*
X : Eeeeeeeeeeh ngapaaaaiiiin??? Sini in handphonenya. Apa sih? Kok difoto? Dekat banget lagi.
Y : Hahahahahahahaha. Wajahmu besar banget.
X : Hapus! Mana sini.
Y : Ga. Ga akan.
X : Sini! Hapus. Lagian buat apa sih juga, iseng banget.
Y : Buat penyemangat.
X : Hah?
Y : Aku ga bohong.
X : Yang mana? Yang buat penyemangat?
Y : Yang mana saja, yang mana saja dari semua kalimatku tadi yang mau kamu percaya.
x






