Wednesday, July 11, 2018

Shortalks Number 1

Coba kita lihat, bagaimana film Dilan 1990 semenakjubkan itu untuk banyak wanita. Bahkan juga pria. Gerombolan orang keluar dari dalam bioskop, dengan senyum malu-malu. Bukan, aku bukan ingin memberikan review tentang film Dilan, mungkin nanti, bukan sekarang, aku masih malas dan memilih untuk menghabiskan waktu menontonnya ulang dibandingkan menulis review. 

Cuma aku jadi terpikir untuk menuliskan beberapa shortalks yang aku lamunkan. Entah inspirasinya darimana, dari kejadian nyata, dari film, dari anime, atau bahkan dari hasil menguping omongan orang di jalan. Menurutku, setelah melihat fenomena Dilan, aku sadar ternyata manusia butuh diberi momen manis. Kalau bahasa zaman sekarang, momen baper. Cuma supaya bisa senyum-senyum sendiri, atau jadi modal menyenangkan lawan jenis. 

Sepertinya, pengantarnya cukup sampai disini, sekarang aku mau nulis salah satu shortalks yang ada di dalam otakku, sebagai inspirasi dan juga memori.


X : Kamu tahu ga?
Y : Tahu apa?
X : Aku ga suka cowo yang merokok. Aku ga suka bau asapnya.
Y : Eh? Ya ampun maaf. Aku jauhin kursiku ya. Maaf aku ga tahu.
X : Kecuali kamu. Baumu enak ya.
Y : Hah? Enak gimana? Memang aku kue?
X : Baumu enak. Bau rokokmu enak. Dan lagian, kamu selalu jauhin asap rokokmu dari aku kok. Terima kasih ya.
Y : Ga usah nyindir deh.
X : Beneran kok. Kamu lagi berusaha sok keren ya? Tapi berhasil kok, aku biasanya ga pernah bilang cowo merokok itu keren. Tapi sekarang kamu lagi keren.
Y : .....
X : Kamu salting ya? Hahahaha. Payah. Biasanya juga selalu bilang kamu memang keren. Memang ganteng. 
Y : Emang ganteng.
X : Iya, rambutmu udah panjang, kalau kamu sibakin rambut kayak tadi, kamu ganteng kelihatannya. 
Y : .....
X : Kok diem? Masih salting? Hahahaha. Aku terusin ya. Mukamu lucu kalau begini, salting. Sukurin.
Y : .....
X : Apa sih?
Y : .....
X : Apa sih senyum-senyum gitu.
Y : Sekarang kamu yang salting kan?
X : Ga kok. Apaan sih?
Y : Yakin ga salting?
X : Yakin.
Y : Yasudah. Coba majuin kursinya, jauh banget kamu duduknya.
X : Ga mau ah.
Y : Tukan salting.
X : Ga kok. Nih aku mau majuin.
Y : Kamu kalau bertopang dagu begitu, ngikat rambut ke belakang begitu, cantik. 
X : Terus?
Y : Ya cantik. Aku lagi menikmati wajahmu kan, makanya aku senyum-senyum. Aku suka.
X : Hebat ya aku, terusin aja coba. 
Y : .....
X : Kalau aku senyum begini makin cantik tidak?
Y : Sini lebih dekat coba. 
X : Ga bisa, kepentok.
Y : Wajahmu. Sini deketin. Berani ga?
X : Berani. Aku ga akan salting.
Y : Yaudah sini.
X : Iya.
Y : Senyum kayak tadi lagi dong sambil bertopang dagu.
X : Nih sudah.
Y : *cekrek*
X : Eeeeeeeeeeh ngapaaaaiiiin??? Sini in handphonenya. Apa sih? Kok difoto? Dekat banget lagi.
Y : Hahahahahahahaha. Wajahmu besar banget.
X : Hapus! Mana sini.
Y : Ga. Ga akan. 
X : Sini! Hapus. Lagian buat apa sih juga, iseng banget.
Y : Buat penyemangat. 
X : Hah?
Y : Aku ga bohong.
X : Yang mana? Yang buat penyemangat?
Y : Yang mana saja, yang mana saja dari semua kalimatku tadi yang mau kamu percaya.


x

Friday, April 13, 2018

Day 3

"What are your top three pet peeves?"

Pet peeves. Hal-hal yang paling menggangu. Paling annoying. Iya chik, itu translate an doang, ngapain ditulis ulang sih.   

Aku sudah cerita kemarin, aku orang yang gampanga adaptasi. Dan benar-benar bisa jadi orang yang beda. Hhhmm...se simple dulu buat aku cuaca panas Surabaya dan asap rokok tidak se menyebalkan itu. Sekarang, cuaca panas pliket-pliket nya Surabaya ini lho, membuat ku ingin mengucapkan sederet versi dari an----. Asap rokok yang rasanya ini kok makin nambah-nambahin rasa panas, bikin pengen arahin kipas angin gitu biar asapnya ke mereka. Jadi first pet peeves aku saat ini.

Cuaca panas pliket-pliket dan asap rokok yang terjadi bersamaan. Ih monggo deh kalau mau terjadi salah satu, tapi jangan jogres. Sungguh, aku ingin shalat taubat rasanya, siapa tau, lebih adem.


Ini foto di atas, exposure nya mentok super silau kayaknya. Hampir ga ada awan. Super biru. Bagus sih buat foto. Bagus banget. Tapi....., pliket nya itu lho. Oiya, aku lupa, tau ga pliket ga ya orang-orang ini? pliket adalah ungkapan untuk menggambarkan badan yang lengket-lengket minyak keringat nyebelin pengen nyebur rasanya. Ya pokoknya begitulah ya. Intinya saat ini cuaca panas dan asap rokok benar-benar top pet peeve ku. Belum ada yang mengalahkannya.

Orang yang nyerobot antrian dan buang sampah sembarangan di depanku. Ih ya ampun. Sebagai kaum yang selalu kalah dalam antrian dan tidak bisa marah balik, aku selalu ngerasa paling terganggu kalau ada yang tiba-tiba nyerobot antrian. Apalagi jujur, semenjak pulang dari Jepang, negara yang dimana-mana antri dan bahkan antrian masuk Harry Potter Attraction di USJ itu 2 jam an dan bisa ngebikin aku memandang semua antrian sekarang itu super pendek dibandingkan ini, tapiiiiii tetap saja. Kenapa sih suka nyerobot antrian.

Oiya. Terus aku ini super sebal kalau ada orang yang buang sampah sembarangan. Apalagi orang yang buang sampah puntung rokok sembarangan sambil naik motor ataupun mobil. Ih ingin sekali rasanya mungut terus dibalikin. Bahaya. Pengen ngeplak kepalanya, tapi takut :( . Nanti dikeplak balik. 

Orang yang kalau marah atau nyampein sesuatu kebanyakan kode, dan diberikan di saat yang tidak tepat. Ini beneran tergantung situasi. Buat aku, ternyata menyenangkan juga kadang nebak-nebak maunya orang lain gimana, lagi marah atau ga, ngambek atau ga. Tapi, kalau terlalu banyak dan malah menghambat komunikasi, ini mulai menyebalkan daaaa....n, menuntut ke-stuck-an komunikasi (?). Ya begitulah ya bahasanya. Pokoknya maksud aku, komunikasinya jadi buntu, masalah bukan makin selesai, malah makin ribet, karena si anu ngiranya apa, si itu ngiranya apa. Yah. Ini perkara tabiat, sifat, dan pola komunikasi. Mungkin aku masih butuh berlatih mengerti orang sih. Ya ini berarti si pet peeve yang bersifat tentatif.

Sebenarnya akhir-akhir ini, sejak kembali ke Indonesia 2 minggu lalu, banyak sekali yang mendadak menjadi terasa sangat mengganggu dan menyebalkan. Sekalian lah curhat disini. Banyak yang bilang begini sebelum aku pulang,

"Chiko, kalau pulang dari Jepang, hati-hati ya dengan reverse culture shock nya." 

Yah. Aku tahu kalau akan ada yang namanya reverse culture shock , tapi aku baru tahu kalau efeknya ternyata se-mengganggu ini. Dimulai dari cuaca yang mendadak dari winter ke super panas, lengket, lembab, polusi nya Surabaya. Sampai ke macet, makanan, dan orang-orangnya.

Sebenarnya di challenge cuma diminta tiga ya. Tapi ini aku mau tuliskan deh hal-hal yang terasa mengganggu semenjak aku pulang dua minggu yang lalu.

1. Cuaca yang panas dan lembab
2. Udara yang polusi
3. Bau asap rokok
4. Suara orang ngomong dengan suara keras dan teriak-teriak
5. Fasilitas umum yang penuh coretan dan rusak disana sini
6. Toilet yang kotor dan susah dicari
7. Obrolan dengan orang-orang yang tidak nyambung dan gap  yang terjadi
8. Cara kuliah di Indonesia yang harus diadaptasikan lagi
9. Pengurusan berkas yang lamaaaaaaaa dan lelet dan ribet
10. Sampah yang berserakan
11. Orang-orang yang suka merokok dan buang puntung rokok sembarangan
12. Orang-orang yang setelah selesai makan tidak dibereskan dan dibiarkan di meja dan berantakan
13. GA TEPAT WAKTU, yang molornya bisa 1-2 jam, NYEM. Gemes. Tapi yasudahlah.


Dan sebenarnya ada beberapa hal lain. Tapi tetap saja, hidup di Indonesia menyenangkan kok. Dan menurutku ini hanya perkara aku harus beradaptasi lagi. Aku coba berbagai cara untuk beradaptasi dengan cepat selama 2 minggu ini. Aku pikir, aku harus menyibukkan diri dan menghabiskan banyak waktu untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Lompat dari satu rapat ke rapat lain. Main dari satu geng ke geng lainnya.

TERNYATA EFEKTIF. Akhirnya aku mulai bisa adaptasi dan lebih sabar menghadapi berbagai orang disini. Setidaknya aku bisa menerima. Tapi tetap satu hal yang masih belum bisa kutangani.

Surabaya ini kenapa jam 1 malam aja real feel temperaturenya 31 derajat dengan kelembaban 85%.  

Chiko harus apa ya Tuhan? :( Masa pindah ke Malang.



Thursday, April 12, 2018

Day 2

Hari kedua. Masih di tempat yang sama dengan kemarin. Hanya bergeser lantai saja. Jam yang berbeda juga. Tapi masih di suhu yang sama dan juga dengan chiko yang sama, yang masih mempertanyakan, kenapa bisa Surabaya sepanas ini.

Kemarin aku sudah tulis di post sebelumnya yang ada di sini , apa saja yang harus kutulis selama 30 hari ini. Hari ini temanya sedikit susah menurutku, tapi menarik. 

"Write something that someone told you about yourself that you never forget."
Oke. Mari dimulai saja.

Aku punya teman baik. Beberapa teman baik yang sebenarnya baru-baru saja aku kenal. Mereka saling kenal satu sama lain, dan aku juga sering kok ngobrol dengan mereka, tepatnya beberapa dari mereka. Sampai suatu hari, salah satu dari mereka bilang gini.

"Chiko. Kamu itu anaknya adaptable, baik, cepat adaptasi. Tapi kamu suka ikut-ikutan orang lain ya? Bagus sih, kamu jadi mudah adaptasi. Tapi lucu aja, kelihatan kamu mudah niru orang lain, nyoba samain hobimu, hal yang kamu suka."

Hhhmm...ya sebenarnya tidak pas seperti itu sih kalimatnya. Tapi ya kurang lebih begitulah yang kutangkap. Aku beneran baru sadar pas dia bilang gitu. Aku baru sadar. Aku gampang bergaul dengan banyak orang dan seringnya cara aku adaptasi "agak" bahaya. Aku dengarkan, serap, semua hal baru, kebiasaan baru, nilai-nilai baru, dan tanpa sadar aku lakukan setiap hari. Meski lama kelamaan aku akan mensortir sendiri, kebiasaan mana yang cocok dengan aku mana yang tidak.

Orang ini juga yang bilang, kalau aku tidak perlu minum kopi hanya cuma biar aku bisa mengiyakan temanku saat pergi ke kedai kopi. Orang ini juga yang bilang tidak ada yang salah kalau aku hapal banyak karakter anime tapi aku tidak tahu kalau More Than Words itu lagu Westlife ternyata. Orang ini juga yang bilang kalau ini hanya perkara preferensi. Dan juga orang ini yang memang tidak pernah nyambung ngomongin minat denganku. Minat kita terlalu beda. Entah gimana ceritanya bisa berteman ya.

Dari kalimatnya ini, aku jadi makin berusaha mengenal diriku sendiri. Aku mulai belajar mendengarkan pendapat orang tentang diriku. Aku mulai ikut tes psikologi online, dari yang serius sampai yang tidak serius. Aku mulai bisa mengerti dan bilang ke orang lain kalau aku bukan penghapal lirik yang baik, aku bukan orang yang tahu ini lagu siapa, lirik yang mana, dan lagu jaman kapan. Aku juga bukan orang yang bisa ingat kalau si A itu adalah orang yang sama dengan si B di suatu film. Aku juga bukan orang yang tahu dengan baik bisa menjelaskan apa bedanya pedasnya cabe dan wasabi. Aku juga bukan orang yang bisa menulis dan bercerita dengan baik. Aku juga bukan orang yang tahu jalan cerita stars wars. Aku juga bukan orang yang bisa hapal, novelis ini selalu menulis buku tentang ini. Aku juga bukan orang yang tahu, sepatu merk ini itu harganya berapa.

Dan pelan-pelan aku sadar, oiya aku orang yang tahu kalau Sungmin nya Super Junior itu dulu suka pakai topi bolong atasnya, aku orang yang tahu kalau "pacaran" sama faker itu gimana, aku juga orang yang tahu kalau lagu Tada Mae E nya Hey!Say!Jump itu sebagus apa, aku juga orang yang tahu kalau berjoget bersama Kumamon di depan umum itu menyenangkan, aku juga orang yang tahu kalau berlari ke ayunan dan main ayunan di taman sendirian itu hal yang menyenangkan, aku juga orang yang tahu kalau film Indonesia sekarang banyak yang bagus, aku juga orang yang tahu kalau kebocoran minyak itu maksimal diizinkan seberapa banyak, aku juga orang yang tahu kalau Miiko naik kelas 6 di buku jilid nomor 29.

Aku makin sadar. Oh iya. Semua ini hanya preferensi. Semua ini hanya tentang aku tahu seberapa banyak yang hal aku minati dan ingin ku tahu. Semua ini hanya tentang aku bisa menyerap informasi dan mengingat semua detailnya. Semua ini juga hanya tentang seberapa aku mengenal dan menerima diriku sendiri.

Pelan-pelan aku mulai mengerti diriku sendiri. Aku mulai mengerti passionku dan apa yang ingin kulakukan di hidupku. Aku mulai tahu apa saja yang membuatku bahagia. Aku bertekad untuk setidaknya mengerti satu hal dari diriku sendiri setiap harinya. Dan hal baru yang kupahami tentang diriku sendiri hari ini adalah...

Aku senang berbicara dengan orang lain, aku mendapatkan energi dari berbicara dengan orang. Tapi bukan untuk didengarkan ataupun seperti berjualan. Ternyata aku lebih nyaman saat aku melakukan deep talk , berdiskusi tentang pendapatku, mendengarkan pendapat orang lain tentang hal itu, menyocokkannya dengan yang kupahami, dan memberikan pendapatku kembali. Singkat kata. Konsultasi. 

Aku suka saat orang lain berkonsultasi ataupun saat aku berkonsultasi dengan orang lain. Aku mau didengarkan pendapatku oleh orang lain.

Oh iya ada hal lain yang aku sadari sekarang. Baru saja. Sesaat setelah aku mengetik kalimat diatas.

Aku rindu. Rindu banyak hal. Termasuk rindu duduk di suatu tempat, berbicara banyak hal dengan seseorang, dari se sederhana Chopper nya One Piece itu lucu banget sampai seberat jadi ini Prabowo di 2019 bakal gimana di Pilpres.

Ya aku rindu aja sih. Rindu momennya.






Wednesday, April 11, 2018

Day 1



Dua hari lalu. Apa tiga hari lalu ya. Pokoknya segitu lah ya. 

Aku baca salah satu tweet dari temanku di twitter. 30 Day(s) writing chalennge. *harusnya itu pake s deh judulnya. Huft gemash. Okay. Whatever.

Jadi intinya, kok ini terlihat menarik dan bisa dipakai untuk mengisi waktu menulis di blog. 
Aku itu tipe yang suka ngobrol, suka cerita, tapi bukan penulis dan storyteller yang baik. Cerita ku pasti loncat kesana kemari. Tidak ada alurnya. Bahasanya ngaco. Hahahaha. Rencanaku untuk mengisi blog ini dengan beberapa label baru saja masih tertunda-tunda, sama ditundanya dengan kamar yang belum kunjung diberesin dari sampai ke Indonesia 2 minggu lalu. Hih.

Jadi aku berencana dengan tantangan ini akan rajin update setiap hari untuk menjawab tantangan ini. Sekalian nambah-nambahin isi blog ini lho yang tidak konsisten terisi ini. Sekalian juga mencari pelampiasan untuk anak ENFP ini yang selalu butuh cerita soal pemikiran-pemikiran gejenya. Oke, sekarang waktunya mulai menjawab tantangan nomor satu. 

"List 10 things that make you really happy"

Hal bahagia ya? Ada banyaaaak banget, bahkan lebih dari 10. Tapi ini aku list 10 hal yang sejauh ini bisa aku ingat memberikan rasa bahagia sampai aku berkaca-kaca ataupun refleks teriak dan lompat. Hal-hal bahagia yang bahkan sampai aku menuliskan satu baris kalimat tentang itu, memicu senyuman dan ucapan Terima Kasih Ya Tuhan atas semuanya.


Aku rasanya pengen cerita detail semua nya satu persatu. Tapi kayaknya terlalu panjang malas. Jadi aku cuma beri beberapa foto dan video dulu. Semoga aku bisa cepat cerita betapa senangnya aku.


1. Lihat holo motion di Tokyo Disneyland


Aku nonton dan ngerekam ini sambil ngusap air mata. Aku seneng banget. Seneng. Seseneng itu. Aku suka cahaya. Aku suka pertunjukan cahaya. Aku seneng banget.




2. Masuk wahana VR roller coaster di Harry Potter Universal Studio Japan.


Ini pertama kali aku keluar dari roller coaster, nangis karena seneng banget. Seneng banget. Seseneng itu. Roller coaster terkeren yang pernah aku naikin. Aku ga tahu harus seberapa kenceng aku teriak untuk nunjukin aku seseneng apa.


3. Lihat sunrise di Bromo pertama kali 




4. Nerima chat dari orang yang ga diduga tapi di saat yang tepat.


Pengen screenshot terus pamer yang chat siapa sih sebenarnya. Tapi malu


5. Diterima student exchange ke Jepang.


Pengen screenshot terus pamer yang chat siapa sih sebenarnya. Tapi nanti dikira sombong


Jadi hari itu, bangun tidur, buka email. Isinya diterima student exchange ke JEPANG. KYAAAAAAAAAAA. Ini beneran teriak yang KYAAAAA gitu. Pengen meluk orang. Tapi adanya cuma bantal. Yaudah. Langsung telpon banyak orang, kesenengan. Padahal lagi sebel mampus dari kemarin sama satu orang, eh ga jadi ah. Hehehe.



6. Dipeluk dan diusek kepalanya di saat yang tepat dan oleh orang yang tepat.


HUFT.


7. Duduk di bawah langit, lihat  bintang, ataupun lihat awan.





8. Lihat foto atau video dokumentasi pemandangan alam yang bagus.


9. Fireworks sesudah festival sekolah.


Aku selalu suka fireworks. Bagaimana bisa berbagai zat kimia disulap menjadi pertunjukan cahaya seindah dan sememukau itu. Tapi fireworks sesudah festival sekolah yang sangat melelahkan dengan semua persiapan dan drama di dalamnya, memang tidak ada yang bisa mengalahkan semua rasanya ini. 


10. Teriakan dan pelukan bahagia setelah sukses jadi panitia dari suatu acara.


Keindahan fireworks yang diatas. Juga sepaket dengan indahnya pelukan dari semua panitia dan pengunjung yang penuh tawa karena bahagia. Bahkan mengetik ini aja benar-benar membuat ku tersenyum lagi mengingatnya. 






Sekali lagi. Terima kasih ya Tuhan untuk semua kebahagiaan kecil dan besar yang selalu datang setiap hari.

Monday, April 9, 2018

Terima Kasih - Friendly Reminder for Myself

Tuhan.

Terima kasih sudah memberikan saya kesehatan untuk selalu bisa menikmati hari-hari saya.
Terima kasih saya diizinkan untuk mengenal banyak orang baru yang menjadi orang-orang terdekat saya sekarang.
Terima kasih mengembalikan teman-teman lama lagi ke hidup saya.
Terima kasih mengajarkan saya bahwa apa yang saya mau bukan berarti yang terbaik dan di waktu yang baik.
Terima kasih mewujudkan mimpi terbesar saya dan deretan bucket list yang hari demi hari saya coret karena tercapai.

Tuhan.

Terima kasih selalu mengabulkan doa-doa saya dengan cara yang tak terduga.
Terima kasih selalu dan tidak pernah berhenti mengingatkan saya untuk menjadi orang yang baik.
Terima kasih telah menunjukkan pada saya, yang pergi akan diganti.
Terima kasih telah melancarkan semua kegiatan dan hal-hal yang saya ingin lakukan sampai hal yang terkecil.

Tuhan.

Terima kasih memberikan saya kesempatan untuk menjalani hari di Jepang selama 6 bulan dengan baik.
Terima kasih mengenalkan banyak sahabat baru kepada saya.
Terima kasih telah mengenalkan banyak guru dan keluarga baru.
Terima kasih telah mengajarkan banyak nilai kehidupan kepada saya selama disana, melalui perantara berbagai orang.
Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk mengembangkan diri dan memiliki banyak kenangan disana.
Terima kasih telah mengajarkan saya untuk menjadi semakin dewasa dan belajar menangani banyak masalah dan belajar bagaimana berdamai dengan banyak hal.


Tuhan.

Terima kasih bahkan sampai ke kepulangan saya kembali ke Indonesia, saya bertemu dengan sangat banyak orang baik. 
Terima kasih engkau selalu menemukan cara untuk membuat saya tetap tersenyum.
Terima kasih untuk semua mimpi yang semakin terasa nyata.
Terima kasih untuk semua senyum dari banyak orang yang saya terima.
Terima kasih untuk kasih sayang yang saya rasakan ataupun tidak saya rasakan.
Terima kasih selalu menunjukkan jalan kemana saya harus pulang.


Tuhan.

Terima kasih banyak. 
Terima kasih banyak atas semua hal yang sudah diberikan.
Terima kasih banyak atas keberadaanmu yang sudah saya percaya.

Tuhan.

Terima kasih banyak untuk pemandangan sangat indah ini di perjalanan pulang saya. 
Terima kasih banyak untuk pemandangan sangat indah ini yang tidak pernah mengecewakan.
Terima kasih banyak untuk warna biru yang belum pernah menyedihkan.